google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati: Bab 1 Novel Passion in Sop Buah

Tuesday, March 19, 2019

Bab 1 Novel Passion in Sop Buah


Satu
Mama dan Impian Terbesarku

Bagiku, memasak bukan sekedar hobi. Memasak adalah aktivitas yang selalu kulakukan dengan penuh cinta. Lebih dari sekedar memanjakan lidah, memasak adalah representasi sebuah rasa. Selalu tercipta kepuasan setiap aku berhasil memasak hidangan yang enak dan menyajikannya dengan cantik. Sebaliknya, kekecewaan muncul begitu saja bila masakanku gagal total, hambar, keasinan, gosong, atau berasa tak karuan. Bukan hanya itu, menurutku memasak adalah seni yang menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas. Seperti lukisan, aku melihat keindahan pada sepiring masakan atau segelas minuman yang dibuat sepenuh hati. Memasak sebuah resep tak ubahnya melukis obyek. Aku bebas menciptakan bentuk dan warna. Warna merah dari cabe, hijau dari daun suji, orange dari wortel, atau ungu dari ubi jalar tak beda dengan warna-warna cat minyak yang kutuangkan dalam sebuah lukisan di atas kanvasku. Melukis adalah hobiku; menjadi seorang chef adalah keinginanku. Keduanya menjelma indah sebagai rancangan masa depanku.
Bila banyak remaja sepertiku mengidolakan para artis-artis luar negeri atau boy band yang sedang naik daun, aku justru mengagumi para chef. Salah satunya adalah Chef Chandra Yudasswara yang menurutku keren habis-habisan. Aku juga mengidolakan para penggawa MasterChef Indonesia. Chef Juna dan Chef Degan, Chef Marinka, dan Chef Arnold sudah lama masuk dalam daftar chef idolaku. Lebih-lebih Chef Choi Hyun Wook dalam serial drama Korea Romance in Pasta. Chef Choi Hyun Wook dalam cerita drama itu digambarkan sebagai sosok chef karismatik yang sangat perfeksionis ketika bekerja di dapur La Sfera[1]. Seperti mereka, orang-orang yang sukses di bidang kuliner itulah aku memimpikan diriku di masa depan.
Sayangnya mama punya keinginan lain atas diriku. Melukis is fine. Dia mendukung hobiku ini. Tapi memasak tidak. Mama samasekali tidak merestui keinginanku untuk menjadi seorang chef. Dia malah terang-terangan menentang cita-citaku ini. Kemarin lusa mama memarahi mbak Jum karena aku ketahuan menggantikan tugasnya memasak makan siang untukku. Parahnya, mama menyembunyikan buku-buku dan buletin-buletin boga miliknya sehingga aku tidak bisa lagi menyontek resep. Sekarang mama malah memangkas uang jajanku. Tujuannya tentu saja supaya aku tidak bisa membeli bahan-bahan untuk belajar memasak. Mama pula yang membelikan alat-alat melukisku. Pensil gambar, buku gambar, kanvas, cat minyak, kuas, semuanya dibelikan oleh mama. Praktis aku tak punya alasan lain lagi untuk meminta uang lebih.
Mama sungguh keras kepala. Berulang-ulang aku merayu bahkan memohon-mohon padanya agar mengizinkanku pindah ke SMK jurusan boga. Namun dia bergeming. Mama tetap pada pendiriannya, tidak mengizinkan aku pindah ke SMK jurusan boga. Baginya profesi Chef samasekali tidak bergengsi. Mama tidak menghiraukan keberatan-keberatanku. Lulus dari SMUN favorit di kota ini dengan nilai UAN tinggi kemudian melanjutkan ke Fakultas Teknik universitas negeri jurusan arsitektur. Itulah ambisi terbesar mama atas diriku. Dia bersikeras ingin menjadikanku seorang arsitek. Dan entah berapa kali sudah aku berantem dengan mama gara-gara masalah ini.
 “Pokoknya nggak! Kamu nggak boleh pindah ke SMK boga. Banyak teman-temanmu yang ingin masuk ke sekolah negeri tapi gagal karena nilai mereka nggak mencukupi. Kamu malah kebalikannya, sudah sekolah di SMU negeri malah minta pindah ke SMK swasta,” omelnya panjang lebar. 
“Sudah Andre bilang Andre mau sekolah boga. Tapi Mama memaksa Andre masuk SMUN. Andre nggak mau jadi arsitek Ma. Andre maunya jadi CHEF!” protesku.
“Oh, jadi karena kamu ingin jadi TUKANG MASAK makanya kamu mau pindah sekolah. Begitu?” jawab mama dengan nada agak membentak.
Penampakan mama jadi terlihat aneh (kalau tidak boleh dibilang seram). Kacamatanya melorot hingga hampir menyentuh ujung hidungnya yang kurang mancung. Kedua alisnya terangkat naik. Dan matanya itu..., kenapa jadi melotot? Dia melempar begitu saja majalah Kartini yang ada di pangkuannya sesaat sebelum memelototiku sehingga aku terbengong-bengong dibuatnya.  
“Begitu kan?” tanyanya menegaskan.
Aku kelabakan. Bukan karena nggak bisa menjawab tapi bentakan dan mata mama yang memelototiku itu membuat nyaliku ciut. Oh Tuhan, harus dengan kata-kata bagaimana lagi aku meyakinkan mama kalau pilihanku tidak seburuk yang difikirkannya.
“Bukan tukang masak Ma tapi CHEF!” jawabku setelah menenangkan diri.
“Apa bedanya chef dengan tukang masak, hah?” tanya mama nggak mau mengalah.
“Beda Ma. Tukang masak itu memasak di dapur kita seperti mbak Jum, Chef adalah KOKI yang memasak di restoran-restoran besar atau hotel-hotel berbintang. Mereka lulusan sekolah kuliner, malah banyak yang lulusan luar negeri.”
Aku menjelaskan dengan nada kesal. Emosiku mulai terpancing. Sengaja aku mengeraskan kata “KOKI” karena tidak rela profesi yang kuidam-idamkan di masa depan dianggap remeh oleh mama.
“Bagi Mama sama saja, chef atau koki katamu, tetap saja tukang masak!”
“Beda Ma. Chef, bukan tukang masak!” sanggahku.
“Tukang masak!”
Chef Mama!”
“Tukang masak!”
“Pokoknya Andre mau pindah sekolah!”
“Pokoknya Mama nggak setuju.”
“Melukis Andre diizinkan, kenapa memasak nggak boleh?”
“Karena melukis bisa meningkatkan keahlian menggambarmu. Kalau kamu sudah kuliah arsitektur nanti, tiap hari kamu pasti menggambar, Ndre.”
“Andre sudah bilang, Andre nggak mau jadi arsitek. Kenapa Mama ngotot banget?”
“Kamu belum tahu apa yang kamu inginkan Andre. Masa depan bukan main-main. Kamu harus memikirkannya matang-matang.”
“Andre bukan anak kecil lagi Ma. Andre bisa menentukan pilihan untuk masa depan Andre sendiri.”
“O ya? Baru enam belas tahun sudah merasa dewasa?” tanya mama sinis.  
 “Sebenarnya yang sekolah siapa sih, Andre atau Mama?” tanyaku dengan nada suara agak tinggi.
“Kamu mulai berani sama Mama?” balas mama dengan nada lebih tinggi.
“Mama terlalu memaksa Andre.”
“Kamu tidak rasional. Cita-cita itu yang tinggi. Jadi pegawai negeri, direktur, jenderal, dokter, polisi, bupati, gubernur, menteri, atau presiden sekalian. Eh, ini malah mau jadi tukang masak.”
“Mama egois!”
Aku bangkit dari sofa lalu masuk ke kamarku. Brakk!! Kubanting pintu tanpa menghiraukan teriakan mama lagi. Hatiku kesal bukan kepalang. Mama tidak bisa dibujuk. Ujung-ujungnya hanya pertengkaran tanpa guna. Aku mengumpat-umpat menyesali kesialanku. Bukan salahku kalau aku suka memasak. Justru dalam hal ini mama lebih pantas disalahkan karena dari mama lah hobi memasakku berasal.
Aku adalah anak tunggal mama dan papa. Lima tahun lamanya mama menunggu kehamilan pertamanya sehingga kehadiranku benar-benar menjadi anugerah terindah bagi mereka. Mama pun memutuskan untuk berhenti bekerja agar bisa total mengurusku. Aku dimanjakan, diperhatikan, dan disayangi sepenuh hati. Kata nenekku, sejak umur 6 bulan ketika aku sudah diizinkan menikmati makanan semi padat, mama sudah memanjakanku dengan makanan-makanan enak dan bergizi. Dia tidak pernah membeli bubur kemasan atau makanan pendamping ASI buatan pabrik. Mama lebih suka memasak sendiri makanan untukku. Masih kata nenekku, mama begitu memerhatikan kandungan gizi dan kebersihan makanan yang diberikan padaku. Aneka puree sayur dan buah-buahan seperti wortel, brokoli, bayam, labu, baby buncis, tomat, pisang, apel, dan jeruk peras, semua dipilihkan kualitas nomor satu. Hampir tiap hari menuku diganti-ganti. Bubur tim beras merah campur daging, tim tofu hati ayam, sup wortel kaldu tuna, tim salmon plus brokoli, pokoknya variatif sekali. Nenek juga bilang kalau aku tumbuh menjadi balita yang montok, sehat, dan menggemaskan. Jarang sekali aku sakit. Sekali dua kali aku sakit, itu pun hanya panas. Aku hampir tidak pernah terserang batuk pilek seperti yang dialami kebanyakan bayi. Mungkin karena ASI ekslusif dan gizi MPASI[2] yang diberikan mama padaku. Kata nenekku lagi, seminggu dua kali dia mengunjungi rumah kami karena rindu ingin mengasuhku. Padahal untuk sampai ke rumahku, nenek harus menempuh hampir 8 jam perjalanan. Kadang beberapa tetangga juga berebut ingin menggendongku. Aku mengiyakan cerita nenekku, karena tiap kali memutar CD-CD mama yang berisi foto-foto masa kecilku, aku suka tersenyum gemas melihat diriku sendiri waktu balita. 
Ketika aku sekolah di Taman Kanak-kanak dulu tiap hari mama memberiku bekal masakan yang enak dan selalu dihias cantik. Nasi goreng, menu favoritku digulung dalam lembaran telur dadar lalu dipotong-potong seperti rolade. Di atas potongan rolade nasi goreng itu ditambahkan telur rebus yang dibelah dua dan diberi hiasan mata, mulut, dan hidung dari wortel dan irisan sosis. Persis seperti muka anak ayam yang imut-imut. Pernah mama membekaliku nasi putih yang dicetak segilima seperti bentuk bintang, irisan ikan tuna goreng, beberapa kuntum brokoli rebus, dan potongan sosis yang dibuat mirip seperti cumi-cumi. Menuku berganti-ganti setiap harinya. Hiasannya juga tidak pernah sama. Itulah yang membuat bekalku nyaris tak tersisa. Aku selalu makan dengan lahap. Suatu ketika teman sekelasku tergiur dan merebut bekalku karena mama membentuknya mirip dengan SpongeBob, tokoh kartun idolanya. Tentu saja aku mempertahankannya. Masakan mama paling enak sedunia. Aku tidak pernah rela membaginya dengan orang lain, sekalipun dia teman sebangkuku. Sayangnya,  Ibu Elly, guru TK-ku, menyuruhku membagi setengah bekalku pada temanku itu. Dan aku tidak berani menentang perintah guru. Walaupun aku juga mendapatkan setengah bekal dari temanku itu, aku tetap bersungut-sungut karena tidak rela. Esoknya mama membawakan dua kotak bekal, satu untukku, satu lagi untuk temanku itu. Kami pun berbaikan dan makan bersama di ruang makan sekolah. Sejak saat itu pula, kami bersahabat.
Menjelang masuk sekolah dasar, mama selalu mengajakku kemana pun dia pergi. Kecuali kalau ada nenekku sedang berkunjung, aku ditinggal di rumah bersama nenek. Arisan, pergi ke salon atau penjahit aku selalu diajak karena tidak ada orang yang menjagaku bila aku ditinggal di rumah. Di mana ada mama, di situ pula aku berada. Aku paling senang diajak mama pergi berbelanja, baik ke supermarket atau pasar besar. Pemandangan di pasar, apalagi di supermarket, tidak pernah menjemukan bagiku. Ikan-ikan laut yang segar banyak jenisnya. Ayam, daging, dagangan buah yang ditata bertumpuk-tumpuk dan sebagian digantung. Aneka ragam sayur mayur menjadi pemandangan yang tidak ingin kulewatkan saat itu. Kombinasi warna-warna paprika, merah, kuning, dan hijau, tomat cherry yang merah dan imut membuatku selalu ingin menyentuhnya. Mama menunjukkan cara memilih paprika yang bagus. Tidak terlalu besar, dagingnya keras dan tidak layu. Mama juga memberitahuku kalau daging, ayam, udang, cumi dan ikan, harus fresh. Warna kulit ikan harus cerah, mata jernih menonjol dan cekung, ingsangnya harus berwarna merah segar. Itulah sebagian yang diberitahukan mama kepadaku ketika kami sedang belanja.
Pulang sekolah, setelah mengganti seragam dan istirahat sejenak aku menemani mama memasak untuk makan siang kami. Aku melihat, bahkan mengamati apa pun yang dikerjakannya. Mengiris wortel, mengupas bawang bombay, mengeluarkan isi cabe, memotong sayuran, membelah ikan, menumis, menggoreng, mengolah masakan, hingga menatanya di piring. Kadang-kadang mama memintaku mencicipi masakannya. Mama selalu terlihat senang meskipun jawabanku selalu sama, Enak, Ma. Mama tidak pernah memasak banyak. Tiga porsi untuk sarapan, dua porsi untuk makan siang, dan tiga porsi untuk makan malam dengan menu yang berbeda, termasuk buah-buahan, puding, atau kue-kue mungil untuk makanan penutup kami. Kecuali bila nenek dan kakekku atau keluarga Tante Ratna menginap mama akan memasak lebih banyak. Kelas 3 SD aku semakin sering membantu mama memasak di dapur. Mengupas bawang, memotong sayuran, menggoreng tempe, memeras santan dari parutan kelapa, atau mengaduk-aduk isi panci supaya agar-agar mama tidak meluap kemana-mana. Karena itulah aku lebih suka berada di dapur daripada nonton TV atau main game.
Baru setelah aku masuk SMP, mama kembali bekerja sebagai staf finance di sebuah pabrik sepatu, sekitar lima kilometer dari rumah kami. Sementara papa tiap hari sibuk dengan pekerjaannya sebagai manajer bank swasta di kotaku, Sidoarjo. Tugas mama memasak dan mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya digantikan oleh mbak Jum. Tetapi walaupun sudah sering diajari mama, masakan mbak Jum jauh sekali rasanya dibandingkan masakan mama. Sama jauhnya dengan jarak Sidoarjo-Yogyakarta ditempuh dengan sepeda motor tua. Makanya aku lebih suka memasak makan siangku sendiri. Tentunya dengan menyontek resep-resep di majalah atau buletin boga milik mama. Lalu perlahan-lahan, keinginan untuk menjadi chef tumbuh subur dalam diriku. Jika tidak sedang kursus melukis aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk belajar memasak daripada nongkrong dengan teman-teman atau main game.
 Sekarang aku jadi heran. Kenapa mama tidak suka bila aku berkreasi di dapurnya. Kenapa mama menentang cita-citaku menjadi chef kalau dia lah yang mengenalkanku pada dapur dan seluruh tetek bengeknya sejak aku kecil? Bukankah mama pula yang telah membuatku jatuh cinta pada masakan-masakannya yang lezat dan cantik sejak aku TK? Bukankah darah memasakku mengalir dari darahnya? Kenapa mama begitu berambisi menjadikanku seorang arsitek? Mengapa aku tidak boleh menentukan profesi untuk masa depanku sendiri? Semua ini masih menjadi misteri bagiku.
Kuputar musik rock keras-keras dari music player ponselku. Kupukul-pukul bantal, kulempar guling, kubuat buku-buku pelajaran yang ada di meja belajarku berserakan. Apa saja ingin kulakukan untuk melampiaskan kekesalanku. Kupandangi poster-poster chef di dinding kamarku. Chef Arnold terlihat gagah dalam balutan kemeja chef-nya. Chef Marinka sedang tersenyum begitu manisnya. Chef Choi Hyun Wook seperti sedang mengarahkan sumpitnya padaku. Chef Candra sedang berdiri di hadapan meja sajinya. Akankah aku bisa menjadi chef seperti mereka? Saat ini aku hanya bisa menyimpan keinginanku ini. Aku belum bisa memperjuangkannya, terutama di depan mama.
Mama mendikte langkah-langkahku. Aku seperti anak kecil dibuatnya. Padahal sekarang aku sudah kelas X. Aku tidak tahu kenapa mama nggak mau mengalah pada anaknya sendiri. Sampai saat ini pun mama masih menganggapku belum dewasa. Bagaimana caranya meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu? Bagaimana meyakinkan mama kalau chef adalah profesi bergengsi? Otakku terus berputar mencari cara untuk menyelamatkan cita-citaku yang sedang berada di ujung tanduk.

*****






[1] Restoran tempat Chef Choi Hyun Wook bekerja dalam serial drama Korea, Romance in Pasta
[2] Makanan pendamping ASI

Note : Boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya.

No comments:

Post a Comment

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...