google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati: Tak Pandai Berpuisi

Tuesday, March 12, 2019

Tak Pandai Berpuisi

Aku sama sekali tidak pandai berpuisi. Zaman kuliah dulu, mata kuliah ini termasuk salah satu mata kuliah yang sulit buatku selain Syntax, Phonetix, dan Pronunciation. Bagiku lebih mudah menulis prosa berlembar-lembar daripada dua bait puisi. Mungkin karena aslinya aku ini orang yang tidak suka basa-basi. Lebih nyaman dengan style straight to the point. Kalau A bilang A, kalau B jarang sekali menjadi C. Istilah lainnya sedikit kaku atau kurang fleksibel (kata sebagian orang). Padahal aslinya aku suka puisi loh. Aku mulai terpesona dengan puisi sejak bapak dosen memperkenalkanku dengan salah satu puisi Emily Dickinson, There is no Frigate like a Book. Juga salah satu puisi Robert Frost yang kuingat betul judulnya, Stopping by Woods on a Snowy Evening. Ada lagi puisi yang diajarkan dosen yang kalau gak salah baris terakhirnya Charlotta da gocha. Wow, siapa sih yang tidak suka bait-bait berisi diksi yang indah-indah itu? Siapa pula yang tidak senang kalau bisa menyampaikan pesan dan kadang (sindiran) lewat kalimat-kalimat majas dalam puisi? Apalagi puisi dalam bahasa Inggris. Keren habis deh. 

Adalah di tahun 2012 ketika aku mendapatkan info tentang Lomba Menulis Puisi. Kalau tidak salah Lomba Cipta Puisi Padang https://padangdalampuisi.blogspot.com/2011/08/lomba-cipta-puisi-2011-berhadiah-wisata.html. Melihat hadiahnya yang keren-keren (walau hampir pasti tidak menang he...he...) aku memaksakan diri menulis sebuah puisi untuk lomba itu. Mulailah bergerilya mencari info. Mumet, mau nulis apa soal padang. Browsing sana-sini. Mikir, ngelamun, mengulik-ulik ide, dan sebagainya. Akhirnya teringat nikahan saudara yang istrinya orang padang. Setelah draf dan berkali-kali edit. Jadi juga puisi ini yang alhamdulillah masuk dalam 75 puisi yang terpilih untuk dibukukan. Alhamdulillah, puisi pertamaku masuk dalam buku antologi Epitaf Arau bersama Kurnia Hadinata (sang pemenang, dkk) https://www.tokopedia.com/embunbening/antologi-puisi-epitaf-arau-hut-kota-padang?m_id=7943025. Benar-benar rezeki karena memang aku masih nol putul dalam bidang per-puisi-an. 

Pengantin Padang

Aku terpaku di tengah kerumunan
Mata tak berkedip ingin terus memandang
Sepasang pengantin berjalan beriringan
Disambut muda-mudi dengan tarian Persembahan

Baju kurung panjang bersulam benang keemasan
Bertingkat-tingkat sunting dimahkotakan
Tujuh untai melati dalam rangkaian hiasan
Semburai wanginya merebak tajam
Mengantar hingga ke pelaminan

Raja dan ratu sehari disanjung-sanjung
Gelar adat diagungkan
Nasehat dijunjung tinggi
Bahtera hidup siap diarungi

Elok nian pengantin Padang
Amboi, aku tersihir pesonanya
Indah rupa, indah perangainya

Dan ketika aku memiliki kesempatan untuk berkunjung ke kota Padang, aku mendapatkan bukunya berkat informasi dari seorang teman dunia maya. Alhamdulillah lagi. 

Sekarang aku lagi niat banget belajar Puisi. Alhamdulillah lagi, aku diizinkan join dengan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Di kelas ini, setiap minggu aku harus setor satu puisi. Jiah, sulit tapi memaksa diri harus bisa. Kubilang pada diriku sendiri. Semangat...!!!



Note: boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya


No comments:

Post a Comment

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...