google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati: February 2019

Thursday, February 28, 2019

Bab 2 Novel Menggapai Impian, Merengkuh Cinta (MIMC)

2

The House of Languages


Hari Valentine tahun ini jatuh pada hari Minggu. Bisa dipastikan tamu-tamu yang mengunjungi restoran membludak dua hingga tiga kali lipat dari hari-hari biasa. Selain nonton bioskop, muda-mudi di Surabaya suka merayakan hari kasih sayang dengan makan malam berdua bersama pasangan sambil mengobrol santai di restoran.

Ichiban Japanese Restaurant telah mengantisipasi hal ini. Dari 30 meja yang ada di lantai 1, pemilik restoran menambah 10 meja lagi di balkon lantai 3 yang terbuka. Sepuluh meja ini menggunakan kompor portabel yang bahan bakarnya bisa diisi ulang setiap saat. Seperti tahun-tahun sebelumnya para tamu lebih menyukai meja di lantai 3 karena langsung beratapkan langit sehingga temaram sinar bulan dan kelap-kelip bintang di langit menambah suasana romantis makan malam mereka. Tentu saja kalau sedang tidak hujan sebab kalau hujan turun akan didirikan tenda sementara di balkon ini. Jam kerja pegawai ditambah beberapa jam sebagai kerja lembur. Di luar tugas utama masing-masing, pegawai shift 1 diberi tugas tambahan mendekorasi ruangan dengan pernak-pernik Valentine yang serba pink dan membuat persiapan ganda untuk shift 2. Sementara itu pegawai shift 2 bertugas melayani keperluaan tamu-tamu yang datang sampai restoran tutup.

Di awal pergantian shift, Naila mengambil lebih banyak lipatan napkin. Selanjutnya ia mengecek botol-botol saus yang sudah terisi, garpu dan pisau steak, sumpit, mangkuk nasi, dan piring-piring kecil. Ia memastikan bahwa jumlahnya tidak akan kurang untuk keperluan sore sampai malam hari ini. Pada Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur Naila bekerja untuk shift 2, dari jam 2 siang sampai restoran tutup jam 10 malam. Di hari-hari kerja kalau ia tidak sedang mengambil jatah liburnya, Naila masuk ke shift 1, jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Sore harinya ia gunakan untuk kuliah. Di lantai bawah, tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Reservasi untuk acara perayaan Valentine sebuah perusahaan pelayaran baru saja selesai. Naila segera turun ke lantai 1 dan bergabung bersama teman-temannya, membersihkan meja, men-set-up ulang meja, dan melayani segala keperluan tamu.

Selepas Maghrib meja-meja mulai terisi. Beberapa tamu sudah ada yang bersantap di lantai 3. Seorang koki sibuk menambah dan mengisi kembali piring-piring display yang kosong. Seorang lagi sedang membuat fillet daging sapi dengan mesin pemotong. Mbak Siti, yang bertugas menyiapkan minuman dan buah, sedang memotong-motong semangka. Naila bergegas menyelesaikan makan malamnya dan kembali bekerja. Sepasang muda-mudi keturunan Tionghoa masuk ke restoran. Yang perempuan terlihat anggun dengan gaun hitam tanpa lengan sepanjang lutut. Tangannya memegang tas cantik berwarna hitam mengkilat. Sepertinya tas itu mahal dan bermerk terkenal. Yang laki-laki memakai celana bahan hitam dan kemeja lengan panjang bergaris-garis dari bahan sutera yang halus. Sepatunya juga mengkilat. Rambutnya ditata rapi. Tangan si nona cantik mengamit mesra lengan pacarnya. Naila mengantar mereka ke meja nomor 3 dan menyodorkan buku menu pada keduanya. Nona cantik ini seumuran dengan Naila. Ia memiliki segalanya, baju bagus, tas bermerk mahal, dan seorang kekasih yang menyayanginya. Di hati Naila masih saja terselip rasa iri meskipun sebenarnya pemandangan seperti ini sudah ia lihat berkali-kali. Jangankan punya kekasih, dekat dengan seorang laki-laki pun Naila belum pernah. Selama ini yang ada dalam fikirannya hanya belajar dan bekerja agar semua impiannya bisa terwujud. Agar ia bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarganya. Naila ingin, ia dan keempat adiknya bisa menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Andai saja bapaknya tidak meninggalkan mereka dan menikahi perempuan lain, ia tidak perlu bekerja sekeras ini. Ia pasti akan menikmati masa remajanya. Naila cepat-cepat menepis perasaannya dan segera mengantar kedua tamunya ke depan display Shabu-shabu dan Yakiniku.

Sesampainya di rumah kos Naila langsung masuk ke kamar mandi. Badannya pegal-pegal. Kakinya terasa sangat berat, mungkin karena tadi di restoran ia berkali-kali naik turun lantai 1 dan 2. Yang diinginkannya hanya segera membersihkan diri, sholat, dan tidur. Untunglah besok ia libur kerja sehingga bisa istirahat sepuasnya sebelum kuliah sore hari. Yuli, teman sekamarnya sedang sibuk mempersiapkan diktat-diktat kuliah ketika Naila masuk kamar.

“Baru pulang, La?”
“Iya, capek banget. Restoran penuh, biasa Hari Valentine. Nggak ke mana-mana tadi?”
“Nggak, lagi males. Eh, tadi ada yang nelpon cari kamu.”
“Siapa?” tanya Naila.
“Panggilan wawancara kerja. Tuh, aku catat di message box-mu.”
“Makasih ya.”

Naila mengambil kertas dari message box-nya. Wawancara penerjemah di The House of Languages. Jl. Nginden Semolo No. 20, jam 10 pagi, menemui pak Erick atau pak Rifki. Alhamdulillah, wawancara kerja lagi. Kali ini posisi penerjemah. Naila tersenyum, teringat lamaran yang ia kirimkan seminggu lalu. Iklannya agak besar dan dimuat di koran Sabtu, bukan iklan baris biasa. Pasti perusahaannya lumayan besar. Meskipun sebelumnya selalu gagal, Naila tidak mau berhenti berusaha. Mudah-mudahan besok ada hasilnya. Naila menggelar sajadah dan mengerjakan sholat isya’. Ia akhiri sholatnya dengan doa agar besok wawancara kerjanya membuahkan hasil.
Malam ini Naila bermimpi indah, mimpi bekerja sebagai orang kantoran. Ia memegang pulpen, mengetik dengan komputer, dan membuka-buka kamus bahasa Inggris. Ia mimpi menjadi penerjemah di The House of Languages.


*****

Soekarno Hatta International Airport diselimuti mendung tipis ketika rombongan Erick tiba di tempat parkir. Mereka berangkat bersama-sama ke bandara sehabis subuh dengan sarapan yang disegerakan untuk mengejar penerbangan pagi. Mama dan papanya pulang ke Palu sementara Erick terbang ke Surabaya. Penerbangannya hanya selisih sepuluh menit dari penerbangan orangtuanya. Mudah-mudahan mendung tipis ini tidak berubah menjadi hujan supaya penerbangannya tidak ditunda. Mamanya masih merangkulnya, seperti tidak ingin berpisah dengannya.

“Erick, dengarkan Mama, Nak. Erick tak boleh begadang sampai malam larut, tak boleh lupa makan, dan tak boleh ikut-ikutan teman yang tak jelas. Harus berhati-hati hidup di kota besar Erick. Erick juga tak boleh lupa sholat, harus jaga kesehatan meskipun sedang sibuk kerja. Erick harus…”
“Mama, Erick kan sudah besar, sudah sarjana. Lagipula Erick juga sudah empat tahun tinggal di Surabaya, Erick ngerti lah semua itu. Jangan diperlakukan Erick seperti anak kecil terus!” sergah papanya yang duduk di kursi depan.
“Iya, Ma. Pacarnya juga pasti banyak tuh!” ledek Emil sambil bersiap memarkir mobil.
Erick hanya tersenyum.
Tiba-tiba Mamanya membuka tas dan mengeluarkan dompetnya.
“Erick pegang ini ya, tahu kan nomor PIN-nya? Erick pasti butuh ini untuk modal usaha,” kata mamanya sambil menyerahkan ATM-nya pada Erick.
“Mama, jangan, Ma! Kenapa kasih ATM segala? Erick masih ada tabungan.”
“Mama, tak usah begitu. Nanti kita bisa transfer ke Erick,” papanya menimpali.
“Tak apa-apa Erick, Mama bisa buka rekening baru. Mama mau pastikan kalau anak Mama ini tak akan kekurangan apa-apa.”
“Mama…Mama, selalu berlebihan memperlakukan anak!”
“Sudah biarkan saja, Pa! Yuk, turun,” sahut Emil.

Erick menyimpan ATM mamanya, tidak ingin membuatnya kecewa. Dalam hati ia berjanji tidak akan menyentuh uang mamanya. Ia sudah bertekad akan memulai hidup dengan usahanya sendiri. Dibukakannya pintu mobil untuk mamanya. Penuh kasih sayang ia memakaikannya syal dan membantunya keluar dari mobil. Rombongan keluarga itu memasuki halaman bandara dan bersiap-siap untuk check-in.

“Emil, Mama pulang ya, Nak! Jaga Lena dan cucu-cucu Mama. Jaga adik juga, pastikan kalian semua baik-baik saja. Ajari adik berbisnis. Jangan biarkan Erick mengalami kesulitan.”
“Iya, Ma. Emil janji. Emil akan pastikan kalau kita semua baik-baik saja. Emil akan bantu apa pun yang Erick butuhkan, Ma.”

Perempuan itu memeluk dan mencium kedua pipi Emil.

“Kak, Erick pamit ya. Nanti Erick telepon Kakak.”
“Ingat dua tahun. Kau harus bisa buktikan sama mama kalau Kau bisa berbisnis, sebab kalau tidak, Kakak sendiri yang akan antar Kau pulang kampung!”
“Eh, masa tak percaya sama adik sendiri? Kalau Kakaknya saja hebat, adiknya tentu lebih hebat kan?” jawab Erick sambil meninju lengan Emil.

Emil hanya meringis, pura-pura sakit. Erick melepas kedua orangtuanya. Ia peluk mamanya erat-erat. Tidak seperti biasanya, perpisahan kali ini lebih sulit. Terasa sangat berat. Ia sedih karena tidak bisa menuruti kemauan mamanya. Ia juga mengkhawatirkan kesehatan mamanya. Perlahan diusapnya dua bulir air bening yang jatuh dari mata mamanya. Erick beralih ke papanya dan merangkul lelaki itu.

“Jaga diri baik-baik, Nak!” bisik papanya sambil menepuk pundaknya.

Erick mencium tangan kedua orangtuanya dan mengucap salam sebelum bergegas melangkah ke Gate C1, ruang tunggu penerbangan Citilink GA021 yang akan membawanya ke Surabaya. Hujan turun rintik-rintik ketika pesawatnya mendarat di bandara Juanda. Erick berlari-lari kecil menuju bis bandara yang mengantarnya ke ruang kedatangan. Tak sabar ia ingin segera kembali ke kantor yang sudah ia tinggalkan tiga hari ini. Sebelum berangkat ke Jakarta, Erick, Rifki, dan Mas Anang sepakat untuk menambah tenaga penerjemah dan teknisi komputer di kantornya. Order terjemahan meningkat. Erick dan Mas Udin, penerjemah di kantornya, tidak mampu menyelesaikannya. Permintaan servis komputer juga bertambah banyak sehingga Mas Anang kewalahan. Usaha yang baru mereka rintis tiga bulan yang lalu itu mulai menunjukkan perkembangan.

Jalanan cukup padat ketika taksi yang ditumpangi Erick masuk ke Jalan Raya Jemursari. Taksinya berjalan lambat. Sepeda motor lalu lalang, bis kota dan mobil-mobil angkutan umum berlomba membunyikan klakson seolah menunjukkan kesibukan kota berlambang ikan dan buaya ini. Terlebih awal minggu begini. Erick memutuskan untuk langsung ke kantor, tidak pulang dulu ke rumah kosnya. Semoga tidak terlambat karena ia, Mas Anang, dan Rifki memiliki jadwal wawancara perekrutan pegawai baru jam 10 pagi ini. Pasti sekarang Rifki dan Mas Anang sedang sibuk mempersiapkan perekrutan pegawai ini. Lima belas menit kemudian taksinya berhenti di depan sebuah ruko tiga lantai yang di depannya terpasang dua papan nama, Mitra Bersama Computer dan The House of Languages.

“Pagi!” sapanya pada Fatma, resepsionis kantornya.
“Pagi, Bang. Baru pulang dari Jakarta?”
“Iya. Semua ada di atas?”
“Iya, Bang.”
Beberapa pelamar sudah menunggu di depan resepsionis. Erick bergegas naik ke lantai 2.
“Pagi, semua!”
“Hei, kirain nggak datang. Semalam ditunggu-tunggu di kos nggak muncul,” jawab Rifki.
“Nggak lah. Mana boleh cuti lama-lama, bisa bangkrut kantor ini!”
“Jam berapa dari Jakarta, Rick? Ortu sudah pulang?” tanya Mas Anang.
“Sudah, Mas. Tadi pagi barengan, cuma selisih sepuluh menit saja penerbangannya.”
“Gimana sudah siap semua, nih?”
“Bentar lagi dimulai,” sahut Rifki.
“Banyakkah yang akan diwawancarai?”
“Penerjemah 10 orang. Teknisi berapa orang, Mas?”
“Tujuh, nanti diambil satu saja yang qualified.”
“Baguslah. Aku bersiap dulu ya. Yang mau oleh-oleh ambil sendiri di atas.”
“Oke, thank you,” jawab Rifki dan Mas Anang serempak.

Di lantai 3 dilihatnya Mas Udin sedang menerjemah.

“Hai, Mas.”
“Eh, Abang, kapan datang?”
“Baru saja, langsung ke sini. Gimana kerjaan, bereskah? Yang makalah ekonomi sudah selesai?”
“Sudah beres kok, tinggal dicek aja. Bentar lagi tak taruh di mejamu, Bang. File-nya di folder biasa.”
“Ya.”

Erick meletakkan bungkusan oleh-oleh yang dibawakan Kak Lena di dapur di ruangan paling ujung. Ia menyeduh secangkir Good Day Cappuccino dan membawanya ke mejanya. Aromanya menyegarkan badan Erick. Erick berharap banyak pada usaha ini, pada gabungan tiga kepala yang ia yakin bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Mas Anang, yang lulusan teknik informatika, jago merakit dan menservis komputer. Rifki menguasai lima bahasa, Jepang, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda. Karena itulah kursus privat dan terjemahan selain bahasa Inggris menjadi tanggung jawabnya. Erick sendiri yang menguasai ilmu manajemen dan bahasa Inggris bisnis mengurusi terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Selain itu, Erick seorang marketer yang handal. Dan karena ia lebih banyak bekerja di lapangan, ia mempekerjakan Mas Udin untuk membantunya. Sekarang di sebelah Mas Udin sudah disiapkan satu meja lagi untuk penerjemah baru yang akan membantunya menyelesaikan naskah terjemahan. Dengan begitu, Erick bisa lebih fokus pada aktivitas marketing-nya. Semangat kerja Erick menggelora. Sebentar kemudian ia sudah sibuk memeriksa kembali naskah-naskah yang akan digunakan untuk tes terjemahan calon pegawai barunya.


*****

Naila baru saja menyelesaikan tes percakapan bahasa Inggris. Ia kagum pada gaya bicara pak Rifki yang mewawancarainya, mengalir lancar dengan pronounciation dan intonasi persis seperti orang-orang asing yang ia ajak bicara di restoran. Mungkin karena pak Rifki pernah mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri. Sedikit yang tidak disukai Naila dari pria jangkung ini adalah bicaranya yang agak berlebihan. Untuk wawancara kerja, pak Rifki terlalu banyak bercerita tentang dirinya sehingga terkesan membanggakan diri sendiri. Naila tidak terlalu menghiraukannya. Toh ia pantas berbangga diri. Ia masih muda tapi sudah menguasai lima bahasa. Patut diacungi jempol. Ia sendiri belum sehebat pak Rifki dalam speaking dan pronounciation. Kalau pun ada yang patut dibanggakan Naila hanyalah kemampuan vocabulary dan gramatikalnya. Di kampus, beberapa temannya memanggil Naila, Ms. Grammar. Sebagian malah menjulukinya Kamus Berjalan, karena nilai-nilai kuis mata kuliah structure dan reading-nya selalu A. Naila juga tak pernah salah menjawab setiap teman-temannya menanyakan arti kata bahasa Inggris yang paling sulit sekali pun. Beberapa teman dekatnya lebih suka bertanya pada Naila daripada membuka kamus sendiri. Mereka tahu kalau Naila memang pandai dalam hal grammar dan vocabulary bahasa Inggris.

Sebentar kemudian, pak Rifki mengumumkan nama-nama kandidat yang lolos tes percakapan dan berhak mengikuti tes menerjemah. Dari sepuluh kandidat penerjemah, hanya tiga orang yang lolos tes ini. Naila bersyukur karena ia termasuk salah satunya. Seorang pesaingnya adalah mahasiswa semester akhir jurusan bahasa Inggris Universitas Widya Mandala, yang jurusan bahasa Inggrisnya terkenal sangat bagus di Surabaya. Seorang lagi lulusan Sastra Jepang Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 yang juga jago berbahasa Inggris. Naila berkecil hati karena hanya dirinya yang baru semester dua. Ia juga baru mendapatkan pelajaran Theory of Translation secara formal di awal semester ini. Selama ini ia hanya belajar otodidak dengan menerjemahkan artikel-artikel di majalah dan koran berbahasa Inggris. Tapi setidaknya Naila bisa mengetik cepat, skill yang mutlak dibutuhkan oleh seorang penerjemah. Selain itu, ia yakin kalau memang rezekinya, pekerjaan ini akan ia dapatkan. Kalau tidak, ia akan mencari pekerjaan lain. Bagi Naila, there is nothing to lose, tidak ada ruginya. Berhasil atau gagal, semuanya adalah hasil usaha. Seseorang tidak akan tahu apakah ia akan berhasil atau gagal sebelum mencoba berusaha.

Setelah menunggu hampir 30 menit, Naila naik ke lantai 3. Dua orang pesaingnya sudah kembali ke lantai 2 tempat ia menunggu. Ia adalah kandidat terakhir yang akan mengikuti tes menerjemah ini. Bapak Erick, yang akan menguji kemampuan menerjemahnya sudah menunggu di lantai 3.

“Selamat siang, Saudari Naila Rachmawati?”
“Benar, Bapak, saya Naila.”
“Saya Erick.”

Naila tertegun sesaat sebelum menerima uluran tangan pak Erick. “Erick” batinnya. Nama yang bagus, orangnya juga tampan. Masih muda, mungkin umurnya hanya selisih dua atau tiga tahun di atasnya. Kemeja putih bergaris-garis yang dikenakannya digulung hingga di bawah siku dan membuatnya terlihat menawan. Tiba-tiba timbul getaran-getaran halus dalam hati Naila, getaran yang membisikkan kekaguman pada sosok yang sedang mewawancarainya. Sejenak Naila menikmati getaran-getaran yang baru pertama kali ia rasakan ini.

“Anda masih semester 2 dan sekarang juga masih bekerja. Boleh saya tahu apa motivasi Anda ingin bekerja di kantor ini?”
“Benar, Pak. Sekarang saya bekerja di sebuah restoran Jepang dan ingin mencari pekerjaan di bidang yang saya sukai, bahasa Inggris. Meskipun saya baru semester 2, tapi selama dua tahun ini saya intensif belajar menerjemahkan artikel dari majalah dan koran bahasa Inggris.”
“Berapa lama Anda bekerja di restoran?”

“Dua tahun lebih Pak, ini tahun ketiga. Sejak lulus SMA saya langsung bekerja di restoran itu untuk mengumpulkan biaya kuliah dan setelah setahun bekerja saya masuk kuliah.”
“Anda membiayai kuliah Anda sendiri?”

Naila enggan menjawab pertanyaan ini. Ia tidak suka ditanyai tentang masalah-masalah pribadi dalam wawancara kerja.

“Saya anak pertama dari lima bersaudara. Sebagai anak tertua saya merasa memiliki kewajiban untuk meringankan beban orangtua. Tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mudah. Saya salah satunya, Pak. Menurut saya, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang kita impikan. Karena itulah saya bekerja sambil kuliah agar saya bisa mencapai cita-cita dan merencanakan masa depan saya dengan baik,” jawab Naila akhirnya.

“Emmm…, begitu. Anda memiliki motivasi kerja yang kuat. Dalam dunia kerja potensi saja tidak cukup. Seringkali motivasi kita bekerja memegang peranan lebih penting dari potensi itu sendiri.”

Naila memandang pak Erick lebih teliti. Ia tampan. Hidungnya mancung, rambutnya lurus sedikit gondrong. Sepasang alisnya yang hampir bertaut membuatnya terlihat tegas, setegas gaya bicaranya. Sepertinya ia sudah biasa bertemu dan bernegoisasi dengan banyak orang. Getar-getar halus di hati Naila berubah menjadi debar-debar kencang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Naila membiarkan debar-debar itu bergerak semakin kencang dan liar.

“Oke, perlu Anda ketahui bahwa The House of Languages baru berdiri beberapa bulan lalu dan kami sedang bekerja keras untuk membuat perusahaan ini berkembang. Kami membutuhkan tenaga-tenaga yang tidak hanya kompeten tetapi juga disiplin karena kami bekerja dengan deadline yang ketat. Kalau naskah terjemahan sedang banyak, tak jarang penerjemah harus bekerja lembur demi memenuhi deadline kami. Anda siap?”

“Tidak masalah, Pak. Saya sudah sering bekerja lembur di restoran. Saya yakinkan Anda bahwa saya bisa mengatur waktu saya dengan baik. Saya pastikan bahwa pekerjaan tidak akan terganggu oleh jadwal kuliah saya.”

“Good. Saya akan memberikan tes terjemahan pada Anda. Diterima atau tidaknya Anda di perusahaan ini sangat tergantung pada nilai tes ini. Jadi, kerjakan dengan maksimal.”

Naila menerima selembar naskah terjemahan dari Erick. Sebuah artikel tentang independensi auditor dalam mengaudit laporan keuangan perusahaan. Ia bergegas mengerjakannya pada komputer yang sudah disediakan. Dari ujung matanya ia melihat Erick berdiri di belakangnya.

“Tidak membuat draft dulu sebelum diketik?”
“Oh, tidak perlu, Pak, kalau salah kan bisa langsung diedit?”
“Cepat sekali mengetiknya ya dan sudah hafal huruf-hurufnya tanpa melihat monitor?”
“Iya, Pak, kebetulan dulu saya pernah kursus mengetik sepuluh jari. Jadi sudah hafal letak huruf-hurufnya.”
“Oh, begitu. Oke, silahkan dilanjutkan.”

Naila menyelesaikan tes menerjemahnya tepat pada waktu yang ditentukan. Selanjutnya, ia dan kedua pesaingnya menunggu pengumuman siapakah yang akan diterima menjadi penerjemah di The House of Languages. Keringat dingin membasahi dahinya. Ini adalah saat-saat yang menegangkan bagi Naila. Wawancara kerja kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Biasanya ia selalu santai menunggu hasilnya. Diterima atau tidak, tidak pernah membuatnya setegang ini. Kalau pun tidak diterima ia tidak terlalu kecewa. Ia pasti mencobanya lagi pada kesempatan yang lain. Kali ini sungguh berbeda. Ada harap berkali-kali lipat dalam diri Naila agar ia diterima di perusahaan ini. Ada keinginan yang begitu besar untuk berdekatan dengan pak Erick, yang telah membuat hatinya bergetar dan jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah ini yang disebut chemistry? Inikah jatuh cinta pada pandangan pertama? Naila menggelengkan kepala, mencoba mengusir pertanyaan-pertanyaan yang mendadak bermunculan dalam otaknya. Dengan selembar tisu Naila menghapus keringat di dahinya. Ia menghela nafas panjang sekedar mengurangi ketegangan yang ia rasakan. Pak Rifki turun dari lantai 3, membawa selembar kertas.

“Sorry, menunggu agak lama. Saya akan mengumumkan siapa yang akan diterima sebagai penerjemah di perusahaan ini.”

Naila semakin tegang. Dalam hati ia terus berdoa agar ia mendapatkan pekerjaan ini. Ya, Allah, jadikanlah pekerjaan ini rezeki hamba dan limpahkanlah berkahMu pada hamba.

“Hendrikus Wijaya dan Ade Alif Qur’ana, Anda berdua belum berhasil. Saudari Naila Rachmawati silahkan menemui pak Erick kembali di lantai 3.”

Naila tersentak. Benarkah apa yang ia dengar? Apakah ia diterima?
“Maaf Pak Rifki, apa ini artinya saya diterima?”
“Ya, Pak Erick akan menjelaskan lebih lanjut tentang jam kerja, job description, dan hak serta kewajiban Anda sebagai pegawai baru di sini.”

Alhamdulillah, Naila begitu senang. Seandainya tidak sedang berada di kantor, pasti ia akan meloncat kegirangan. Naila tidak tahu mengapa ia yang diterima padahal kedua pesaingnya jauh lebih kompeten. Mungkinkah karena ia bisa mengetik cepat, memiliki motivasi kerja yang kuat, atau ini memang sudah rezekinya? Sekali lagi ia berhasil menggapai mimpinya, bekerja di kantor dan menggunakan bahasa Inggris setiap hari. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Naila senang bukan kepalang. Ia akan bekerja di dekat pak Erick yang tampan, calon bosnya di kantor ini. Tak ingin membuang waktu, Naila segera kembali ke lantai 3 menemuinya.


*****

Note: Boleh di-share dengan menyertakan nama penulisnya. 

Tuesday, February 26, 2019

Bab I Novel Menggapai Impian, Merengkuh Cinta (MIMC), Sebuah Impian

1
Sebuah Impian


Seekor siput menempel di sebuah pot bunga di halaman restoran, tempat Naila bekerja. Naila tertegun. Gerak-gerik makhluk kecil berwarna kecoklatan itu menarik perhatiannya. Ia berusaha menjelajah dari satu pot bunga ke pot bunga yang ada di depannya. Di antara kedua pot bunga itu terdapat celah yang panjangnya kurang lebih 8 cm dan tubuhnya tidak cukup panjang untuk menjadi jembatan agar ia bisa sampai ke pot bunga seberang. Si siput berjalan pelan, beringsut maju seolah berusaha mengurangi jarak yang membentang di hadapannya. Naila mengamatinya dengan seksama. Ia penasaran, akankah siput kecil itu mampu melakukannya?

Sekarang ia berada di bibir pot, Naila takut ia terjatuh ke tanah. Tetapi sepertinya siput itu memiliki banyak akal. Ia menjulurkan kepalanya untuk menjangkau bibir pot bunga di seberangnya. Sayang masih kurang panjang, kepalanya menggantung di tengah-tengah, di antara pot bunga tempatnya berpijak dengan pot bunga yang ia tuju. Hati Naila berdebar, khawatir kalau ia benar-benar terjatuh kali ini. Naila terus memperhatikan. Siput diam sejenak seperti sedang berfikir. Selanjutnya ia kembali memanjangkan kepalanya. Kali ini ia memanjangkan tubuh bagian belakangnya juga. Dan . ... berhasil! Bibir Naila menganga keheranan. Kepala siput itu telah menyentuh bibir pot bunga seberang sementara tubuh belakangnya masih berada di bibir pot bunga semula. Kemudian ia membalik badan dan rumahnya menggantung di bawah. Tubuhnya yang merentang antara kepala dan tubuh bagian belakangnya telah menjadi jembatan baginya untuk sampai ke seberang. Setengah menit kemudian, rumahnya beringsut, perlahan-lahan bergeser maju. Pandangan Naila tak sedikit pun beralih dari siput itu. Ia mengamati kerja keras yang dilakukannya. Sedikit lagi, satu . . . dua . . . tiga . . . , Yes! Naila girang. Sekarang siput itu sudah sampai ke pot bunga seberang. Ia dan rumahnya kini telah benar-benar berada di pot bunga yang ia tuju. Ia menyusutkan tubuh bagian belakangnya, kemudian berjalan pelan seolah memperkuat posisi pijaknya di pot bunga itu.

Naila tercenung. Kejadian yang baru saja ia lihat seolah menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Allah telah memberikan kemampuan pada setiap makhlukNya, tinggal bagaimana kemampuan itu bisa digunakan semaksimal mungkin.

Naila masuk kembali ke restoran dan mengambil setumpuk napkin1 yang sudah disetrika dari ruang housekeeping. Sebentar kemudian tangannya sibuk melipat napkin-napkin itu hingga menjadi lipatan berbentuk bunga. Sebelum restoran dibuka, semuanya sudah harus tertata rapi. Naila lalu berdiri, berkeliling dari satu meja ke meja lain untuk mengontrol perlengkapan table-setting. Ada tiga meja yang masih belum diset-up. Naila segera mengerjakannya. Ia melangkah ke meja nomor 8, memasang alas makan, meletakkan sumpit di sebelah kanan, napkin di sebelah kiri, dan mangkok sayur beserta sendoknya di tengah. Ia melakukannya berurutan di depan keempat kursi yang ada di meja itu. Selanjutnya ia teruskan ke meja nomor 11 dan 12. Mahnun dan Iwan, temannya sesama pelayan di restoran ini, sedang mengecek nyala api kompor di tiap-tiap meja. Meja-meja di restoran Jepang yang menyajikan Shabu-shabu dan Yakiniku sebagai menu utamanya, memang berbeda dengan meja-meja di restoran lainnya. Bagian tengah meja sengaja dilubangi untuk meletakkan kompor dan hotplate yang di atasnya lagi diberi panci stainless kecil. Tujuannya adalah agar para tamu bisa memasak sendiri bahan makanan mentah atau setengah matang yang mereka ambil dari display. Setelah kompor dinyalakan, seorang pelayan akan menuangkan kuah panas ke dalam panci. Kemudian mereka bebas mengambil apa saja yang ada di display untuk direbus dalam kuah panas itu atau dipanggang saja dengan bumbu saus di atas hotplate. Beraneka ragam sayur mayur, fillet aneka ikan laut, lidah sapi, daging sapi dan ayam, udang, cumi, kepiting, bakso sapi, bakso ikan, atau beef burger, semuanya ditata cantik di dalam cooler dan di atas display panjang yang di depannya dipasang kaca. Salad sayur dan buah sebagai makanan pembuka dan aneka irisan buah beserta jajanan tradisional sebagai makanan penutup juga telah disiapkan. Mereka bebas mengambilnya dengan piring-piring kecil yang telah disediakan dalam bufet-bufet yang berjajar di depan display untuk kemudian membawanya ke meja dan memasaknya sendiri. Jika sedang malas memasak, pelayan akan memasakkannya untuk mereka. Mereka juga boleh makan dan minum sepuasnya karena harga dihitung per orang, bukan per porsi makanan seperti di restoran-restoran lain.

Naila berkeliling sekali lagi ke ruangan utama restoran. Tampaknya semua sudah siap. Meja-meja dan kursi tamu telah tertata rapi beserta perlengkapannya. Display makanan dan piring-piring dalam bufet sudah tertata apik. Display minuman juga sudah lengkap. Hanya lukisan seorang perempuan Jepang berpakaian kimono merah marun di dinding kanan restoran sedikit miring, Naila membetulkan posisinya. Pak Imron, satpam restoran, membuka pintu gerbang, pertanda restoran sudah siap beroperasi. Di lantai bawah ada 5 orang yang bertugas untuk shift 1. Lisil di meja kasir, Maria sebagai petugas greeting di depan pintu, Mahnun, Iwan, dan Naila sebagai pelayan, dan Ibu Ririn bertindak sebagai pimpinan restoran. Di lantai atas beberapa koki dan asistennya bekerja mempersiapkan segala keperluan menu display dan beberapa menu tambahan.
Satu jam setelah restoran dibuka biasanya masih belum banyak tamu yang datang. Menjelang makan siang baru setiap meja di restoran ini akan penuh terisi. Naila masuk ke toilet sekedar untuk merapikan diri. Ia membetulkan kuncir rambutnya. Dipandanginya wajahnya di depan cermin. Matanya terlihat lelah karena semalaman ia begadangmengerjakan tugas kuliah. Naila membasuh muka, memakai bedak, dan memoles tipis bibirnya dengan lipgloss agar tidak kelihatan pucat.

Sudah dua tahun lebih Naila bekerja sebagai pelayan di restoran Jepang ini, Ichiban Japanese Restaurant. Pekerjaannya menuntut porsi tenaga fisik yang cukup besar. Begitu datang ke restoran ini, Naila memulai pekerjaannya dengan mengelap piring, sendok, mangkuk-mangkuk nasi, dan semua peralatan makan lainnya. Kemudian ia lanjutkan dengan melipat napkin, membersihkan meja, table setting, dan mengontrol ruangan. Setelah persiapan ini selesai, ia dan teman-temannya sesama pelayan, harus berdiri stand by untuk memastikan bahwa semua yang dibutuhkan para tamu dilayani dengan baik. Mereka dituntut untuk selalu ramah dan terlihat rapi. Apalagi jika ada reservasi untuk pesta ulang tahun atau acara-acara penting perusahaan.

Pada Sabtu, Minggu, atau hari-hari libur bisa dipastikan restoran akan penuh, bahkan tamu-tamu sampai mengantri di depan restoran karena tidak mendapatkan meja. Pada hari-hari ini bisa dipastikan seluruh pelayan, koki, dan asistennya harus kerja lembur beberapa jam. Memang ada uang lembur yang diberikan sebagai kompensasinya, namun jumlahnya tidak sebanding dengan kelelahan fisik yang dirasakan Naila. Belum lagi jika ada tugas kuliah yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Sebenarnya Naila ingin meninggalkan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan yang lebih menggunakan otak, bukan fisik. Naila ingin sekali mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa Inggris, bidang yang sangat disukainya. Tetapi mencari pekerjaan di Surabaya tidaklah mudah. Setahun belakangan ini banyak lamaran pekerjaan sudah ia kirimkan. Wawancara kerja pun telah ia jalani berkali-kali tetapi hasilnya masih nihil. Bagi lulusan SMA yang hanya berbekal sertifikat kursus komputer dan mengetik seperti Naila, mendapatkan pekerjaan kantoran sama sulitnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Walaupun begitu Naila harus bersyukur karena sarjana juga masih banyak yang menganggur di kota ini. Apalagi dengan uang yang ia sisihkan sedikit demi sedikit dari gajinya, Naila bisa kuliah. Ia kini telah tercatat sebagai mahasiswi semester dua kelas sore di Fakultas Sastra Inggris, Universitas DR. Soetomo (Unitomo) Surabaya. Impian yang sudah ia angankan sejak masih duduk di bangku SMP, menjadi sarjana dan mendapatkan pekerjaan layak sebagai orang kantoran. Impian pertama sedang ia tapaki. Mudah-mudahan impian kedua juga segera ia gapai. Naila percaya biar pun melelahkan, perjuangan akan sampai pada hasilnya. Ia yakin akan mampu mewujudkan impiannya satu demi satu.

“Naila, ada bule!” teriak Mahnun dari luar toilet.
“Iya,” jawab Naila yang kemudian bergegas ke ruang utama restoran.
“Good afternoon, Sir! Can I help you?”

Kali ini tamu pertamanya adalah dua pria asing yang sepertinya berasal dari Eropa. Yang satu berpostur tinggi besar, rambutnya pirang, dan kulitnya kemerahan. Yang satu lagi kurus, tinggi, kepalanya agak botak, dan berkumis. Dua-duanya bermata biru.

“Good afternoon. Can I have other than Shabu-shabu and Yakiniku?” jawab pria asing yang berpostur tinggi besar.
“Sure. Other than Steaks, we have Thailand specialties. If you like spicy soup, we have Tom Yam, or if you would like to eat bigger meal, we have fried rice and noodles cooked with seafoods in Thailand’s seasonings.”

Ia melihat-lihat buku menu sebentar.

“I think Tom Yam will be good. One medium beer for me, and a small plate of fruit salad.
“Okay, would you like your beer served with ice, Sir?”
“No...no...just cold, but no ice.”
“Fine, and what would you like to eat, Sir?” tanya Naila pada pria berkumis yang duduk di sebelahnya.


“Give me fruit salad, Tenderloin steak, and lemon tea with ice.”
“Okay, let me summarize. One Tom Yam, one medium cold beer without ice, two fruit salads, and one lemon tea with ice. Anything else, Sir?”
“No, thank you.”

Naila naik ke lantai 2 dan menyerahkan nota order tamunya pada koki. Selain Shabu-shabu dan Yakiniku, restoran ini juga menyediakan aneka steak dan beberapa menu masakan Thailand. Lima belas menit kemudian, ia sudah kembali dan mempersilahkan kedua tamunya menikmati pesanan mereka.

Satu hal lagi yang harus disyukuri Naila. Di restoran ini ia selalu punya kesempatan untuk berlatih percakapan dengan tamu-tamu asing yang makan di sini. Tentunya ini akan meningkatkan skill bahasa Inggrisnya. Untunglah dua tahun ini Naila belajar bahasa Inggris secara intensif dari buku-buku, koran, dan majalah bahasa Inggris sehingga ia bisa memahami dan merespon apa yang dibicarakan tamu-tamu asing itu. Ia juga menerjemahkan artikel-artikel ringan dari majalah dan koran bahasa Inggris untuk memperkaya kosa kata bahasa Inggrisnya. Selain itu, mata kuliah Speaking dan Listening Comprehension yang ia dapatkan di kampus banyak membantu. Walaupun kadang-kadang Naila masih merasa kalau bicara mereka sangat cepat dan intonasinya sulit ditirukan, ia tidak patah semangat. PR-nya masih sangat banyak. Jalannya masih panjang. Masih banyak yang harus ia pelajari demi menggapai impian-impiannya. Sesungging senyum terbentuk di bibir Naila saat membayangkan kalau suatu hari ia akan pulang sebagai orang yang sukses, berpendidikan, dan memiliki pekerjaan mapan.

*****

Sesosok pemuda berdiri di balik jendela. Pandangannya menerawang jauh ke luar, menembus gumpalan awan-awan putih di langit Jakarta yang panas. Di kepalanya sedang terjadi pertarungan hebat. Dua hal yang menimbulkan keresahan bergelut sengit dan sama-sama berusaha saling mengalahkan. Sebuah tekad untuk mandiri dan rasa tidak sampai hati melihat mamanya memohon-mohon agar ia pulang ke Palu. Empat tahun ia hidup di Jawa demi menyelesaikan studinya. Itu pun setelah ia mati-matian membujuk mamanya agar mengizinkannya kuliah di Jawa. Sekarang kuliahnya sudah selesai. Beberapa hari lalu ia diwisuda. Ia hanya tinggal menunggu ijazahnya keluar minggu depan. Bukan karena ia tidak mau berkumpul kembali dengan orangtua dan adiknya di kampung halaman atau meneruskan bisnis properti yang dijalankan papanya di sana. Semuanya karena ia adalah seorang lelaki. Dalam prinsipnya, lelaki tidak boleh seterusnya bergantung pada orangtua. Ia harus bisa berdiri sendiri, mencari masa depannya sendiri, dan bertanggung jawab penuh atas keluarganya nanti. Sudah cukup orangtuanya membiayai sekolahnya hingga ia menjadi sarjana. Papa dan mamanya telah memenuhi segala kebutuhannya. Kasih sayang dan materi, semuanya sudah diberikan orangtuanya lebih dari cukup, tak pernah kekurangan sedikit pun. Sekarang saatnya ia hidup dan mengukir masa depannya sendiri. Ia bahkan sudah memulainya beberapa bulan lalu setelah skripsinya selesai. Tanpa sepengetahuan orangtuanya ia bekerja sama dengan dua orang temannya, Rifki dan Mas Anang, menyewa sebuah tempat di Surabaya, tidak jauh dari rumah kosnya. Di tempat itulah ia memulai usahanya. Bersama mereka, belajar menjadi lelaki sejati, yang berjuang dengan tangan, kaki, dan keringatnya sendiri. Ia ingin seperti kakaknya yang sudah memiliki bengkel mobil cukup besar di Jakarta, hasil jerih payahnya sendiri.

Kalau saja matanya tidak sayu dan pandangannya tidak redup, pemuda itu pasti sangat mempesona. Tubuh atletisnya dibalut celana jeans hitam dan kemeja kotak-kotak biru muda. Hidungnya mancung dan dua garis alisnya hampir bertaut. Kulitnya kecoklatan dan rambut lurusnya yang dibiarkan sedikit gondrong tapi rapi menjadikan ketampanannya sempurna. Sayang hatinya sedang gundah gulana sehingga keresahan lebih menonjol daripada pesonanya. Ia seperti sedang dipaksa makan buah simalakama. Jika tidak menuruti kemauan mamanya, ia takut hipertensi mamanya akan kambuh lagi dan membuat kondisinya drop. Dulu saat kakaknya pindah ke Jawa, tekanan darah mamanya pernah naik drastis dan dirawat beberapa hari di rumah sakit. Ia tak ingin hal itu terulang lagi. Tetapi kalau ia menuruti kemauan mamanya untuk pulang ke Palu dan membantu usaha papanya, sama saja ia melanggar prinsipnya sendiri. Ia menggelengkan kepala, buntu. Sama sekali tidak ada petunjuk tentang apa yang harus ia lakukan. Gumpalan awan-awan putih yang terhampar luas di atas sana tak mampu menghentikan pertarungan sengit yang sedang berlangsung di kepalanya.

Di belakangnya, seorang perempuan berusia lima puluh tiga tahun sedang menangis sesenggukan dalam pelukan Kak Lena, kakak iparnya. Dadanya naik turun berusaha menahan isak. Tubuhnya sedikit lebih kurus daripada lebaran lalu saat pemuda itu pulang. Sebagian kecil rambutnya mulai memutih.

“Mama tak akan pulang tanpa Erick!” katanya masih dalam tangis sesenggukan.
Kini pemuda itu bersimpuh di depan mamanya. Kedua tangannya memeluk lutut mamanya dan matanya menatap penuh harap ke wajah mamanya, memohon agar perempuan yang sangat dicintainya itu bisa memahami keinginannya.

“Mama, mengerti Erick, Ma. Erick laki-laki. Erick harus belajar hidup. Erick ingin berbuat sesuatu yang membuat Mama dan papa bangga. Tolong, Ma. Erick janji akan sering-sering telepon Mama.”
Perempuan itu mendesah. Teringat kejadian yang sama ketika Emil, anak pertamanya, memohon-mohon agar ia mengizinkannya pindah ke Jakarta demi merintis usahanya. Sekarang ia dihadapkan pada situasi yang sama. Di satu sisi, ia tidak ingin mengekang keinginan anak-anaknya. Di sisi lain, ia ingin anak-anaknya hidup di dekatnya agar ia bisa melihat dan mengunjungi mereka setiap saat. Hatinya selalu merasa tenteram bila ia telah memastikan bahwa anak-anaknya baik-baik saja, sehat, bahagia, dan tak kekurangan apa pun. Sementara pindah ke Jawa tidak mungkin ia lakukan. Baginya, Jawa, khususnya Jakarta dan Surabaya, terlalu bising untuk dijadikan tempat tinggal. Jawa lebih cocok dijadikan tempat berbisnis bagi orang-orang yang mencari uang dan kedudukan, bukan yang menginginkan ketenangan hidup di usia senja seperti dirinya. Dan ia pun harus menelan pil pahit itu, terpaksa mengizinkan anaknya tinggal jauh darinya. Haruskah ia menelan lagi pil pahit itu demi Erick?

“Kalau hanya mendirikan usaha, di Palu juga bisa Erick. Papa akan mengajari Erick berbisnis dan Mama juga tak perlu jauh dari Erick. Empat tahun sudah cukup membuat Mama tersiksa. Apa nantinya anak-anak Mama akan hidup menjauh dari Mama semua?”

Erick terdiam. Tangis mamanya membuat hatinya terasa pilu. Ia mengerti benar betapa mamanya sangat menyayanginya dan tak ingin jauh darinya. Kadang-kadang rasa sayang mamanya yang berlebihan membuatnya terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya meskipun sekarang mereka sudah dewasa. Setelah Kak Emil dan keluarganya pindah ke Jakarta, mamanya semakin memperlakukan Erick berlebihan. Ia menjadi lebih sentimentil, sensitif, dan ingin selalu berada di dekat anak-anaknya. Erick tahu, mamanya menginginkan anak perempuan dan setelah hampir 9 tahun berusaha mendapatkan bayi lagi, adiknya, Ibra, terlahir laki-laki. Jadilah mamanya memperlakukan mereka bertiga dengan lembut. Mamanya tidak pernah luput memperhatikan hal-hal kecil yang sudah biasa mereka kerjakan sendiri. Selama di Surabaya pun, mamanya sering menelepon Erick sekedar mengingatkan waktu makan dan belajarnya. Mamanya sering tidak membedakan perlakuannya pada Ibra yang masih SMP dengan Erick yang sudah mahasiswa. Hanya Kak Emil saja yang sudah tidak terlalu diperhatikan karena sudah ada Kak Lena yang mengurusinya. Seandainya Ibra tidak sedang mempersiapkan ujian kenaikan kelas, mamanya pasti akan mengajaknya serta ke Surabaya untuk menghadiri wisudanya. Itu semua karena mamanya ingin selalu berdekatan dengan anak-anaknya.

“Mama, Erick melihat peluang besar di Surabaya. Mama doakan Erick. Kalau Erick berhasil dan bisnis Erick nanti sukses, Erick akan bawa Mama ke Surabaya. Kita semua pindah ke Jawa dan berkumpul lagi, Ma. Erick janji. Lagipula ada adik dan papa yang temani Mama, kan?”
“Nanti setelah lulus sekolah, adikmu juga akan kuliah dan pindah ke Jawa, begitu kan Erick?”
“Mama…, Erick mohon, Ma. Beri Erick waktu sebentar saja untuk membuktikan bahwa Erick mampu melakukan sesuatu yang membuat Mama dan papa bangga.”

Kali ini Erick membenamkan wajahnya ke pangkuan mamanya. Matanya terasa panas. Ia tidak tahu lagi cara apa yang harus ia gunakan untuk membujuk mamanya agar mengizinkannya tinggal dan merintis usaha di Surabaya.

“Mama sudah tua, Erick. Yang Mama inginkan hanya hidup tenang di kampung bersama anak-anak Mama,” suara Mamanya melunak.

“Jangan bicara begitu, Mama. Erick mohon, beri Erick kesempatan untuk melakukan sesuatu dengan usaha Erick sendiri. Mama tak perlu khawatir. Di Jawa ada Kak Emil dan Kak Lena. Kalau ada apa-apa, Erick bisa telepon mereka kan, Ma? Lagipula Surabaya-Jakarta hanya satu jam. Kapan saja Erick mendapatkan kesulitan, Erick bisa minta tolong sama kakak.”
Nafas perempuan itu terasa sesak. Rupanya mau tidak mau sebuah pil pahit harus ia telan lagi. Tak sampai hati ia melihat anak kesayangannya memelas seperti itu. Ah, bukankah orangtua akan melakukan apa saja untuk anak-anaknya sekali pun itu membuatnya tersiksa? Ia menggigit bibir, berusaha menerima kenyataan ini sekali lagi.

“Baiklah, Nak. Mama kasih waktu Erick dua tahun. Kalau dalam dua tahun Erick belum berhasil, Erick harus pulang ke Palu. Tak boleh ada alasan lagi. Erick sanggup?”
“Sanggup, Ma. Erick tak akan sia-siakan waktu yang Mama berikan.”

Ia bangkit dan memeluk mamanya. Kepalanya terasa ringan, dadanya mendadak sangat lapang. Pertarungan itu telah selesai. Akhirnya ia mendapatkan izin dari mamanya untuk tinggal dan merintis usaha di Surabaya. Ia rasa dua tahun akan cukup untuk bekerja keras dan mengembangkan usahanya. Harus cukup, bisnis ini harus sukses dalam waktu 2 tahun, tekad Erick dalam hatinya.
Kak Lena tersenyum lega. Dua keinginan yang bertolak belakang itu tidak akan pernah menemukan titik temu. Mamanya menginginkan anak-anaknya hidup di Palu, kampung halaman mereka, sedangkan anak-anaknya bersikeras ingin membawa orangtua mereka pindah ke Jawa. Tapi setidaknya salah satu sudah ada yang mengalah. Ia meninggalkan mertua dan adik iparnya berdua saja agar mereka lebih leluasa berbagi cerita dan kasih sayang. Ia tahu mertuanya sangat menyayangi anak-anaknya, terlebih Erick yang penurut dan tidak banyak tingkah. Ia juga memahami jiwa lelaki Erick yang ingin berpetualang dan hidup mandiri karena suaminya juga memiliki jiwa yang sama. Ia mengerti benar kalau apa yang dirasakan Erick sekarang ini sama persis dengan yang dirasakan suaminya beberapa tahun lalu.

*****

1 serbet makan


Note: Boleh di-share dengan menyertakan nama penulisnya. 

Monday, February 25, 2019

Menggapai Impian, Merengkuh Cinta (MIMC)

Novel ini kutulis dengan tekad membaja. Tekad untuk mewujudkan impian sejak lama yaitu menulis sebuah buku, paling tidak buku tentang diri sendiri. Pengalaman hidup mengajarkan banyak hal yang mungkin berguna bagi diri kita sendiri dan orang lain. Jika tidak ditulis mungkin pengalaman-pengalaman berharga itu akan hilang begitu saja, terlupa, termakan oleh usia. Maka kutulislah novel ini. Alhamdulillah, terbit novel ini dan beredar di toko-toko buku se-Indonesia tahun 2012 hingga sekitar 6 tahun sesudahnya. Sejatinya, novel Menggapai Impian, Merengkuh Cinta (MIMC) tidak sepenuhnya mengisahkan kehidupan pribadi. This is not purely a fact. It is indeed, a perfect blend of facts and imagination. Sebagian kisah nyata, sebagian lagi fiksi. Diramu dengan takaran yang pas sehingga novel ini insyaAllah enak dibaca. Mengalir, dan penuh dengan letupan-letupan yang mengharukan, juga menggemaskan. Saya akan membagikan Bab I sampai Bab III nya di postingan selanjutnya. Selamat membaca!



Pingin Banyak Nulis

Ada banyak ide di kepala. Ada banyak yang ingin kutulis. Ada kebahagian setelah satu cerita terselesaikan. Namun waktu terbatas. Kusimpan dulu ide dan begitu ada waktu eksekusi.

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...