2
The House of Languages
Hari Valentine tahun ini jatuh pada hari Minggu. Bisa dipastikan tamu-tamu yang mengunjungi restoran membludak dua hingga tiga kali lipat dari hari-hari biasa. Selain nonton bioskop, muda-mudi di Surabaya suka merayakan hari kasih sayang dengan makan malam berdua bersama pasangan sambil mengobrol santai di restoran.
Ichiban Japanese Restaurant telah mengantisipasi hal ini. Dari 30 meja yang ada di lantai 1, pemilik restoran menambah 10 meja lagi di balkon lantai 3 yang terbuka. Sepuluh meja ini menggunakan kompor portabel yang bahan bakarnya bisa diisi ulang setiap saat. Seperti tahun-tahun sebelumnya para tamu lebih menyukai meja di lantai 3 karena langsung beratapkan langit sehingga temaram sinar bulan dan kelap-kelip bintang di langit menambah suasana romantis makan malam mereka. Tentu saja kalau sedang tidak hujan sebab kalau hujan turun akan didirikan tenda sementara di balkon ini. Jam kerja pegawai ditambah beberapa jam sebagai kerja lembur. Di luar tugas utama masing-masing, pegawai shift 1 diberi tugas tambahan mendekorasi ruangan dengan pernak-pernik Valentine yang serba pink dan membuat persiapan ganda untuk shift 2. Sementara itu pegawai shift 2 bertugas melayani keperluaan tamu-tamu yang datang sampai restoran tutup.
Di awal pergantian shift, Naila mengambil lebih banyak lipatan napkin. Selanjutnya ia mengecek botol-botol saus yang sudah terisi, garpu dan pisau steak, sumpit, mangkuk nasi, dan piring-piring kecil. Ia memastikan bahwa jumlahnya tidak akan kurang untuk keperluan sore sampai malam hari ini. Pada Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur Naila bekerja untuk shift 2, dari jam 2 siang sampai restoran tutup jam 10 malam. Di hari-hari kerja kalau ia tidak sedang mengambil jatah liburnya, Naila masuk ke shift 1, jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Sore harinya ia gunakan untuk kuliah. Di lantai bawah, tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Reservasi untuk acara perayaan Valentine sebuah perusahaan pelayaran baru saja selesai. Naila segera turun ke lantai 1 dan bergabung bersama teman-temannya, membersihkan meja, men-set-up ulang meja, dan melayani segala keperluan tamu.
Selepas Maghrib meja-meja mulai terisi. Beberapa tamu sudah ada yang bersantap di lantai 3. Seorang koki sibuk menambah dan mengisi kembali piring-piring display yang kosong. Seorang lagi sedang membuat fillet daging sapi dengan mesin pemotong. Mbak Siti, yang bertugas menyiapkan minuman dan buah, sedang memotong-motong semangka. Naila bergegas menyelesaikan makan malamnya dan kembali bekerja. Sepasang muda-mudi keturunan Tionghoa masuk ke restoran. Yang perempuan terlihat anggun dengan gaun hitam tanpa lengan sepanjang lutut. Tangannya memegang tas cantik berwarna hitam mengkilat. Sepertinya tas itu mahal dan bermerk terkenal. Yang laki-laki memakai celana bahan hitam dan kemeja lengan panjang bergaris-garis dari bahan sutera yang halus. Sepatunya juga mengkilat. Rambutnya ditata rapi. Tangan si nona cantik mengamit mesra lengan pacarnya. Naila mengantar mereka ke meja nomor 3 dan menyodorkan buku menu pada keduanya. Nona cantik ini seumuran dengan Naila. Ia memiliki segalanya, baju bagus, tas bermerk mahal, dan seorang kekasih yang menyayanginya. Di hati Naila masih saja terselip rasa iri meskipun sebenarnya pemandangan seperti ini sudah ia lihat berkali-kali. Jangankan punya kekasih, dekat dengan seorang laki-laki pun Naila belum pernah. Selama ini yang ada dalam fikirannya hanya belajar dan bekerja agar semua impiannya bisa terwujud. Agar ia bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarganya. Naila ingin, ia dan keempat adiknya bisa menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Andai saja bapaknya tidak meninggalkan mereka dan menikahi perempuan lain, ia tidak perlu bekerja sekeras ini. Ia pasti akan menikmati masa remajanya. Naila cepat-cepat menepis perasaannya dan segera mengantar kedua tamunya ke depan display Shabu-shabu dan Yakiniku.
Sesampainya di rumah kos Naila langsung masuk ke kamar mandi. Badannya pegal-pegal. Kakinya terasa sangat berat, mungkin karena tadi di restoran ia berkali-kali naik turun lantai 1 dan 2. Yang diinginkannya hanya segera membersihkan diri, sholat, dan tidur. Untunglah besok ia libur kerja sehingga bisa istirahat sepuasnya sebelum kuliah sore hari. Yuli, teman sekamarnya sedang sibuk mempersiapkan diktat-diktat kuliah ketika Naila masuk kamar.
“Baru pulang, La?”
“Iya, capek banget. Restoran penuh, biasa Hari Valentine. Nggak ke mana-mana tadi?”
“Nggak, lagi males. Eh, tadi ada yang nelpon cari kamu.”
“Siapa?” tanya Naila.
“Panggilan wawancara kerja. Tuh, aku catat di message box-mu.”
“Makasih ya.”
Naila mengambil kertas dari message box-nya. Wawancara penerjemah di The House of Languages. Jl. Nginden Semolo No. 20, jam 10 pagi, menemui pak Erick atau pak Rifki. Alhamdulillah, wawancara kerja lagi. Kali ini posisi penerjemah. Naila tersenyum, teringat lamaran yang ia kirimkan seminggu lalu. Iklannya agak besar dan dimuat di koran Sabtu, bukan iklan baris biasa. Pasti perusahaannya lumayan besar. Meskipun sebelumnya selalu gagal, Naila tidak mau berhenti berusaha. Mudah-mudahan besok ada hasilnya. Naila menggelar sajadah dan mengerjakan sholat isya’. Ia akhiri sholatnya dengan doa agar besok wawancara kerjanya membuahkan hasil.
Malam ini Naila bermimpi indah, mimpi bekerja sebagai orang kantoran. Ia memegang pulpen, mengetik dengan komputer, dan membuka-buka kamus bahasa Inggris. Ia mimpi menjadi penerjemah di The House of Languages.
*****
Soekarno Hatta International Airport diselimuti mendung tipis ketika rombongan Erick tiba di tempat parkir. Mereka berangkat bersama-sama ke bandara sehabis subuh dengan sarapan yang disegerakan untuk mengejar penerbangan pagi. Mama dan papanya pulang ke Palu sementara Erick terbang ke Surabaya. Penerbangannya hanya selisih sepuluh menit dari penerbangan orangtuanya. Mudah-mudahan mendung tipis ini tidak berubah menjadi hujan supaya penerbangannya tidak ditunda. Mamanya masih merangkulnya, seperti tidak ingin berpisah dengannya.
“Erick, dengarkan Mama, Nak. Erick tak boleh begadang sampai malam larut, tak boleh lupa makan, dan tak boleh ikut-ikutan teman yang tak jelas. Harus berhati-hati hidup di kota besar Erick. Erick juga tak boleh lupa sholat, harus jaga kesehatan meskipun sedang sibuk kerja. Erick harus…”
“Mama, Erick kan sudah besar, sudah sarjana. Lagipula Erick juga sudah empat tahun tinggal di Surabaya, Erick ngerti lah semua itu. Jangan diperlakukan Erick seperti anak kecil terus!” sergah papanya yang duduk di kursi depan.
“Iya, Ma. Pacarnya juga pasti banyak tuh!” ledek Emil sambil bersiap memarkir mobil.
Erick hanya tersenyum.
Tiba-tiba Mamanya membuka tas dan mengeluarkan dompetnya.
“Erick pegang ini ya, tahu kan nomor PIN-nya? Erick pasti butuh ini untuk modal usaha,” kata mamanya sambil menyerahkan ATM-nya pada Erick.
“Mama, jangan, Ma! Kenapa kasih ATM segala? Erick masih ada tabungan.”
“Mama, tak usah begitu. Nanti kita bisa transfer ke Erick,” papanya menimpali.
“Tak apa-apa Erick, Mama bisa buka rekening baru. Mama mau pastikan kalau anak Mama ini tak akan kekurangan apa-apa.”
“Mama…Mama, selalu berlebihan memperlakukan anak!”
“Sudah biarkan saja, Pa! Yuk, turun,” sahut Emil.
Erick menyimpan ATM mamanya, tidak ingin membuatnya kecewa. Dalam hati ia berjanji tidak akan menyentuh uang mamanya. Ia sudah bertekad akan memulai hidup dengan usahanya sendiri. Dibukakannya pintu mobil untuk mamanya. Penuh kasih sayang ia memakaikannya syal dan membantunya keluar dari mobil. Rombongan keluarga itu memasuki halaman bandara dan bersiap-siap untuk check-in.
“Emil, Mama pulang ya, Nak! Jaga Lena dan cucu-cucu Mama. Jaga adik juga, pastikan kalian semua baik-baik saja. Ajari adik berbisnis. Jangan biarkan Erick mengalami kesulitan.”
“Iya, Ma. Emil janji. Emil akan pastikan kalau kita semua baik-baik saja. Emil akan bantu apa pun yang Erick butuhkan, Ma.”
Perempuan itu memeluk dan mencium kedua pipi Emil.
“Kak, Erick pamit ya. Nanti Erick telepon Kakak.”
“Ingat dua tahun. Kau harus bisa buktikan sama mama kalau Kau bisa berbisnis, sebab kalau tidak, Kakak sendiri yang akan antar Kau pulang kampung!”
“Eh, masa tak percaya sama adik sendiri? Kalau Kakaknya saja hebat, adiknya tentu lebih hebat kan?” jawab Erick sambil meninju lengan Emil.
Emil hanya meringis, pura-pura sakit. Erick melepas kedua orangtuanya. Ia peluk mamanya erat-erat. Tidak seperti biasanya, perpisahan kali ini lebih sulit. Terasa sangat berat. Ia sedih karena tidak bisa menuruti kemauan mamanya. Ia juga mengkhawatirkan kesehatan mamanya. Perlahan diusapnya dua bulir air bening yang jatuh dari mata mamanya. Erick beralih ke papanya dan merangkul lelaki itu.
“Jaga diri baik-baik, Nak!” bisik papanya sambil menepuk pundaknya.
Erick mencium tangan kedua orangtuanya dan mengucap salam sebelum bergegas melangkah ke Gate C1, ruang tunggu penerbangan Citilink GA021 yang akan membawanya ke Surabaya. Hujan turun rintik-rintik ketika pesawatnya mendarat di bandara Juanda. Erick berlari-lari kecil menuju bis bandara yang mengantarnya ke ruang kedatangan. Tak sabar ia ingin segera kembali ke kantor yang sudah ia tinggalkan tiga hari ini. Sebelum berangkat ke Jakarta, Erick, Rifki, dan Mas Anang sepakat untuk menambah tenaga penerjemah dan teknisi komputer di kantornya. Order terjemahan meningkat. Erick dan Mas Udin, penerjemah di kantornya, tidak mampu menyelesaikannya. Permintaan servis komputer juga bertambah banyak sehingga Mas Anang kewalahan. Usaha yang baru mereka rintis tiga bulan yang lalu itu mulai menunjukkan perkembangan.
Jalanan cukup padat ketika taksi yang ditumpangi Erick masuk ke Jalan Raya Jemursari. Taksinya berjalan lambat. Sepeda motor lalu lalang, bis kota dan mobil-mobil angkutan umum berlomba membunyikan klakson seolah menunjukkan kesibukan kota berlambang ikan dan buaya ini. Terlebih awal minggu begini. Erick memutuskan untuk langsung ke kantor, tidak pulang dulu ke rumah kosnya. Semoga tidak terlambat karena ia, Mas Anang, dan Rifki memiliki jadwal wawancara perekrutan pegawai baru jam 10 pagi ini. Pasti sekarang Rifki dan Mas Anang sedang sibuk mempersiapkan perekrutan pegawai ini. Lima belas menit kemudian taksinya berhenti di depan sebuah ruko tiga lantai yang di depannya terpasang dua papan nama, Mitra Bersama Computer dan The House of Languages.
“Pagi!” sapanya pada Fatma, resepsionis kantornya.
“Pagi, Bang. Baru pulang dari Jakarta?”
“Iya. Semua ada di atas?”
“Iya, Bang.”
Beberapa pelamar sudah menunggu di depan resepsionis. Erick bergegas naik ke lantai 2.
“Pagi, semua!”
“Hei, kirain nggak datang. Semalam ditunggu-tunggu di kos nggak muncul,” jawab Rifki.
“Nggak lah. Mana boleh cuti lama-lama, bisa bangkrut kantor ini!”
“Jam berapa dari Jakarta, Rick? Ortu sudah pulang?” tanya Mas Anang.
“Sudah, Mas. Tadi pagi barengan, cuma selisih sepuluh menit saja penerbangannya.”
“Gimana sudah siap semua, nih?”
“Bentar lagi dimulai,” sahut Rifki.
“Banyakkah yang akan diwawancarai?”
“Penerjemah 10 orang. Teknisi berapa orang, Mas?”
“Tujuh, nanti diambil satu saja yang qualified.”
“Baguslah. Aku bersiap dulu ya. Yang mau oleh-oleh ambil sendiri di atas.”
“Oke, thank you,” jawab Rifki dan Mas Anang serempak.
Di lantai 3 dilihatnya Mas Udin sedang menerjemah.
“Hai, Mas.”
“Eh, Abang, kapan datang?”
“Baru saja, langsung ke sini. Gimana kerjaan, bereskah? Yang makalah ekonomi sudah selesai?”
“Sudah beres kok, tinggal dicek aja. Bentar lagi tak taruh di mejamu, Bang. File-nya di folder biasa.”
“Ya.”
Erick meletakkan bungkusan oleh-oleh yang dibawakan Kak Lena di dapur di ruangan paling ujung. Ia menyeduh secangkir Good Day Cappuccino dan membawanya ke mejanya. Aromanya menyegarkan badan Erick. Erick berharap banyak pada usaha ini, pada gabungan tiga kepala yang ia yakin bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Mas Anang, yang lulusan teknik informatika, jago merakit dan menservis komputer. Rifki menguasai lima bahasa, Jepang, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda. Karena itulah kursus privat dan terjemahan selain bahasa Inggris menjadi tanggung jawabnya. Erick sendiri yang menguasai ilmu manajemen dan bahasa Inggris bisnis mengurusi terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Selain itu, Erick seorang marketer yang handal. Dan karena ia lebih banyak bekerja di lapangan, ia mempekerjakan Mas Udin untuk membantunya. Sekarang di sebelah Mas Udin sudah disiapkan satu meja lagi untuk penerjemah baru yang akan membantunya menyelesaikan naskah terjemahan. Dengan begitu, Erick bisa lebih fokus pada aktivitas marketing-nya. Semangat kerja Erick menggelora. Sebentar kemudian ia sudah sibuk memeriksa kembali naskah-naskah yang akan digunakan untuk tes terjemahan calon pegawai barunya.
*****
Naila baru saja menyelesaikan tes percakapan bahasa Inggris. Ia kagum pada gaya bicara pak Rifki yang mewawancarainya, mengalir lancar dengan pronounciation dan intonasi persis seperti orang-orang asing yang ia ajak bicara di restoran. Mungkin karena pak Rifki pernah mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri. Sedikit yang tidak disukai Naila dari pria jangkung ini adalah bicaranya yang agak berlebihan. Untuk wawancara kerja, pak Rifki terlalu banyak bercerita tentang dirinya sehingga terkesan membanggakan diri sendiri. Naila tidak terlalu menghiraukannya. Toh ia pantas berbangga diri. Ia masih muda tapi sudah menguasai lima bahasa. Patut diacungi jempol. Ia sendiri belum sehebat pak Rifki dalam speaking dan pronounciation. Kalau pun ada yang patut dibanggakan Naila hanyalah kemampuan vocabulary dan gramatikalnya. Di kampus, beberapa temannya memanggil Naila, Ms. Grammar. Sebagian malah menjulukinya Kamus Berjalan, karena nilai-nilai kuis mata kuliah structure dan reading-nya selalu A. Naila juga tak pernah salah menjawab setiap teman-temannya menanyakan arti kata bahasa Inggris yang paling sulit sekali pun. Beberapa teman dekatnya lebih suka bertanya pada Naila daripada membuka kamus sendiri. Mereka tahu kalau Naila memang pandai dalam hal grammar dan vocabulary bahasa Inggris.
Sebentar kemudian, pak Rifki mengumumkan nama-nama kandidat yang lolos tes percakapan dan berhak mengikuti tes menerjemah. Dari sepuluh kandidat penerjemah, hanya tiga orang yang lolos tes ini. Naila bersyukur karena ia termasuk salah satunya. Seorang pesaingnya adalah mahasiswa semester akhir jurusan bahasa Inggris Universitas Widya Mandala, yang jurusan bahasa Inggrisnya terkenal sangat bagus di Surabaya. Seorang lagi lulusan Sastra Jepang Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 yang juga jago berbahasa Inggris. Naila berkecil hati karena hanya dirinya yang baru semester dua. Ia juga baru mendapatkan pelajaran Theory of Translation secara formal di awal semester ini. Selama ini ia hanya belajar otodidak dengan menerjemahkan artikel-artikel di majalah dan koran berbahasa Inggris. Tapi setidaknya Naila bisa mengetik cepat, skill yang mutlak dibutuhkan oleh seorang penerjemah. Selain itu, ia yakin kalau memang rezekinya, pekerjaan ini akan ia dapatkan. Kalau tidak, ia akan mencari pekerjaan lain. Bagi Naila, there is nothing to lose, tidak ada ruginya. Berhasil atau gagal, semuanya adalah hasil usaha. Seseorang tidak akan tahu apakah ia akan berhasil atau gagal sebelum mencoba berusaha.
Setelah menunggu hampir 30 menit, Naila naik ke lantai 3. Dua orang pesaingnya sudah kembali ke lantai 2 tempat ia menunggu. Ia adalah kandidat terakhir yang akan mengikuti tes menerjemah ini. Bapak Erick, yang akan menguji kemampuan menerjemahnya sudah menunggu di lantai 3.
“Selamat siang, Saudari Naila Rachmawati?”
“Benar, Bapak, saya Naila.”
“Saya Erick.”
Naila tertegun sesaat sebelum menerima uluran tangan pak Erick. “Erick” batinnya. Nama yang bagus, orangnya juga tampan. Masih muda, mungkin umurnya hanya selisih dua atau tiga tahun di atasnya. Kemeja putih bergaris-garis yang dikenakannya digulung hingga di bawah siku dan membuatnya terlihat menawan. Tiba-tiba timbul getaran-getaran halus dalam hati Naila, getaran yang membisikkan kekaguman pada sosok yang sedang mewawancarainya. Sejenak Naila menikmati getaran-getaran yang baru pertama kali ia rasakan ini.
“Anda masih semester 2 dan sekarang juga masih bekerja. Boleh saya tahu apa motivasi Anda ingin bekerja di kantor ini?”
“Benar, Pak. Sekarang saya bekerja di sebuah restoran Jepang dan ingin mencari pekerjaan di bidang yang saya sukai, bahasa Inggris. Meskipun saya baru semester 2, tapi selama dua tahun ini saya intensif belajar menerjemahkan artikel dari majalah dan koran bahasa Inggris.”
“Berapa lama Anda bekerja di restoran?”
“Dua tahun lebih Pak, ini tahun ketiga. Sejak lulus SMA saya langsung bekerja di restoran itu untuk mengumpulkan biaya kuliah dan setelah setahun bekerja saya masuk kuliah.”
“Anda membiayai kuliah Anda sendiri?”
Naila enggan menjawab pertanyaan ini. Ia tidak suka ditanyai tentang masalah-masalah pribadi dalam wawancara kerja.
“Saya anak pertama dari lima bersaudara. Sebagai anak tertua saya merasa memiliki kewajiban untuk meringankan beban orangtua. Tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mudah. Saya salah satunya, Pak. Menurut saya, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang kita impikan. Karena itulah saya bekerja sambil kuliah agar saya bisa mencapai cita-cita dan merencanakan masa depan saya dengan baik,” jawab Naila akhirnya.
“Emmm…, begitu. Anda memiliki motivasi kerja yang kuat. Dalam dunia kerja potensi saja tidak cukup. Seringkali motivasi kita bekerja memegang peranan lebih penting dari potensi itu sendiri.”
Naila memandang pak Erick lebih teliti. Ia tampan. Hidungnya mancung, rambutnya lurus sedikit gondrong. Sepasang alisnya yang hampir bertaut membuatnya terlihat tegas, setegas gaya bicaranya. Sepertinya ia sudah biasa bertemu dan bernegoisasi dengan banyak orang. Getar-getar halus di hati Naila berubah menjadi debar-debar kencang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Naila membiarkan debar-debar itu bergerak semakin kencang dan liar.
“Oke, perlu Anda ketahui bahwa The House of Languages baru berdiri beberapa bulan lalu dan kami sedang bekerja keras untuk membuat perusahaan ini berkembang. Kami membutuhkan tenaga-tenaga yang tidak hanya kompeten tetapi juga disiplin karena kami bekerja dengan deadline yang ketat. Kalau naskah terjemahan sedang banyak, tak jarang penerjemah harus bekerja lembur demi memenuhi deadline kami. Anda siap?”
“Tidak masalah, Pak. Saya sudah sering bekerja lembur di restoran. Saya yakinkan Anda bahwa saya bisa mengatur waktu saya dengan baik. Saya pastikan bahwa pekerjaan tidak akan terganggu oleh jadwal kuliah saya.”
“Good. Saya akan memberikan tes terjemahan pada Anda. Diterima atau tidaknya Anda di perusahaan ini sangat tergantung pada nilai tes ini. Jadi, kerjakan dengan maksimal.”
Naila menerima selembar naskah terjemahan dari Erick. Sebuah artikel tentang independensi auditor dalam mengaudit laporan keuangan perusahaan. Ia bergegas mengerjakannya pada komputer yang sudah disediakan. Dari ujung matanya ia melihat Erick berdiri di belakangnya.
“Tidak membuat draft dulu sebelum diketik?”
“Oh, tidak perlu, Pak, kalau salah kan bisa langsung diedit?”
“Cepat sekali mengetiknya ya dan sudah hafal huruf-hurufnya tanpa melihat monitor?”
“Iya, Pak, kebetulan dulu saya pernah kursus mengetik sepuluh jari. Jadi sudah hafal letak huruf-hurufnya.”
“Oh, begitu. Oke, silahkan dilanjutkan.”
Naila menyelesaikan tes menerjemahnya tepat pada waktu yang ditentukan. Selanjutnya, ia dan kedua pesaingnya menunggu pengumuman siapakah yang akan diterima menjadi penerjemah di The House of Languages. Keringat dingin membasahi dahinya. Ini adalah saat-saat yang menegangkan bagi Naila. Wawancara kerja kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Biasanya ia selalu santai menunggu hasilnya. Diterima atau tidak, tidak pernah membuatnya setegang ini. Kalau pun tidak diterima ia tidak terlalu kecewa. Ia pasti mencobanya lagi pada kesempatan yang lain. Kali ini sungguh berbeda. Ada harap berkali-kali lipat dalam diri Naila agar ia diterima di perusahaan ini. Ada keinginan yang begitu besar untuk berdekatan dengan pak Erick, yang telah membuat hatinya bergetar dan jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah ini yang disebut chemistry? Inikah jatuh cinta pada pandangan pertama? Naila menggelengkan kepala, mencoba mengusir pertanyaan-pertanyaan yang mendadak bermunculan dalam otaknya. Dengan selembar tisu Naila menghapus keringat di dahinya. Ia menghela nafas panjang sekedar mengurangi ketegangan yang ia rasakan. Pak Rifki turun dari lantai 3, membawa selembar kertas.
“Sorry, menunggu agak lama. Saya akan mengumumkan siapa yang akan diterima sebagai penerjemah di perusahaan ini.”
Naila semakin tegang. Dalam hati ia terus berdoa agar ia mendapatkan pekerjaan ini. Ya, Allah, jadikanlah pekerjaan ini rezeki hamba dan limpahkanlah berkahMu pada hamba.
“Hendrikus Wijaya dan Ade Alif Qur’ana, Anda berdua belum berhasil. Saudari Naila Rachmawati silahkan menemui pak Erick kembali di lantai 3.”
Naila tersentak. Benarkah apa yang ia dengar? Apakah ia diterima?
“Maaf Pak Rifki, apa ini artinya saya diterima?”
“Ya, Pak Erick akan menjelaskan lebih lanjut tentang jam kerja, job description, dan hak serta kewajiban Anda sebagai pegawai baru di sini.”
Alhamdulillah, Naila begitu senang. Seandainya tidak sedang berada di kantor, pasti ia akan meloncat kegirangan. Naila tidak tahu mengapa ia yang diterima padahal kedua pesaingnya jauh lebih kompeten. Mungkinkah karena ia bisa mengetik cepat, memiliki motivasi kerja yang kuat, atau ini memang sudah rezekinya? Sekali lagi ia berhasil menggapai mimpinya, bekerja di kantor dan menggunakan bahasa Inggris setiap hari. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Naila senang bukan kepalang. Ia akan bekerja di dekat pak Erick yang tampan, calon bosnya di kantor ini. Tak ingin membuang waktu, Naila segera kembali ke lantai 3 menemuinya.
*****
Note: Boleh di-share dengan menyertakan nama penulisnya.
