Satu
Mama
dan Impian Terbesarku
Bagiku, memasak bukan
sekedar hobi. Memasak adalah aktivitas yang selalu kulakukan dengan penuh cinta. Lebih dari sekedar memanjakan
lidah, memasak adalah representasi sebuah rasa. Selalu tercipta kepuasan setiap
aku berhasil memasak hidangan yang enak dan menyajikannya dengan cantik. Sebaliknya,
kekecewaan muncul begitu saja bila masakanku gagal total, hambar, keasinan,
gosong, atau berasa tak karuan. Bukan hanya itu, menurutku memasak adalah seni
yang menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas. Seperti lukisan, aku
melihat keindahan pada sepiring masakan atau segelas minuman yang dibuat sepenuh
hati. Memasak sebuah resep tak ubahnya melukis obyek. Aku bebas menciptakan
bentuk dan warna. Warna merah dari cabe, hijau dari daun suji, orange dari wortel, atau ungu dari ubi
jalar tak beda dengan warna-warna cat minyak yang kutuangkan dalam sebuah
lukisan di atas kanvasku. Melukis adalah hobiku; menjadi seorang chef adalah keinginanku. Keduanya menjelma
indah sebagai rancangan masa depanku.
Bila banyak remaja sepertiku mengidolakan para artis-artis luar negeri atau
boy band yang sedang naik daun, aku justru mengagumi para chef. Salah satunya adalah Chef Chandra
Yudasswara yang menurutku keren habis-habisan. Aku juga mengidolakan para penggawa
MasterChef Indonesia. Chef Juna dan Chef Degan, Chef Marinka,
dan Chef Arnold sudah lama masuk
dalam daftar chef idolaku. Lebih-lebih
Chef Choi Hyun Wook dalam serial drama
Korea Romance in Pasta. Chef Choi Hyun Wook dalam cerita drama
itu digambarkan sebagai sosok chef karismatik
yang sangat perfeksionis ketika bekerja di dapur La Sfera[1].
Seperti mereka, orang-orang yang sukses di bidang kuliner itulah aku memimpikan
diriku di masa depan.
Sayangnya mama punya
keinginan lain atas diriku. Melukis is
fine. Dia mendukung hobiku ini. Tapi memasak tidak. Mama samasekali tidak merestui
keinginanku untuk menjadi seorang chef. Dia
malah terang-terangan menentang cita-citaku ini. Kemarin lusa mama memarahi mbak
Jum karena aku ketahuan menggantikan tugasnya memasak makan siang untukku. Parahnya,
mama menyembunyikan buku-buku dan buletin-buletin boga miliknya sehingga aku
tidak bisa lagi menyontek resep. Sekarang mama malah memangkas uang jajanku. Tujuannya
tentu saja supaya aku tidak bisa membeli bahan-bahan untuk belajar memasak. Mama
pula yang membelikan alat-alat melukisku. Pensil gambar, buku gambar, kanvas,
cat minyak, kuas, semuanya dibelikan
oleh mama. Praktis aku tak punya alasan lain lagi untuk meminta uang lebih.
Mama sungguh keras
kepala. Berulang-ulang aku merayu bahkan memohon-mohon padanya agar
mengizinkanku pindah ke SMK jurusan boga. Namun dia bergeming. Mama tetap pada
pendiriannya, tidak mengizinkan aku pindah ke SMK jurusan boga. Baginya profesi
Chef samasekali tidak bergengsi. Mama
tidak menghiraukan keberatan-keberatanku. Lulus dari SMUN favorit di kota ini dengan
nilai UAN tinggi kemudian melanjutkan ke Fakultas Teknik universitas negeri jurusan
arsitektur. Itulah ambisi
terbesar mama atas diriku. Dia bersikeras ingin menjadikanku seorang arsitek. Dan
entah berapa kali sudah aku berantem dengan mama gara-gara masalah ini.
“Pokoknya nggak! Kamu nggak boleh
pindah ke SMK boga. Banyak teman-temanmu yang ingin masuk ke sekolah negeri
tapi gagal karena nilai mereka nggak mencukupi. Kamu malah kebalikannya, sudah
sekolah di SMU negeri malah minta pindah ke SMK swasta,” omelnya panjang
lebar.
“Sudah Andre bilang Andre mau sekolah boga. Tapi Mama memaksa Andre masuk
SMUN. Andre nggak mau jadi arsitek Ma. Andre maunya jadi CHEF!” protesku.
“Oh, jadi karena kamu ingin jadi TUKANG MASAK makanya kamu mau pindah
sekolah. Begitu?” jawab mama dengan nada agak membentak.
Penampakan mama jadi terlihat aneh (kalau tidak boleh dibilang seram). Kacamatanya
melorot hingga hampir menyentuh ujung hidungnya yang kurang mancung. Kedua alisnya terangkat naik. Dan matanya itu..., kenapa jadi melotot? Dia melempar begitu
saja majalah Kartini yang ada di pangkuannya sesaat sebelum memelototiku sehingga
aku terbengong-bengong dibuatnya.
“Begitu kan?” tanyanya
menegaskan.
Aku kelabakan. Bukan
karena nggak bisa menjawab tapi bentakan dan mata mama yang memelototiku itu membuat
nyaliku ciut. Oh Tuhan, harus dengan kata-kata bagaimana lagi aku meyakinkan
mama kalau pilihanku tidak seburuk yang difikirkannya.
“Bukan tukang masak Ma
tapi CHEF!” jawabku setelah
menenangkan diri.
“Apa bedanya chef dengan tukang masak, hah?” tanya mama
nggak mau mengalah.
“Beda Ma. Tukang masak
itu memasak di dapur kita seperti mbak Jum, Chef
adalah KOKI yang memasak di restoran-restoran besar atau hotel-hotel
berbintang. Mereka lulusan sekolah kuliner, malah banyak yang lulusan luar
negeri.”
Aku menjelaskan dengan nada kesal. Emosiku mulai terpancing. Sengaja aku mengeraskan
kata “KOKI” karena tidak rela profesi yang kuidam-idamkan di masa depan
dianggap remeh oleh mama.
“Bagi Mama sama saja, chef atau
koki katamu, tetap saja tukang masak!”
“Beda Ma. Chef, bukan tukang
masak!” sanggahku.
“Tukang masak!”
“Chef Mama!”
“Tukang masak!”
“Pokoknya Andre mau pindah sekolah!”
“Pokoknya Mama nggak setuju.”
“Melukis Andre diizinkan, kenapa memasak nggak boleh?”
“Karena melukis bisa meningkatkan keahlian menggambarmu. Kalau kamu sudah
kuliah arsitektur nanti, tiap hari kamu pasti menggambar, Ndre.”
“Andre sudah bilang, Andre nggak mau jadi arsitek. Kenapa Mama ngotot
banget?”
“Kamu belum tahu apa yang kamu inginkan Andre. Masa
depan bukan main-main. Kamu harus memikirkannya matang-matang.”
“Andre bukan anak kecil lagi Ma. Andre bisa menentukan pilihan untuk masa depan Andre
sendiri.”
“O ya? Baru enam belas tahun sudah merasa dewasa?” tanya mama sinis.
“Sebenarnya yang sekolah siapa sih,
Andre atau Mama?” tanyaku dengan nada suara agak tinggi.
“Kamu mulai berani sama Mama?” balas mama dengan nada lebih tinggi.
“Mama terlalu memaksa Andre.”
“Kamu tidak rasional. Cita-cita itu yang tinggi. Jadi pegawai negeri, direktur,
jenderal, dokter, polisi, bupati,
gubernur, menteri, atau presiden sekalian. Eh, ini malah
mau jadi tukang masak.”
“Mama egois!”
Aku bangkit dari sofa lalu masuk ke kamarku. Brakk!! Kubanting pintu tanpa menghiraukan teriakan mama lagi. Hatiku
kesal bukan kepalang. Mama tidak bisa dibujuk. Ujung-ujungnya hanya
pertengkaran tanpa guna. Aku mengumpat-umpat menyesali kesialanku. Bukan
salahku kalau aku suka memasak. Justru dalam hal ini mama lebih pantas disalahkan
karena dari mama lah hobi memasakku berasal.
Aku adalah anak tunggal mama dan papa. Lima tahun lamanya mama menunggu
kehamilan pertamanya sehingga kehadiranku benar-benar menjadi anugerah terindah
bagi mereka. Mama pun memutuskan untuk berhenti bekerja agar bisa total
mengurusku. Aku dimanjakan, diperhatikan, dan disayangi sepenuh hati. Kata nenekku,
sejak umur 6 bulan ketika aku sudah diizinkan menikmati makanan semi padat, mama
sudah memanjakanku dengan makanan-makanan enak dan bergizi. Dia tidak pernah
membeli bubur kemasan atau makanan pendamping ASI buatan pabrik. Mama lebih
suka memasak sendiri makanan untukku. Masih kata nenekku, mama begitu memerhatikan
kandungan gizi dan kebersihan makanan yang diberikan padaku. Aneka puree sayur dan buah-buahan seperti wortel,
brokoli, bayam, labu, baby buncis, tomat,
pisang, apel, dan jeruk peras, semua dipilihkan kualitas nomor satu. Hampir
tiap hari menuku diganti-ganti. Bubur tim beras merah campur daging, tim tofu hati
ayam, sup wortel kaldu tuna, tim salmon plus brokoli, pokoknya variatif sekali.
Nenek juga bilang kalau aku tumbuh menjadi balita yang montok, sehat, dan
menggemaskan. Jarang sekali aku sakit. Sekali dua kali aku sakit, itu pun hanya
panas. Aku hampir tidak pernah terserang batuk pilek seperti yang dialami
kebanyakan bayi. Mungkin karena ASI ekslusif dan gizi MPASI[2]
yang diberikan mama padaku. Kata nenekku lagi, seminggu dua kali dia mengunjungi
rumah kami karena rindu ingin mengasuhku. Padahal untuk sampai ke rumahku,
nenek harus menempuh hampir 8 jam perjalanan. Kadang beberapa tetangga juga berebut
ingin menggendongku. Aku mengiyakan cerita nenekku, karena tiap kali memutar
CD-CD mama yang berisi foto-foto masa kecilku, aku suka tersenyum gemas melihat
diriku sendiri waktu balita.
Ketika aku sekolah di Taman Kanak-kanak dulu tiap hari mama memberiku bekal
masakan yang enak dan selalu dihias cantik. Nasi goreng, menu favoritku digulung
dalam lembaran telur dadar lalu dipotong-potong seperti rolade. Di atas
potongan rolade nasi goreng itu ditambahkan telur rebus yang dibelah dua dan
diberi hiasan mata, mulut, dan hidung dari wortel dan irisan sosis. Persis
seperti muka anak ayam yang imut-imut. Pernah mama membekaliku nasi putih yang
dicetak segilima seperti bentuk bintang, irisan ikan tuna goreng, beberapa
kuntum brokoli rebus, dan potongan sosis yang dibuat mirip seperti cumi-cumi. Menuku
berganti-ganti setiap harinya. Hiasannya juga tidak pernah sama. Itulah yang
membuat bekalku nyaris tak tersisa. Aku selalu makan dengan lahap. Suatu ketika
teman sekelasku tergiur dan merebut bekalku karena mama membentuknya mirip
dengan SpongeBob, tokoh kartun
idolanya. Tentu saja aku mempertahankannya. Masakan mama paling enak sedunia. Aku
tidak pernah rela membaginya dengan orang lain, sekalipun dia teman sebangkuku.
Sayangnya, Ibu Elly, guru TK-ku, menyuruhku
membagi setengah bekalku pada temanku itu. Dan aku tidak berani menentang
perintah guru. Walaupun aku juga mendapatkan setengah bekal dari temanku itu,
aku tetap bersungut-sungut karena tidak rela. Esoknya mama membawakan dua kotak
bekal, satu untukku, satu lagi untuk temanku itu. Kami pun berbaikan dan makan
bersama di ruang makan sekolah. Sejak saat itu pula, kami bersahabat.
Menjelang masuk sekolah dasar, mama selalu mengajakku kemana pun dia pergi.
Kecuali kalau ada nenekku sedang berkunjung, aku ditinggal di rumah bersama
nenek. Arisan, pergi ke salon atau penjahit aku selalu diajak karena tidak ada
orang yang menjagaku bila aku ditinggal di rumah. Di mana ada mama, di situ pula
aku berada. Aku paling senang diajak mama pergi berbelanja, baik ke supermarket
atau pasar besar. Pemandangan di pasar, apalagi di supermarket, tidak pernah
menjemukan bagiku. Ikan-ikan laut yang segar banyak jenisnya. Ayam, daging, dagangan
buah yang ditata bertumpuk-tumpuk dan sebagian digantung. Aneka ragam sayur
mayur menjadi pemandangan yang tidak ingin kulewatkan saat itu. Kombinasi
warna-warna paprika, merah, kuning, dan hijau, tomat cherry yang merah dan imut
membuatku selalu ingin menyentuhnya. Mama menunjukkan cara memilih paprika yang
bagus. Tidak terlalu besar, dagingnya keras dan tidak layu. Mama juga
memberitahuku kalau daging, ayam, udang, cumi dan ikan, harus fresh. Warna kulit ikan harus cerah, mata
jernih menonjol dan cekung, ingsangnya harus berwarna merah segar. Itulah
sebagian yang diberitahukan mama kepadaku ketika kami sedang belanja.
Pulang sekolah, setelah mengganti seragam dan istirahat sejenak aku menemani
mama memasak untuk makan siang kami. Aku melihat, bahkan mengamati apa pun yang
dikerjakannya. Mengiris wortel, mengupas bawang bombay, mengeluarkan isi cabe, memotong sayuran, membelah ikan,
menumis, menggoreng, mengolah masakan, hingga menatanya di piring. Kadang-kadang
mama memintaku mencicipi masakannya. Mama selalu terlihat senang meskipun
jawabanku selalu sama, Enak, Ma. Mama
tidak pernah memasak banyak. Tiga porsi untuk sarapan, dua porsi untuk makan
siang, dan tiga porsi untuk makan malam dengan menu yang berbeda, termasuk
buah-buahan, puding, atau kue-kue mungil untuk makanan penutup kami. Kecuali
bila nenek dan kakekku atau keluarga Tante Ratna menginap mama akan memasak lebih
banyak. Kelas 3 SD aku semakin sering membantu mama memasak di dapur. Mengupas bawang, memotong
sayuran, menggoreng tempe, memeras santan dari parutan kelapa, atau mengaduk-aduk
isi panci supaya agar-agar mama tidak meluap kemana-mana.
Karena itulah aku lebih suka berada di dapur daripada nonton TV atau main game.
Baru setelah aku masuk SMP, mama kembali bekerja sebagai staf finance di sebuah pabrik sepatu, sekitar
lima kilometer dari rumah kami. Sementara papa tiap hari sibuk dengan
pekerjaannya sebagai manajer bank
swasta di kotaku, Sidoarjo. Tugas mama memasak dan mengurus pekerjaan rumah
tangga lainnya digantikan oleh mbak Jum. Tetapi walaupun sudah sering
diajari mama,
masakan mbak Jum jauh sekali rasanya dibandingkan masakan mama. Sama jauhnya dengan jarak Sidoarjo-Yogyakarta ditempuh
dengan sepeda motor tua. Makanya aku lebih suka memasak makan siangku sendiri. Tentunya
dengan menyontek resep-resep di majalah atau buletin boga milik mama. Lalu
perlahan-lahan, keinginan untuk menjadi chef
tumbuh subur dalam diriku. Jika tidak sedang kursus melukis aku lebih suka menghabiskan
waktuku untuk belajar memasak daripada nongkrong dengan teman-teman atau main game.
Sekarang aku jadi heran. Kenapa mama
tidak suka bila aku berkreasi di dapurnya. Kenapa mama menentang cita-citaku
menjadi chef kalau dia lah yang
mengenalkanku pada dapur dan seluruh tetek bengeknya sejak aku kecil? Bukankah
mama pula yang telah membuatku jatuh cinta pada masakan-masakannya yang lezat
dan cantik sejak aku TK? Bukankah darah memasakku mengalir dari darahnya? Kenapa
mama begitu berambisi menjadikanku seorang arsitek? Mengapa aku tidak boleh menentukan profesi untuk masa
depanku sendiri? Semua ini masih
menjadi misteri bagiku.
Kuputar musik rock keras-keras dari music player ponselku.
Kupukul-pukul bantal, kulempar guling, kubuat buku-buku
pelajaran yang ada di meja belajarku berserakan. Apa saja ingin kulakukan untuk
melampiaskan kekesalanku. Kupandangi poster-poster chef di dinding kamarku. Chef Arnold terlihat gagah dalam balutan
kemeja chef-nya. Chef Marinka sedang tersenyum begitu manisnya. Chef Choi Hyun Wook seperti
sedang mengarahkan sumpitnya padaku. Chef Candra sedang berdiri di hadapan meja
sajinya. Akankah aku bisa menjadi chef
seperti mereka? Saat ini aku hanya bisa menyimpan keinginanku ini. Aku
belum bisa memperjuangkannya, terutama di depan mama.
Mama mendikte langkah-langkahku. Aku seperti anak kecil dibuatnya. Padahal
sekarang aku sudah kelas X. Aku tidak tahu kenapa mama nggak mau mengalah pada
anaknya sendiri. Sampai saat ini pun mama masih menganggapku belum dewasa. Bagaimana caranya meluluhkan hatinya yang
sekeras batu itu? Bagaimana
meyakinkan mama kalau chef adalah profesi bergengsi? Otakku terus berputar
mencari cara untuk menyelamatkan cita-citaku yang sedang berada di ujung tanduk.
*****
No comments:
Post a Comment