Aku sama sekali tidak pandai berpuisi. Zaman kuliah dulu, mata kuliah ini termasuk salah satu mata kuliah yang sulit buatku selain Syntax, Phonetix, dan Pronunciation. Bagiku lebih mudah menulis prosa berlembar-lembar daripada dua bait puisi. Mungkin karena aslinya aku ini orang yang tidak suka basa-basi. Lebih nyaman dengan style straight to the point. Kalau A bilang A, kalau B jarang sekali menjadi C. Istilah lainnya sedikit kaku atau kurang fleksibel (kata sebagian orang). Padahal aslinya aku suka puisi loh. Aku mulai terpesona dengan puisi sejak bapak dosen memperkenalkanku dengan salah satu puisi Emily Dickinson, There is no Frigate like a Book. Juga salah satu puisi Robert Frost yang kuingat betul judulnya, Stopping by Woods on a Snowy Evening. Ada lagi puisi yang diajarkan dosen yang kalau gak salah baris terakhirnya Charlotta da gocha. Wow, siapa sih yang tidak suka bait-bait berisi diksi yang indah-indah itu? Siapa pula yang tidak senang kalau bisa menyampaikan pesan dan kadang (sindiran) lewat kalimat-kalimat majas dalam puisi? Apalagi puisi dalam bahasa Inggris. Keren habis deh.
Adalah di tahun 2012 ketika aku mendapatkan info tentang Lomba Menulis Puisi. Kalau tidak salah Lomba Cipta Puisi Padang https://padangdalampuisi.blogspot.com/2011/08/lomba-cipta-puisi-2011-berhadiah-wisata.html. Melihat hadiahnya yang keren-keren (walau hampir pasti tidak menang he...he...) aku memaksakan diri menulis sebuah puisi untuk lomba itu. Mulailah bergerilya mencari info. Mumet, mau nulis apa soal padang. Browsing sana-sini. Mikir, ngelamun, mengulik-ulik ide, dan sebagainya. Akhirnya teringat nikahan saudara yang istrinya orang padang. Setelah draf dan berkali-kali edit. Jadi juga puisi ini yang alhamdulillah masuk dalam 75 puisi yang terpilih untuk dibukukan. Alhamdulillah, puisi pertamaku masuk dalam buku antologi Epitaf Arau bersama Kurnia Hadinata (sang pemenang, dkk) https://www.tokopedia.com/embunbening/antologi-puisi-epitaf-arau-hut-kota-padang?m_id=7943025. Benar-benar rezeki karena memang aku masih nol putul dalam bidang per-puisi-an.
Pengantin Padang
Aku terpaku di tengah
kerumunan
Mata tak berkedip
ingin terus memandang
Sepasang pengantin
berjalan beriringan
Disambut muda-mudi
dengan tarian Persembahan
Baju kurung panjang
bersulam benang keemasan
Bertingkat-tingkat sunting dimahkotakan
Tujuh untai melati
dalam rangkaian hiasan
Semburai wanginya
merebak tajam
Mengantar hingga ke
pelaminan
Raja dan ratu sehari
disanjung-sanjung
Gelar adat diagungkan
Nasehat dijunjung
tinggi
Bahtera hidup siap
diarungi
Elok nian pengantin Padang
Amboi, aku tersihir pesonanya
Indah rupa, indah
perangainya
Dan ketika aku memiliki kesempatan untuk berkunjung ke kota Padang, aku mendapatkan bukunya berkat informasi dari seorang teman dunia maya. Alhamdulillah lagi.
Sekarang aku lagi niat banget belajar Puisi. Alhamdulillah lagi, aku diizinkan join dengan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Di kelas ini, setiap minggu aku harus setor satu puisi. Jiah, sulit tapi memaksa diri harus bisa. Kubilang pada diriku sendiri. Semangat...!!!
Note: boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya
No comments:
Post a Comment