Dua
Andai Aku Menjadi Kontestan MasterChef Indonesia
Kami sarapan dalam diam. Mama menyantap sarapannya tanpa mengeluarkan
sepatah kata pun. Sesekali dia mengaduk-aduk tehnya. Sementara aku tidak
terlalu berselera menyantap makananku. Soup
bola-bola daging dan perkedel yang dimasakkan mama tidak berhasil menggungah
nafsu makanku. Sesekali kalau tidak sedang lelah, mama memang memasak dan menyiapkan sendiri
sarapan buat kami. Mbak Jum membantunya sesuai instruksi mama. Bukan karena soup mama tidak menarik tetapi hatiku
masih dongkol dengan sikapnya yang belum juga mau mengalah padaku. Hal seperti ini
biasa terjadi sejak kami sering berantem karena keinginanku pindah ke SMK jurusan
boga. Setelah berantem biasanya kami malas
menyapa. Baik aku maupun mama enggan bicara lebih dulu. Namun kondisi ini pasti
tidak berlangsung lama. Mama tidak pernah absen menelponku sepulang sekolah dan
menyuruhku langsung pulang bila tidak ada jadwal kursus melukis atau kegiatan
ekstra kurikuler. Walaupun aku beberapa kali tidak mematuhi perintahnya, terutama
sejak uang jajanku dipangkas, mama masih belum bosan mengomeliku di telepon. Bukan
salahku bila aku lebih memilih nongkrong di rumah Roni, sahabatku sejak di sekolah
TK itu, daripada pulang cepat dan tidak ada yang menarik untuk kulakukan di
rumah. Salah mama juga sih, kenapa dia melarangku belajar memasak di dapurnya.
“Mama dan Andre ini kenapa, berantem lagi?” tanya Papa memecah kebisuan di
antara kami.
Mama melengos sebentar kemudian kembali asyik dengan sendok garpunya.
“Tanya saja sama anak kesayangan Papa itu,” jawab mama sebelum memasukkan potongan
perkedel ke mulutnya.
“Kenapa lagi Ndre?”
Aku tidak menyahut. Papa geleng-geleng kepala, meletakkan garpunya, dan
mengambil cangkir tehnya.
“Soal sekolah lagi?”
“Iya Pa. Mama sih, tidak mau mengerti keinginan Andre,” jawabku.
“Lha kamu punya keinginan kok aneh-aneh. Mbok ya difikir masak-masak. Apa bagusnya cita-cita
menjadi chef? Apa nggak ada cita-cita
lain yang lebih keren?” sahut mama yang bikin telingaku merah.
“Kenapa sih Pa, mama begitu menginginkan Andre jadi arsitek?” tanyaku pada
Papa tanpa memedulikan omongan mama.
“Kok tanya Papa. Tanya sendiri sama orangnya. Mungkin mantan pacar Mama
dulu seorang arsitek,” jawab papa bercanda.
“Papa ini asal saja kalau bicara. Anak Papa itu sok dewasa, seolah-olah
berhak menentukan masa depannya sendiri. Padahal masak juga belum bisa.”
“Makanya itu Andre ingin pindah ke sekolah jurusan boga Ma, supaya Andre
bisa belajar memasak lebih banyak,” sahutku nggak mau kalah.
“Sudah-sudah. Pagi-pagi ibu dan anak sudah ribut. Seperti Tom and
Jerry saja,” goda papa.
“Idih Papa. Nggak lucu ah!” jawab mama lalu meneruskan suap demi suap
sarapannya.
Aku menghabiskan sendok terakhir sarapanku, menutup sarapanku dengan seiris
puding susu, dan kemudian beranjak ke kamar mengambil tas. Tidak ada gunanya
melanjutkan pertengkaran dengan mama. Meskipun papa bersikap sedikit lebih
demokratis terhadap masalah ini, aku tidak bisa mengandalkan dukungannya. Papa
juga belum sepenuhnya menyetujui keinginanku pindah ke SMK jurusan boga.
“Andre berangkat Pa,” pamitku.
“Hati-hati, jangan ngebut. Masih cukup waktu untuk ke sekolah,” pesan
Papa.
Jarak antara rumah dan sekolahku tidak begitu jauh, kurang lebih lima belas
menit ditempuh dengan sepeda motor.
“Ma Andre berangkat.”
“Ya, belajar baik-baik!” jawab mama garing.
Aku berangkat paling awal. Mama berangkat ke kantor bareng papa jam
tujuh lebih nanti. Papa mengantar mama dulu baru berangkat ke kantornya di
daerah Jenggolo. Pulangnya mama dijemput tukang ojek langganan karena papa
sering pulang telat.
Matahari mulai memancarkan sinar hangatnya. Jalanan sudah ramai meskipun
belum terlalu padat. Semakin lama lalu lintas di kota Sidoarjo semakin padat
saja. Beberapa Polantas memarkir sepeda motor mereka di pinggir jalan lalu
mengambil posisi agak ke tengah jalan. Mereka bersiap-siap mengatur lalu lintas
untuk mencegah kemacetan di jam-jam sibuk sebentar lagi. Aku memacu gas sepeda
motorku sedikit lebih kencang. Motorku melaju, meliuk-liuk di antara
kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalan raya pagi ini.
Sepuluh menit kemudian, aku tiba di depan pintu gerbang sekolah. Kulihat
Haris dan Nanang, teman sekelasku, baru saja memarkir motor. Mereka menungguku
dan kami berjalan beriringan menuju kelas.
“Ndre hari ini nggak ulangan Matematika kan?” tanya Haris begitu aku
mendekat.
“Nggak ada pemberitahuan. Mudah-mudahan pak Sholihin tidak mengadakan
ulangan harian mendadak.”
“Iya nih. Soalnya semalam aku nggak belajar, ngantar mamaku ke dokter
sampai malam. Pulang dari dokter sudah ngantuk berat.”
“Sakit apa mamamu Ris?” tanyaku prihatin.
“Demam, batuk, pilek, sudah 3 hari ini.”
“Coba makan soup ayam yang agak
panas-panas. Soup ayam bisa jadi obat
flu yang alami loh,” saranku.
“Mantap…kawanku yang satu ini memang tidak pernah jauh dari makanan,”
seloroh Nanang.
“Serius. Menurut penelitian, senyawa yang ada dalam soup ayam, yaitu carnosine, mampu membantu sistem
kekebalan tubuh untuk melawan flu tahap awal. Sebagian ahli THT juga menyatakan
bahwa cairan panas membantu meningkatkan pergerakan lendir hidung yang
selanjutnya membersihkan saluran udara dan mengurangi kemacetan. Itu menurut
artikel-artikel yang kubaca di internet lo.”
“Sudah kok Ndre. Tadi pagi mama masak soup
ayam, dokternya juga menyarankan begitu.”
“Siplah kalau begitu. Mudah-mudahan mamamu cepat sembuh.”
“Amiin, thanks Ndre.”
Beberapa teman masih bergerombol di depan kelas. Pelajaran baru dimulai
sepuluh menit lagi. Aku langsung menghampiri Iyan yang sedang meraut pensilnya.
“Halo Ron,” sapaku.
“Hai Ndre,” balasnya dengan senyum lebar.
Suasana kelas menjadi riuh ketika Kiki, Nabila, Erni, dan Lilis,
teman-teman perempuanku yang periang, masuk kelas. Sebagian
teman lain masih ada yang sibuk mengutak-atik gadgetnya. Aku segera
mengeluarkan buku diktat dan catatanku. Minggu sebelumnya Pak Sholihin
menyampaikan bahwa beliau akan melanjutkan pembahasan tentang bilangan berpangkat
di jam pertama pagi ini. Masih ada waktu untuk membuka-buka bab ini lagi
sebelum guruku yang terkenal super tegas itu datang. Pangkat bulat positif,
pangkat bulat negatif, dan pangkat nol, belum kumengerti sepenuhnya. Seperti
Haris, semalam aku juga tidak belajar karena suasana hati yang tidak enak. Kususuri
deretan angka berpangkat dan kucoba memahami lagi konsepnya satu per satu.
“Assalamu alaikum warahmatullahi
wabarakaatuh. Selamat pagi, Anak-anak,” sapa Pak Sholihin begitu masuk ke kelas
lima menit kemudian.
“Waalaikum salam. Selamat
pagi, Pak,” jawab kami.
Setelah Nanang memimpin
doa, pak Sholihin memulai pelajaran.
“Hari ini kita mengulas
kembali bilangan berpangkat, latihan soal-soal, dan melanjutkan pembahasan ke
bilangan akar. Ada yang masih ingat konsep-konsep bilangan berpangkat yang
dibahas minggu lalu?”
Aku tidak berani menjawab
karena tidak begitu yakin dengan ingatanku tentang bahasan minggu lalu. Hanna
mengangkat tangan. Dia hampir tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menjawab
pertanyaan guru. Selain cerdas, Hanna juga rajin berlatih mengerjakan soal-soal
Matematika. Di tangannya selalu ada buku-buku bank soal, baik Matematika, Fisika, Kimia atau kadang-kadang bahasa
Inggris. Dia berbeda dengan
teman-teman perempuanku yang lain. Cantik, tidak banyak bicara, juga tidak
banyak tingkah. Beberapa temanku tergila-gila padanya, termasuk Haris walaupun
Hanna menanggapinya biasa-biasa saja.
“Konsep-konsep perkalian
bilangan berpangkat sebagai berikut. Dalam operasi perkalian, jika bilangan
pokoknya sama, maka pangkat dijumlahkan. Dalam operasi pembagian jika bilangan
pokoknya sama, maka pangkatnya dikurangkan dan semua bilangan jika dipangkatkan
nol maka hasilnya adalah satu.”
“Ya betul sekali Hanna.
Yang lain sudah siap mengerjakan latihan soal?” Tanya Pak Sholihin tiba-tiba.
“Tidak Pak...!” jawab
kami serempak.
“Siswa jaman sekarang, baru mendengar kata latihan soal saja sudah
ketakutan. Jangan dibiasakan seperti ini anak-anak. Setiap hari kalian harus
siap menghadapi soal. Ini Matematika. Tidak ada jalan lain untuk menguasai
Matematika selain latihan mengerjakan soal. Mengerti?”
“Mengerti Pak!”
Pak Sholihin yang tiap kali mengajar selalu memakai kopyah itu membagi
papan tulis menjadi dua bagian. Bagian kiri diisi tiga soal operasi perkalian
dan bagian kanan tiga soal operasi pembagian bilangan berpangkat. Beberapa
siswa ditunjuk maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal itu. Tiga siswa laki-laki termasuk aku dan tiga perempuan maju
bergantian. Untung aku menyimak jawaban Hanna tadi sehingga satu soal Pak
Sholihin bisa kukerjakan.
Setelah jam pelajaran Matematika usai, Pak Didik, guru Biologi kami masuk.
Panjang lebar beliau menjelaskan tentang keanekaragaman hayati. Lima belas
menit pertama aku masih menyimak penjelasannya dengan baik. Namun lima belas
menit berikutnya ketika memasuki bahasan tentang keanekaragaman gen tumbuhan
dan hewan, aku mulai bosan. Rasa malas perlahan-lahan menyerangku. Aku berharap
bel istirahat segera berbunyi. Aku bukan tidak suka mata pelajaran Biologi,
tetapi bahasan tentang keanekaragaman hayati tidak menarik bagiku. Bahasan yang
paling kusukai dalam Biologi adalah rantai makanan dan sistem pencernaan
makanan. Tentu saja karena keduanya berhubungan dengan makanan. Seorang
calon Chef harus memahami sistem pencernaan
makanan dalam tubuh manusia. Chef tidak
boleh hanya pintar memasak saja, dia juga harus mengerti bagaimana makanan yang
dimasaknya dicerna tubuh. Selain malas, kantuk juga menyergapku. Aku menguap
tanpa sengaja dan cepat-cepat menutup mulutku.
Tiba-tiba anganku
melayang pada acara MasterChef
Indonesia yang tidak pernah kulewatkan tayangannya. Kubayangkan diriku menjadi
salah satu kontestan dalam ajang pencarian bakat memasak itu. Alangkah bangganya
bila aku memakai apron
berlogo MasterChef dan memasak di
galeri MasterChef bersama
kontestan-kontestan lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Akankah aku mampu menyelesaikan tantangan
demi tantangan yang diberikan oleh para Chef Master? Berapa kali pressure test harus kujalani jika aku melakukan kesalahan?
Aku tersenyum-senyum sendiri. Kurasa aku telah meninggalkan ruangan kelasku. Suara
Pak Didik yang menjelaskan gen dan spesies tumbuhan sambil menunjuk-nunjuk
gambar di papan tulis tidak kudengar lagi. Tak kudengar pula suara teman-temanku yang sesekali
mengajukan pertanyaan pada Pak Didik. Anganku benar-benar telah pindah ke
galeri MasterChef Indonesia, tempat
para kontestan bersaing untuk menyelesaikan tantangan mereka. Di sana tiga chef master sedang berdiri di depan para kontestan MasterChef Indonesia season...season berapa ya? Aku menghitung. Sekarang usiaku 16 tahun. Peserta
MasterChef Indonesia minimal usianya
18 tahun. Berarti dua tahun lagi aku baru bisa mendaftar. Mungkin MasterChef Indonesia season 5 atau 6.
Aku tidak peduli, season berapa pun yang penting aku menjadi kontestan yang memasak
dan ditonton oleh jutaan orang Indonesia. Hei,
para Chef Master-nya masih sama, Chef
Degan, Chef Marinka, dan Chef Arnold.
Chef
Marinka sedang menjelaskan bahwa untuk tantangan kali ini kami diharuskan
memasak bahan utama yang ada dalam mistery
box di depan kami. Aku dan dua puluh sembilan kontestan lainnya penasaran
terhadap isi mistery box itu. Rupanya
aku lolos seleksi dan berhasil masuk ke deretan top thirty calon MasterChef
Indonesia berikutnya. Chef
Marinka membuka mistery box itu. Wow,
organ-organ dalam sapi, otak, limpa, dan paru. Aku bergidik, kurang suka dengan
jerohon sapi. Aku belum pernah masak jerohan sapi sebelumnya. Kalaupun memasak
sapi, aku lebih suka memilih daging has dalam yang kujadikan rendang, dendeng,
atau daging bumbu lapis. Namun aku harus tetap semangat. Chef tidak boleh memilih-milih bahan makanan. Chef harus bisa memasak bahan makanan apa saja. Akhirnya Chef Degan membagi tiga jenis jerohan
sapi itu pada kontestan. Sepuluh kontestan mendapat otak, termasuk aku, sepuluh
lainnya mendapatkan limpa, dan sepuluh kontestan terakhir mendapatkan paru. Otakku
masih blank sampai Chef Arnold menyebutkan hitungan
terakhir waktu kami. Mau dimasak apa otak
sapi bagianku ini? Satu-satunya masakan otak yang kutahu adalah gulai otak
yang biasa dijual di depot-depot masakan Padang. Akhirnya kuputuskan untuk
memasak gulai saja daripada menghabiskan banyak waktu untuk berfikir. Aku
menyalakan kompor dan mulai menyiapkan bumbu-bumbu gulai. Lima buah cabe merah
keriting, 5 siung bawang merah, 2 cm kunyit, 1 cm jahe, 1 cm lengkuas, 1 batang
serai, 1 lembar daun kunyit, sepotong asam kandis, 1 lembar daun jeruk purut,
dan 375 ml santan kukira cukup untuk memasak 200 gram otak sapi ini. Jantungku
mulai berdebar ketika memasukkan otak ke dalam panci. Sejenak aku bimbang, berapa
lama akan kurebus otak itu? Naluriku mengatakan agar aku tidak terlalu lama
merebusnya supaya otaknya tidak lembek. Sebentar saja, sekedar untuk
membersihkan kulit ari dan urat-urat darahnya. Chef Arnold mendekatiku.
“Andre, kamu kebagian
otak. Mau kamu masak apa?”
“Gulai otak ala Padang Chef,” jawabku percaya diri.
“Oke. Hati-hati mengambil
otaknya dari panci.”
“Baik Chef!”
Aku mengangkat otak dari
panci dan meniriskannya. Ketika aku sedang asyik mengupas bawang, kudengar
suara langkah mendekat.
“Andre!”
Suara yang memanggilku
itu membuyarkan konsentrasi memasakku. Suara laki-laki tapi bukan suara Chef Arnold atau Chef Degan. Bukan
pula suara salah satu kontestan di gallery
memasak. Astaga! Aku ingat suara itu. Itu suara Pak Didik, guru biologiku yang
berkumis tebal. Dan sekarang ia sudah berada di dekatku. Oh, My God! Aku seperti terlempar kembali ke
kelasku.
“Dari tadi kamu tidak menyimak penjelasan Bapak. Apa yang kamu lamunkan?” tanya
Pak Didik.
“A...a...anu, Pak...” jawabku gugup.
Tidak marah saja Pak Didik sudah terlihat sangar karena posturnya yang
tinggi besar dan kumisnya yang tebal, apalagi kalau sedang marah seperti ini.
Aku pasti tidak akan lolos dari hukuman.
“Jadi kalau merasa sudah pintar tidak mau mendengarkan penjelasan Bapak?”
tanyanya lagi.
“Bu...bu...kan begitu Pak,” jawabku masih gugup.
Mata pak Didik terus memandangiku. Aku menundukkan muka.
“Kalau memang tidak suka dengan pelajaran Bapak, lebih baik kamu keluar
saja! Tidak usah masuk kelas daripada mengganggu yang lain.”
Aku diam saja. Pak Didik kembali ke depan, menuju meja guru. Dia mengambil selembar
surat pengantar yang ada di meja dan menuliskan sesuatu.
“Kemari kamu!” perintahnya.
Aku beranjak mendekati mejanya.
“Temui guru BP lalu ke perpustakaan buat rangkuman tentang keanekaragaman
hayati. Buat beberapa soal dan jawab sendiri. Ingat kamu tidak boleh istirahat
hari ini. Kerjakan sebelum jam pelajaran Bapak selesai. Mengerti kamu?”
“Baa...ik, Pak.”
Aku menerima surat pengantar yang diberikan Pak Didik lalu melangkah gontai
menuju kantor guru untuk menemui guru BP. Pak Didik tidak hanya merampas waktu
istirahatku dengan memberikan tugas merangkum ini tetapi beliau juga
mengacaukan lamunan indahku sebagai kontestan MasterChef Indonesia. Semoga guru BP tidak menitipkan surat untuk
kedua orangtuaku karena mama dan papa pasti marah kalau sampai mendapatkan
surat dari sekolah karena kesalahanku ini.
*****
Note: Boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya