Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah,
November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan aktivitas
sehari-hari sebagai ibu dan karyawati sebuah pabrik. Lagi, aku tenggelam dalam
hitungan harga-harga sepatu. Seperti kebanyakan pekerja lainnya, pukul 07.30-17.00
WIB, waktuku habis untuk beraktivitas di kantor. Setelah itu lanjut dengan
aktivitas rumah tangga. Walaupun sebenarnya ini tidak boleh dijadikan alasan
bagi seorang penulis (terutama penulis pemula sepertiku yang mestinya harus
bekerja lebih keras dan menulis lebih banyak) untuk tidak produktif, faktanya
aku belum menghasilkan tulisan lagi.
Beruntung, di Sosmed aku berteman dengan banyak
penulis. Aku juga bergabung dengan Group Sastra Minggu dan Sastra Koran Majalah.
Tiap Minggu aku melihat karya-karya teman yang dimuat di surat kabar. Walaupun aku
belum menulis lagi, paling tidak aku masih membaca karya sastra tulisan
teman-teman dunia mayaku. Tulisan mereka (baik cerpen maupun puisi) bagus,
berkualitas, dan temanya up to date. Bahkan ada beberapa penulis yang
hampir tiap minggu cerpen dan puisinya dimuat di koran. Wow, keren! Dalam hati
aku bertanya, bisakah aku menulis karya sastra sebaik mereka?
Aku jadi tertantang. Sudah sekian lama, terakhir
tahun 2002 tulisanku dimuat di media cetak. Rasa iri mencuat dalam hati.
Semakin banyak aku membaca cerpen, puisi, dan resensi teman yang dimuat di
koran-koran itu, rasa iri kian menjadi. Maka timbul satu tekad kuat. Aku harus
menulis lagi. Aku ingin kembali menjajal kemampuan dan keberuntunganku di media
cetak.
Dari dua group itu pula aku menemukan situs
lakonhidup.com. Di sini aku lebih banyak membaca cerpen koran. Meneliti dan
menganalisa preferensi tema dan gaya tulisan beberapa koran yang rencananya akan
kubidik. Sampai aku yakin kalau aku suka tema wanita. Seputar
kehidupan rumah tangga, keluarga, juga segala hal yang berkaitan dengan wanita.
Kuputuskan menulis sebuah cerpen untuk Tabloid Nova. Kutanamkan
keyakinan kuat pada diriku. Kalau teman-teman bisa, kenapa aku tidak?
Aku mencoba menulis lebih detail dengan pemilihan tema
yang ketat. Sederhana tapi harus relevan. Kuambil tema keluarga.
Hubungan antara seorang ibu dan anak yang mulai renggang karena gadget. Kuharap
cerpen ini nanti bisa menjadi kritik halus terhadap dunia digital yang semakin
mengikis hubungan interpersonal dalam keluarga. Bahkan hubungan antara seorang
ibu dan anak yang bisa renggang karena
kurang komunikasi akibat anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget-nya.
Setelah koreksi berkali-kali, jadilah cerpen Kepada Buku Aku Cemburu. Cerpen
ini kukirimkan ke Redaksi Tabloid Nova pada 5 Februari 2018. Cerpen sudah
terkirim. Tinggal berdoa dan memikirkan ide untuk menulis cerpen berikutnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tidak ada kabar. Redaktur memang jarang
menyampaikan informasi kepada penulis terkait apakah karyanya lolos publikasi
atau tidak. Aku rajin memantau Group Sastra Minggu, berharap-harap cemas. Sampai
pada suatu pagi di bulan kelima, aku menge-cek e-banking. Ada transferan masuk dari PT.Samindra Utama. Aku sempat befikir itu
salah transfer. Aku bahkan googling mencari alamat dan nomor telepon perusahaan
ini bermaksud untuk mengembalikan uang yang kukira salah transfer itu. Tetapi ternyata
perusahaan itu adalah Tabloid Nova. Akhirnya aku sadar, itu mungkin honor untuk
cerpenku yang dimuat. Benar saja, dari Group Sastra Minggu aku mendapatkan foto
cerpenku yang dimuat di Tabloid Nova seminggu sebelumnya yaitu tanggal 30 Juli
2018. Beruntung akhirnya aku menemukan versi digitalnya di https://www.pressreader.com/indonesia/nova/20180730/282076277780746
. Dimuat setelah lima bulan sejak tanggal pengiriman. Waktu
tunggu yang cukup lama. Anyway. Aku bahagia akhir nya berhasil kembali
nongol di media cetak setelah sekian lama vakum.
Cerpen berikutnya masih tentang wanita. Cerpen inipun
kukirimkan ke Tabloid Nova. Judulnya Perempuan dan Gempa. Cerpen ini terinspirasi oleh
kejadian Gempa di Lombok yang begitu dahsyat. Kucoba menulis dari sudut
perempuan, yang pada saat tertimpa gempa ditinggalkan suaminya. Ia berusaha
tegar, bertahan, dan memperbaiki hidupnya setelah Gempa. Untuk ini aku meminta
bantuan kepada seorang teman FB untuk beberapa dialog yang ingin kutuliskan
dengan bahasa daerah setempat. Cerpen ini selesai pada September 2018 dan
meluncur lewat email ke Tabloid Nova. Dua bulan menunggu, aku mendapat
informasi bahwa Tabloid Nova tidak lagi menerbitkan cerpen. Sedihnya. Tak patah
semangat, cerpen ini kukirimkan lagi ke Media Indonesia. Sayangnya tiga bulan
setelah itu belum ada kabar juga. Sekarang cerpen ini terkirim ke redaksi Solo
Pos. Aku masih menunggu kabar baiknya.
Di waktu luang, aku masih gooling, aktif membaca
cerpen untuk menambah wawasan dan menggali ide. Akhir-akhir
ini aku suka mampir ke situs The Jakarta Post dan terpesona pada sebuah cerpen
yang berjudul The Secret of The Citrus Tree tulisan Alya Hikmayuda. Aku
pelajari baik-baik gaya menulisnya, alur ceritanya. Sepertinya aku juga bisa
menulis cerpen seperti ini. Dan aku kembali menatang diri untuk menulis cerpen
dalam bahasa Inggris. Targetnya tentu saja The Jakarta Post. Iri
juga aku kepada Alya. Kalau cerpennya bisa dimuat, mestinya cerpenku juga bisa.
Jadilah cerpen The
Story of a Rooster. Kisah tentang seorang anak gadis yang suka menendang
ayam karena trauma masa lalunya. Untuk ini aku meminta bantuan pada seorang
teman untuk mengoreksi pilihan kata juga grammarnya. (Walaupun aku lulusan Sastra
Inggris, aku sudah lama tenggelam dalam dunia lain yaitu dunia excel). Plus,
aku cuma sekali nulis cerpen dalam Bahasa Inggris. Itu pun
tertumpuk di laci. Dari temanku itu aku mendapatkan nasehat kalau cerpen
baiknya ditulis dengan salah satu tense saja. Present atau Past Tense.
Jangan di-mixed, nggak nyembung. Then,
the editing time
teselesaikan. Kirim ke redaktur. Lega. Berdoa lagi semoga rezeki.
Dua bulan setelah itu. Tepat di
hari pertama tarawih. Berkah bulan Ramadhan. Tidak seperti redaktur yang lain,
redaktur The Jakarta Post mengabari via email. Kira-kira bunyinya seperti ini.
Dear Heni,
Thank you for
submitting your story. What a lovely read. We will publish it in our upcoming
Monday edition and transfer the honorarium no later than 30 days following the
date of publication.
Thanks again and we
hope to read more of your work.
Cheers,
Gosh! Betapa
aku suka kalimatnya, What a lovely read. Ini pertama kali aku mendapatkan komen dari redaktur seperti
ini. Kedengaran berlebihan mungkin. Tapi aku bahagia. This is my first short
story after a long time. Dan dimuat oleh The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/news/2019/05/06/the-story-a-rooster.html
Alhamdulillah, ini meningkatkan semangatku berkali-kali
lipat. I’m
coming. I will try again and again.
Aku iri…, iri…, dan iri banget. Aku mau nulis lagi…lagi…dan lagi.

