google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati: March 2019

Sunday, March 24, 2019

Bab 2 Novel Passion in Sop Buah


Dua
Andai Aku Menjadi Kontestan MasterChef Indonesia




Kami sarapan dalam diam. Mama menyantap sarapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sesekali dia mengaduk-aduk tehnya. Sementara aku tidak terlalu berselera menyantap makananku. Soup bola-bola daging dan perkedel yang dimasakkan mama tidak berhasil menggungah nafsu makanku. Sesekali kalau tidak sedang lelah,  mama memang memasak dan menyiapkan sendiri sarapan buat kami. Mbak Jum membantunya sesuai instruksi mama. Bukan karena soup mama tidak menarik tetapi hatiku masih dongkol dengan sikapnya yang belum juga mau mengalah padaku. Hal seperti ini biasa terjadi sejak kami sering berantem karena keinginanku pindah ke SMK jurusan boga. Setelah berantem biasanya kami malas menyapa. Baik aku maupun mama enggan bicara lebih dulu. Namun kondisi ini pasti tidak berlangsung lama. Mama tidak pernah absen menelponku sepulang sekolah dan menyuruhku langsung pulang bila tidak ada jadwal kursus melukis atau kegiatan ekstra kurikuler. Walaupun aku beberapa kali tidak mematuhi perintahnya, terutama sejak uang jajanku dipangkas, mama masih belum bosan mengomeliku di telepon. Bukan salahku bila aku lebih memilih nongkrong di rumah Roni, sahabatku sejak di sekolah TK itu, daripada pulang cepat dan tidak ada yang menarik untuk kulakukan di rumah. Salah mama juga sih, kenapa dia melarangku belajar memasak di dapurnya.
“Mama dan Andre ini kenapa, berantem lagi?” tanya Papa memecah kebisuan di antara kami.
Mama melengos sebentar kemudian kembali asyik dengan sendok garpunya.
“Tanya saja sama anak kesayangan Papa itu,” jawab mama sebelum memasukkan potongan perkedel ke mulutnya.
“Kenapa lagi Ndre?”
Aku tidak menyahut. Papa geleng-geleng kepala, meletakkan garpunya, dan mengambil cangkir tehnya.
“Soal sekolah lagi?”
“Iya Pa. Mama sih, tidak mau mengerti keinginan Andre,” jawabku.
“Lha kamu punya keinginan kok aneh-aneh. Mbok ya difikir masak-masak. Apa bagusnya cita-cita menjadi chef? Apa nggak ada cita-cita lain yang lebih keren?” sahut mama yang bikin telingaku merah.
“Kenapa sih Pa, mama begitu menginginkan Andre jadi arsitek?” tanyaku pada Papa tanpa memedulikan omongan mama.
“Kok tanya Papa. Tanya sendiri sama orangnya. Mungkin mantan pacar Mama dulu seorang arsitek,” jawab papa bercanda.
“Papa ini asal saja kalau bicara. Anak Papa itu sok dewasa, seolah-olah berhak menentukan masa depannya sendiri. Padahal masak juga belum bisa.”
“Makanya itu Andre ingin pindah ke sekolah jurusan boga Ma, supaya Andre bisa belajar memasak lebih banyak,” sahutku nggak mau kalah.
“Sudah-sudah. Pagi-pagi ibu dan anak sudah ribut. Seperti Tom and Jerry saja,” goda papa.
“Idih Papa. Nggak lucu ah!” jawab mama lalu meneruskan suap demi suap sarapannya.
Aku menghabiskan sendok terakhir sarapanku, menutup sarapanku dengan seiris puding susu, dan kemudian beranjak ke kamar mengambil tas. Tidak ada gunanya melanjutkan pertengkaran dengan mama. Meskipun papa bersikap sedikit lebih demokratis terhadap masalah ini, aku tidak bisa mengandalkan dukungannya. Papa juga belum sepenuhnya menyetujui keinginanku pindah ke SMK jurusan boga.
“Andre berangkat Pa,” pamitku.
“Hati-hati, jangan ngebut. Masih cukup waktu untuk ke sekolah,” pesan Papa.
Jarak antara rumah dan sekolahku tidak begitu jauh, kurang lebih lima belas menit ditempuh dengan sepeda motor.
“Ma Andre berangkat.”
“Ya, belajar baik-baik!” jawab mama garing.
Aku berangkat paling awal. Mama berangkat ke kantor bareng papa jam tujuh lebih nanti. Papa mengantar mama dulu baru berangkat ke kantornya di daerah Jenggolo.  Pulangnya mama dijemput tukang ojek langganan karena papa sering pulang telat.
Matahari mulai memancarkan sinar hangatnya. Jalanan sudah ramai meskipun belum terlalu padat. Semakin lama lalu lintas di kota Sidoarjo semakin padat saja. Beberapa Polantas memarkir sepeda motor mereka di pinggir jalan lalu mengambil posisi agak ke tengah jalan. Mereka bersiap-siap mengatur lalu lintas untuk mencegah kemacetan di jam-jam sibuk sebentar lagi. Aku memacu gas sepeda motorku sedikit lebih kencang. Motorku melaju, meliuk-liuk di antara kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalan raya pagi ini.  
Sepuluh menit kemudian, aku tiba di depan pintu gerbang sekolah. Kulihat Haris dan Nanang, teman sekelasku, baru saja memarkir motor. Mereka menungguku dan kami berjalan beriringan menuju kelas.
“Ndre hari ini nggak ulangan Matematika kan?” tanya Haris begitu aku mendekat.
“Nggak ada pemberitahuan. Mudah-mudahan pak Sholihin tidak mengadakan ulangan harian mendadak.”
“Iya nih. Soalnya semalam aku nggak belajar, ngantar mamaku ke dokter sampai malam. Pulang dari dokter sudah ngantuk berat.”
“Sakit apa mamamu Ris?” tanyaku prihatin.
“Demam, batuk, pilek, sudah 3 hari ini.”
“Coba makan soup ayam yang agak panas-panas. Soup ayam bisa jadi obat flu yang alami loh,” saranku.
“Mantap…kawanku yang satu ini memang tidak pernah jauh dari makanan,” seloroh Nanang.
“Serius. Menurut penelitian, senyawa yang ada dalam soup ayam, yaitu carnosine, mampu membantu sistem kekebalan tubuh untuk melawan flu tahap awal. Sebagian ahli THT juga menyatakan bahwa cairan panas membantu meningkatkan pergerakan lendir hidung yang selanjutnya membersihkan saluran udara dan mengurangi kemacetan. Itu menurut artikel-artikel yang kubaca di internet lo.”
“Sudah kok Ndre. Tadi pagi mama masak soup ayam, dokternya juga menyarankan begitu.”
“Siplah kalau begitu. Mudah-mudahan mamamu cepat sembuh.”
“Amiin, thanks Ndre.”
Beberapa teman masih bergerombol di depan kelas. Pelajaran baru dimulai sepuluh menit lagi. Aku langsung menghampiri Iyan yang sedang meraut pensilnya.
“Halo Ron,” sapaku.
“Hai Ndre,” balasnya dengan senyum lebar.
Suasana kelas menjadi riuh ketika Kiki, Nabila, Erni, dan Lilis, teman-teman perempuanku yang periang, masuk kelas. Sebagian teman lain masih ada yang sibuk mengutak-atik gadgetnya. Aku segera mengeluarkan buku diktat dan catatanku. Minggu sebelumnya Pak Sholihin menyampaikan bahwa beliau akan melanjutkan pembahasan tentang bilangan berpangkat di jam pertama pagi ini. Masih ada waktu untuk membuka-buka bab ini lagi sebelum guruku yang terkenal super tegas itu datang. Pangkat bulat positif, pangkat bulat negatif, dan pangkat nol, belum kumengerti sepenuhnya. Seperti Haris, semalam aku juga tidak belajar karena suasana hati yang tidak enak. Kususuri deretan angka berpangkat dan kucoba memahami lagi konsepnya satu per satu.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Selamat pagi, Anak-anak,” sapa Pak Sholihin begitu masuk ke kelas lima menit kemudian.
“Waalaikum salam. Selamat pagi, Pak,” jawab kami.
Setelah Nanang memimpin doa, pak Sholihin memulai pelajaran.
“Hari ini kita mengulas kembali bilangan berpangkat, latihan soal-soal, dan melanjutkan pembahasan ke bilangan akar. Ada yang masih ingat konsep-konsep bilangan berpangkat yang dibahas minggu lalu?”
Aku tidak berani menjawab karena tidak begitu yakin dengan ingatanku tentang bahasan minggu lalu. Hanna mengangkat tangan. Dia hampir tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan guru. Selain cerdas, Hanna juga rajin berlatih mengerjakan soal-soal Matematika. Di tangannya selalu ada buku-buku bank soal, baik Matematika, Fisika, Kimia atau kadang-kadang bahasa Inggris. Dia berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain. Cantik, tidak banyak bicara, juga tidak banyak tingkah. Beberapa temanku tergila-gila padanya, termasuk Haris walaupun Hanna menanggapinya biasa-biasa saja.
“Konsep-konsep perkalian bilangan berpangkat sebagai berikut. Dalam operasi perkalian, jika bilangan pokoknya sama, maka pangkat dijumlahkan. Dalam operasi pembagian jika bilangan pokoknya sama, maka pangkatnya dikurangkan dan semua bilangan jika dipangkatkan nol maka hasilnya adalah satu.”
“Ya betul sekali Hanna. Yang lain sudah siap mengerjakan latihan soal?” Tanya Pak Sholihin tiba-tiba.
“Tidak Pak...!” jawab kami serempak.
“Siswa jaman sekarang, baru mendengar kata latihan soal saja sudah ketakutan. Jangan dibiasakan seperti ini anak-anak. Setiap hari kalian harus siap menghadapi soal. Ini Matematika. Tidak ada jalan lain untuk menguasai Matematika selain latihan mengerjakan soal. Mengerti?”
“Mengerti Pak!”
Pak Sholihin yang tiap kali mengajar selalu memakai kopyah itu membagi papan tulis menjadi dua bagian. Bagian kiri diisi tiga soal operasi perkalian dan bagian kanan tiga soal operasi pembagian bilangan berpangkat. Beberapa siswa ditunjuk maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal itu. Tiga siswa laki-laki termasuk aku dan tiga perempuan maju bergantian. Untung aku menyimak jawaban Hanna tadi sehingga satu soal Pak Sholihin bisa kukerjakan.
Setelah jam pelajaran Matematika usai, Pak Didik, guru Biologi kami masuk. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang keanekaragaman hayati. Lima belas menit pertama aku masih menyimak penjelasannya dengan baik. Namun lima belas menit berikutnya ketika memasuki bahasan tentang keanekaragaman gen tumbuhan dan hewan, aku mulai bosan. Rasa malas perlahan-lahan menyerangku. Aku berharap bel istirahat segera berbunyi. Aku bukan tidak suka mata pelajaran Biologi, tetapi bahasan tentang keanekaragaman hayati tidak menarik bagiku. Bahasan yang paling kusukai dalam Biologi adalah rantai makanan dan sistem pencernaan makanan. Tentu saja karena keduanya berhubungan dengan makanan. Seorang calon Chef harus memahami sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia. Chef tidak boleh hanya pintar memasak saja, dia juga harus mengerti bagaimana makanan yang dimasaknya dicerna tubuh. Selain malas, kantuk juga menyergapku. Aku menguap tanpa sengaja dan cepat-cepat menutup mulutku.
Tiba-tiba anganku melayang pada acara MasterChef Indonesia yang tidak pernah kulewatkan tayangannya. Kubayangkan diriku menjadi salah satu kontestan dalam ajang pencarian bakat memasak itu. Alangkah bangganya bila aku memakai apron[1] berlogo MasterChef dan memasak di galeri MasterChef bersama kontestan-kontestan lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Akankah aku mampu menyelesaikan tantangan demi tantangan yang diberikan oleh para Chef Master? Berapa kali pressure test harus kujalani jika aku melakukan kesalahan? Aku tersenyum-senyum sendiri. Kurasa aku telah meninggalkan ruangan kelasku. Suara Pak Didik yang menjelaskan gen dan spesies tumbuhan sambil menunjuk-nunjuk gambar di papan tulis tidak kudengar lagi. Tak kudengar pula suara teman-temanku yang sesekali mengajukan pertanyaan pada Pak Didik. Anganku benar-benar telah pindah ke galeri MasterChef Indonesia, tempat para kontestan bersaing untuk menyelesaikan tantangan mereka. Di sana tiga chef master sedang berdiri di depan para kontestan MasterChef Indonesia season...season berapa ya? Aku menghitung. Sekarang usiaku 16 tahun. Peserta MasterChef Indonesia minimal usianya 18 tahun. Berarti dua tahun lagi aku baru bisa mendaftar. Mungkin MasterChef Indonesia season 5 atau 6. Aku tidak peduli, season berapa pun yang penting aku menjadi kontestan yang memasak dan ditonton oleh jutaan orang Indonesia.  Hei, para Chef Master-nya masih sama, Chef Degan, Chef Marinka, dan Chef Arnold.
Chef Marinka sedang menjelaskan bahwa untuk tantangan kali ini kami diharuskan memasak bahan utama yang ada dalam mistery box di depan kami. Aku dan dua puluh sembilan kontestan lainnya penasaran terhadap isi mistery box itu. Rupanya aku lolos seleksi dan berhasil masuk ke deretan top thirty calon MasterChef Indonesia berikutnya. Chef Marinka membuka mistery box itu. Wow, organ-organ dalam sapi, otak, limpa, dan paru. Aku bergidik, kurang suka dengan jerohon sapi. Aku belum pernah masak jerohan sapi sebelumnya. Kalaupun memasak sapi, aku lebih suka memilih daging has dalam yang kujadikan rendang, dendeng, atau daging bumbu lapis. Namun aku harus tetap semangat. Chef tidak boleh memilih-milih bahan makanan. Chef harus bisa memasak bahan makanan apa saja. Akhirnya Chef Degan membagi tiga jenis jerohan sapi itu pada kontestan. Sepuluh kontestan mendapat otak, termasuk aku, sepuluh lainnya mendapatkan limpa, dan sepuluh kontestan terakhir mendapatkan paru. Otakku masih blank sampai Chef Arnold menyebutkan hitungan terakhir waktu kami. Mau dimasak apa otak sapi bagianku ini? Satu-satunya masakan otak yang kutahu adalah gulai otak yang biasa dijual di depot-depot masakan Padang. Akhirnya kuputuskan untuk memasak gulai saja daripada menghabiskan banyak waktu untuk berfikir. Aku menyalakan kompor dan mulai menyiapkan bumbu-bumbu gulai. Lima buah cabe merah keriting, 5 siung bawang merah, 2 cm kunyit, 1 cm jahe, 1 cm lengkuas, 1 batang serai, 1 lembar daun kunyit, sepotong asam kandis, 1 lembar daun jeruk purut, dan 375 ml santan kukira cukup untuk memasak 200 gram otak sapi ini. Jantungku mulai berdebar ketika memasukkan otak ke dalam panci. Sejenak aku bimbang, berapa lama akan kurebus otak itu? Naluriku mengatakan agar aku tidak terlalu lama merebusnya supaya otaknya tidak lembek. Sebentar saja, sekedar untuk membersihkan kulit ari dan urat-urat darahnya. Chef Arnold mendekatiku.
“Andre, kamu kebagian otak. Mau kamu masak apa?”
“Gulai otak ala Padang Chef,” jawabku percaya diri.
“Oke. Hati-hati mengambil otaknya dari panci.”
“Baik Chef!”
Aku mengangkat otak dari panci dan meniriskannya. Ketika aku sedang asyik mengupas bawang, kudengar suara langkah mendekat.
“Andre!”
Suara yang memanggilku itu membuyarkan konsentrasi memasakku. Suara laki-laki tapi bukan suara Chef Arnold atau Chef Degan. Bukan pula suara salah satu kontestan di gallery memasak. Astaga! Aku ingat suara itu. Itu suara Pak Didik, guru biologiku yang berkumis tebal. Dan sekarang ia sudah berada di dekatku. Oh, My God! Aku seperti terlempar kembali ke kelasku.
“Dari tadi kamu tidak menyimak penjelasan Bapak. Apa yang kamu lamunkan?” tanya Pak Didik.
“A...a...anu, Pak...” jawabku gugup.
Tidak marah saja Pak Didik sudah terlihat sangar karena posturnya yang tinggi besar dan kumisnya yang tebal, apalagi kalau sedang marah seperti ini. Aku pasti tidak akan lolos dari hukuman.
“Jadi kalau merasa sudah pintar tidak mau mendengarkan penjelasan Bapak?” tanyanya lagi.
“Bu...bu...kan begitu Pak,” jawabku masih gugup.
Mata pak Didik terus memandangiku. Aku menundukkan muka.
“Kalau memang tidak suka dengan pelajaran Bapak, lebih baik kamu keluar saja! Tidak usah masuk kelas daripada mengganggu yang lain.”
Aku diam saja. Pak Didik kembali ke depan, menuju meja guru. Dia mengambil selembar surat pengantar yang ada di meja dan menuliskan sesuatu.
“Kemari kamu!” perintahnya.
Aku beranjak mendekati mejanya.
“Temui guru BP lalu ke perpustakaan buat rangkuman tentang keanekaragaman hayati. Buat beberapa soal dan jawab sendiri. Ingat kamu tidak boleh istirahat hari ini. Kerjakan sebelum jam pelajaran Bapak selesai. Mengerti kamu?”
“Baa...ik, Pak.”
Aku menerima surat pengantar yang diberikan Pak Didik lalu melangkah gontai menuju kantor guru untuk menemui guru BP. Pak Didik tidak hanya merampas waktu istirahatku dengan memberikan tugas merangkum ini tetapi beliau juga mengacaukan lamunan indahku sebagai kontestan MasterChef Indonesia. Semoga guru BP tidak menitipkan surat untuk kedua orangtuaku karena mama dan papa pasti marah kalau sampai mendapatkan surat dari sekolah karena kesalahanku ini.


*****

Note: Boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya

[1] Celemek

Tuesday, March 19, 2019

Bab 1 Novel Passion in Sop Buah


Satu
Mama dan Impian Terbesarku

Bagiku, memasak bukan sekedar hobi. Memasak adalah aktivitas yang selalu kulakukan dengan penuh cinta. Lebih dari sekedar memanjakan lidah, memasak adalah representasi sebuah rasa. Selalu tercipta kepuasan setiap aku berhasil memasak hidangan yang enak dan menyajikannya dengan cantik. Sebaliknya, kekecewaan muncul begitu saja bila masakanku gagal total, hambar, keasinan, gosong, atau berasa tak karuan. Bukan hanya itu, menurutku memasak adalah seni yang menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas. Seperti lukisan, aku melihat keindahan pada sepiring masakan atau segelas minuman yang dibuat sepenuh hati. Memasak sebuah resep tak ubahnya melukis obyek. Aku bebas menciptakan bentuk dan warna. Warna merah dari cabe, hijau dari daun suji, orange dari wortel, atau ungu dari ubi jalar tak beda dengan warna-warna cat minyak yang kutuangkan dalam sebuah lukisan di atas kanvasku. Melukis adalah hobiku; menjadi seorang chef adalah keinginanku. Keduanya menjelma indah sebagai rancangan masa depanku.
Bila banyak remaja sepertiku mengidolakan para artis-artis luar negeri atau boy band yang sedang naik daun, aku justru mengagumi para chef. Salah satunya adalah Chef Chandra Yudasswara yang menurutku keren habis-habisan. Aku juga mengidolakan para penggawa MasterChef Indonesia. Chef Juna dan Chef Degan, Chef Marinka, dan Chef Arnold sudah lama masuk dalam daftar chef idolaku. Lebih-lebih Chef Choi Hyun Wook dalam serial drama Korea Romance in Pasta. Chef Choi Hyun Wook dalam cerita drama itu digambarkan sebagai sosok chef karismatik yang sangat perfeksionis ketika bekerja di dapur La Sfera[1]. Seperti mereka, orang-orang yang sukses di bidang kuliner itulah aku memimpikan diriku di masa depan.
Sayangnya mama punya keinginan lain atas diriku. Melukis is fine. Dia mendukung hobiku ini. Tapi memasak tidak. Mama samasekali tidak merestui keinginanku untuk menjadi seorang chef. Dia malah terang-terangan menentang cita-citaku ini. Kemarin lusa mama memarahi mbak Jum karena aku ketahuan menggantikan tugasnya memasak makan siang untukku. Parahnya, mama menyembunyikan buku-buku dan buletin-buletin boga miliknya sehingga aku tidak bisa lagi menyontek resep. Sekarang mama malah memangkas uang jajanku. Tujuannya tentu saja supaya aku tidak bisa membeli bahan-bahan untuk belajar memasak. Mama pula yang membelikan alat-alat melukisku. Pensil gambar, buku gambar, kanvas, cat minyak, kuas, semuanya dibelikan oleh mama. Praktis aku tak punya alasan lain lagi untuk meminta uang lebih.
Mama sungguh keras kepala. Berulang-ulang aku merayu bahkan memohon-mohon padanya agar mengizinkanku pindah ke SMK jurusan boga. Namun dia bergeming. Mama tetap pada pendiriannya, tidak mengizinkan aku pindah ke SMK jurusan boga. Baginya profesi Chef samasekali tidak bergengsi. Mama tidak menghiraukan keberatan-keberatanku. Lulus dari SMUN favorit di kota ini dengan nilai UAN tinggi kemudian melanjutkan ke Fakultas Teknik universitas negeri jurusan arsitektur. Itulah ambisi terbesar mama atas diriku. Dia bersikeras ingin menjadikanku seorang arsitek. Dan entah berapa kali sudah aku berantem dengan mama gara-gara masalah ini.
 “Pokoknya nggak! Kamu nggak boleh pindah ke SMK boga. Banyak teman-temanmu yang ingin masuk ke sekolah negeri tapi gagal karena nilai mereka nggak mencukupi. Kamu malah kebalikannya, sudah sekolah di SMU negeri malah minta pindah ke SMK swasta,” omelnya panjang lebar. 
“Sudah Andre bilang Andre mau sekolah boga. Tapi Mama memaksa Andre masuk SMUN. Andre nggak mau jadi arsitek Ma. Andre maunya jadi CHEF!” protesku.
“Oh, jadi karena kamu ingin jadi TUKANG MASAK makanya kamu mau pindah sekolah. Begitu?” jawab mama dengan nada agak membentak.
Penampakan mama jadi terlihat aneh (kalau tidak boleh dibilang seram). Kacamatanya melorot hingga hampir menyentuh ujung hidungnya yang kurang mancung. Kedua alisnya terangkat naik. Dan matanya itu..., kenapa jadi melotot? Dia melempar begitu saja majalah Kartini yang ada di pangkuannya sesaat sebelum memelototiku sehingga aku terbengong-bengong dibuatnya.  
“Begitu kan?” tanyanya menegaskan.
Aku kelabakan. Bukan karena nggak bisa menjawab tapi bentakan dan mata mama yang memelototiku itu membuat nyaliku ciut. Oh Tuhan, harus dengan kata-kata bagaimana lagi aku meyakinkan mama kalau pilihanku tidak seburuk yang difikirkannya.
“Bukan tukang masak Ma tapi CHEF!” jawabku setelah menenangkan diri.
“Apa bedanya chef dengan tukang masak, hah?” tanya mama nggak mau mengalah.
“Beda Ma. Tukang masak itu memasak di dapur kita seperti mbak Jum, Chef adalah KOKI yang memasak di restoran-restoran besar atau hotel-hotel berbintang. Mereka lulusan sekolah kuliner, malah banyak yang lulusan luar negeri.”
Aku menjelaskan dengan nada kesal. Emosiku mulai terpancing. Sengaja aku mengeraskan kata “KOKI” karena tidak rela profesi yang kuidam-idamkan di masa depan dianggap remeh oleh mama.
“Bagi Mama sama saja, chef atau koki katamu, tetap saja tukang masak!”
“Beda Ma. Chef, bukan tukang masak!” sanggahku.
“Tukang masak!”
Chef Mama!”
“Tukang masak!”
“Pokoknya Andre mau pindah sekolah!”
“Pokoknya Mama nggak setuju.”
“Melukis Andre diizinkan, kenapa memasak nggak boleh?”
“Karena melukis bisa meningkatkan keahlian menggambarmu. Kalau kamu sudah kuliah arsitektur nanti, tiap hari kamu pasti menggambar, Ndre.”
“Andre sudah bilang, Andre nggak mau jadi arsitek. Kenapa Mama ngotot banget?”
“Kamu belum tahu apa yang kamu inginkan Andre. Masa depan bukan main-main. Kamu harus memikirkannya matang-matang.”
“Andre bukan anak kecil lagi Ma. Andre bisa menentukan pilihan untuk masa depan Andre sendiri.”
“O ya? Baru enam belas tahun sudah merasa dewasa?” tanya mama sinis.  
 “Sebenarnya yang sekolah siapa sih, Andre atau Mama?” tanyaku dengan nada suara agak tinggi.
“Kamu mulai berani sama Mama?” balas mama dengan nada lebih tinggi.
“Mama terlalu memaksa Andre.”
“Kamu tidak rasional. Cita-cita itu yang tinggi. Jadi pegawai negeri, direktur, jenderal, dokter, polisi, bupati, gubernur, menteri, atau presiden sekalian. Eh, ini malah mau jadi tukang masak.”
“Mama egois!”
Aku bangkit dari sofa lalu masuk ke kamarku. Brakk!! Kubanting pintu tanpa menghiraukan teriakan mama lagi. Hatiku kesal bukan kepalang. Mama tidak bisa dibujuk. Ujung-ujungnya hanya pertengkaran tanpa guna. Aku mengumpat-umpat menyesali kesialanku. Bukan salahku kalau aku suka memasak. Justru dalam hal ini mama lebih pantas disalahkan karena dari mama lah hobi memasakku berasal.
Aku adalah anak tunggal mama dan papa. Lima tahun lamanya mama menunggu kehamilan pertamanya sehingga kehadiranku benar-benar menjadi anugerah terindah bagi mereka. Mama pun memutuskan untuk berhenti bekerja agar bisa total mengurusku. Aku dimanjakan, diperhatikan, dan disayangi sepenuh hati. Kata nenekku, sejak umur 6 bulan ketika aku sudah diizinkan menikmati makanan semi padat, mama sudah memanjakanku dengan makanan-makanan enak dan bergizi. Dia tidak pernah membeli bubur kemasan atau makanan pendamping ASI buatan pabrik. Mama lebih suka memasak sendiri makanan untukku. Masih kata nenekku, mama begitu memerhatikan kandungan gizi dan kebersihan makanan yang diberikan padaku. Aneka puree sayur dan buah-buahan seperti wortel, brokoli, bayam, labu, baby buncis, tomat, pisang, apel, dan jeruk peras, semua dipilihkan kualitas nomor satu. Hampir tiap hari menuku diganti-ganti. Bubur tim beras merah campur daging, tim tofu hati ayam, sup wortel kaldu tuna, tim salmon plus brokoli, pokoknya variatif sekali. Nenek juga bilang kalau aku tumbuh menjadi balita yang montok, sehat, dan menggemaskan. Jarang sekali aku sakit. Sekali dua kali aku sakit, itu pun hanya panas. Aku hampir tidak pernah terserang batuk pilek seperti yang dialami kebanyakan bayi. Mungkin karena ASI ekslusif dan gizi MPASI[2] yang diberikan mama padaku. Kata nenekku lagi, seminggu dua kali dia mengunjungi rumah kami karena rindu ingin mengasuhku. Padahal untuk sampai ke rumahku, nenek harus menempuh hampir 8 jam perjalanan. Kadang beberapa tetangga juga berebut ingin menggendongku. Aku mengiyakan cerita nenekku, karena tiap kali memutar CD-CD mama yang berisi foto-foto masa kecilku, aku suka tersenyum gemas melihat diriku sendiri waktu balita. 
Ketika aku sekolah di Taman Kanak-kanak dulu tiap hari mama memberiku bekal masakan yang enak dan selalu dihias cantik. Nasi goreng, menu favoritku digulung dalam lembaran telur dadar lalu dipotong-potong seperti rolade. Di atas potongan rolade nasi goreng itu ditambahkan telur rebus yang dibelah dua dan diberi hiasan mata, mulut, dan hidung dari wortel dan irisan sosis. Persis seperti muka anak ayam yang imut-imut. Pernah mama membekaliku nasi putih yang dicetak segilima seperti bentuk bintang, irisan ikan tuna goreng, beberapa kuntum brokoli rebus, dan potongan sosis yang dibuat mirip seperti cumi-cumi. Menuku berganti-ganti setiap harinya. Hiasannya juga tidak pernah sama. Itulah yang membuat bekalku nyaris tak tersisa. Aku selalu makan dengan lahap. Suatu ketika teman sekelasku tergiur dan merebut bekalku karena mama membentuknya mirip dengan SpongeBob, tokoh kartun idolanya. Tentu saja aku mempertahankannya. Masakan mama paling enak sedunia. Aku tidak pernah rela membaginya dengan orang lain, sekalipun dia teman sebangkuku. Sayangnya,  Ibu Elly, guru TK-ku, menyuruhku membagi setengah bekalku pada temanku itu. Dan aku tidak berani menentang perintah guru. Walaupun aku juga mendapatkan setengah bekal dari temanku itu, aku tetap bersungut-sungut karena tidak rela. Esoknya mama membawakan dua kotak bekal, satu untukku, satu lagi untuk temanku itu. Kami pun berbaikan dan makan bersama di ruang makan sekolah. Sejak saat itu pula, kami bersahabat.
Menjelang masuk sekolah dasar, mama selalu mengajakku kemana pun dia pergi. Kecuali kalau ada nenekku sedang berkunjung, aku ditinggal di rumah bersama nenek. Arisan, pergi ke salon atau penjahit aku selalu diajak karena tidak ada orang yang menjagaku bila aku ditinggal di rumah. Di mana ada mama, di situ pula aku berada. Aku paling senang diajak mama pergi berbelanja, baik ke supermarket atau pasar besar. Pemandangan di pasar, apalagi di supermarket, tidak pernah menjemukan bagiku. Ikan-ikan laut yang segar banyak jenisnya. Ayam, daging, dagangan buah yang ditata bertumpuk-tumpuk dan sebagian digantung. Aneka ragam sayur mayur menjadi pemandangan yang tidak ingin kulewatkan saat itu. Kombinasi warna-warna paprika, merah, kuning, dan hijau, tomat cherry yang merah dan imut membuatku selalu ingin menyentuhnya. Mama menunjukkan cara memilih paprika yang bagus. Tidak terlalu besar, dagingnya keras dan tidak layu. Mama juga memberitahuku kalau daging, ayam, udang, cumi dan ikan, harus fresh. Warna kulit ikan harus cerah, mata jernih menonjol dan cekung, ingsangnya harus berwarna merah segar. Itulah sebagian yang diberitahukan mama kepadaku ketika kami sedang belanja.
Pulang sekolah, setelah mengganti seragam dan istirahat sejenak aku menemani mama memasak untuk makan siang kami. Aku melihat, bahkan mengamati apa pun yang dikerjakannya. Mengiris wortel, mengupas bawang bombay, mengeluarkan isi cabe, memotong sayuran, membelah ikan, menumis, menggoreng, mengolah masakan, hingga menatanya di piring. Kadang-kadang mama memintaku mencicipi masakannya. Mama selalu terlihat senang meskipun jawabanku selalu sama, Enak, Ma. Mama tidak pernah memasak banyak. Tiga porsi untuk sarapan, dua porsi untuk makan siang, dan tiga porsi untuk makan malam dengan menu yang berbeda, termasuk buah-buahan, puding, atau kue-kue mungil untuk makanan penutup kami. Kecuali bila nenek dan kakekku atau keluarga Tante Ratna menginap mama akan memasak lebih banyak. Kelas 3 SD aku semakin sering membantu mama memasak di dapur. Mengupas bawang, memotong sayuran, menggoreng tempe, memeras santan dari parutan kelapa, atau mengaduk-aduk isi panci supaya agar-agar mama tidak meluap kemana-mana. Karena itulah aku lebih suka berada di dapur daripada nonton TV atau main game.
Baru setelah aku masuk SMP, mama kembali bekerja sebagai staf finance di sebuah pabrik sepatu, sekitar lima kilometer dari rumah kami. Sementara papa tiap hari sibuk dengan pekerjaannya sebagai manajer bank swasta di kotaku, Sidoarjo. Tugas mama memasak dan mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya digantikan oleh mbak Jum. Tetapi walaupun sudah sering diajari mama, masakan mbak Jum jauh sekali rasanya dibandingkan masakan mama. Sama jauhnya dengan jarak Sidoarjo-Yogyakarta ditempuh dengan sepeda motor tua. Makanya aku lebih suka memasak makan siangku sendiri. Tentunya dengan menyontek resep-resep di majalah atau buletin boga milik mama. Lalu perlahan-lahan, keinginan untuk menjadi chef tumbuh subur dalam diriku. Jika tidak sedang kursus melukis aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk belajar memasak daripada nongkrong dengan teman-teman atau main game.
 Sekarang aku jadi heran. Kenapa mama tidak suka bila aku berkreasi di dapurnya. Kenapa mama menentang cita-citaku menjadi chef kalau dia lah yang mengenalkanku pada dapur dan seluruh tetek bengeknya sejak aku kecil? Bukankah mama pula yang telah membuatku jatuh cinta pada masakan-masakannya yang lezat dan cantik sejak aku TK? Bukankah darah memasakku mengalir dari darahnya? Kenapa mama begitu berambisi menjadikanku seorang arsitek? Mengapa aku tidak boleh menentukan profesi untuk masa depanku sendiri? Semua ini masih menjadi misteri bagiku.
Kuputar musik rock keras-keras dari music player ponselku. Kupukul-pukul bantal, kulempar guling, kubuat buku-buku pelajaran yang ada di meja belajarku berserakan. Apa saja ingin kulakukan untuk melampiaskan kekesalanku. Kupandangi poster-poster chef di dinding kamarku. Chef Arnold terlihat gagah dalam balutan kemeja chef-nya. Chef Marinka sedang tersenyum begitu manisnya. Chef Choi Hyun Wook seperti sedang mengarahkan sumpitnya padaku. Chef Candra sedang berdiri di hadapan meja sajinya. Akankah aku bisa menjadi chef seperti mereka? Saat ini aku hanya bisa menyimpan keinginanku ini. Aku belum bisa memperjuangkannya, terutama di depan mama.
Mama mendikte langkah-langkahku. Aku seperti anak kecil dibuatnya. Padahal sekarang aku sudah kelas X. Aku tidak tahu kenapa mama nggak mau mengalah pada anaknya sendiri. Sampai saat ini pun mama masih menganggapku belum dewasa. Bagaimana caranya meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu? Bagaimana meyakinkan mama kalau chef adalah profesi bergengsi? Otakku terus berputar mencari cara untuk menyelamatkan cita-citaku yang sedang berada di ujung tanduk.

*****






[1] Restoran tempat Chef Choi Hyun Wook bekerja dalam serial drama Korea, Romance in Pasta
[2] Makanan pendamping ASI

Note : Boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya.

Monday, March 18, 2019

Novel Passion in Sop Buah

Novel ini dulunya kutulis untuk ikut Lomba Menulis Passion Show Bentang Belia 2013. https://octacintabuku.wordpress.com/2013/06/24/lomba-menulis-passion-show-bentang-belia/.  Awal ide naskah ini adalah "suami yang suka banget dengan sop buah" sehingga aku berfikir untuk menulis cerita kuliner. Pas dengan genre lomba yang meremaja. 

Saat itu aku sedang hamil muda. Terus terang menulis novel ini lebih susah dari novel pertamaku Menggapi Impian, Merengkuh Cinta (MIMC). Materi MIMC sepenuhnya sudah ada di kepala karena novel ini sebagian besar memang ditulis berdasarkan kisah nyata pengalaman hidupku alias novel biografiku sendiri. Jadi tinggal mengembangkan ceritanya saja. Sedangkan Passion in Sop Buah purely fiksi. Samasekali tidak ada kenyataan di dalamnya. Aku harus merumuskan materi mulai dari nol. Mereka alur dari awal sekali di antara mual-mual dan rasa malas ibu hamil. Finally, novel ini selesai ketika aku hamil tua, mau lahiran. Sayangnya, naskah ini tidak lolos. Masuk nominasipun tidak. 

Naskah ini cukup lama tidur, tak tersentuh oleh tanganku. Anteng-anteng saja di folder komputer. Hingga anakku sudah agak besar (3 tahun). Aku mulai merasa sayang. Naskah yang ditulis susah-susah kok dibiarkan ngendon di folder. Akhirnya aku bergerilya lagi. Mengobrak-abrik naskah, mengubah jalan cerita, juga setting-nya. Bekerja sama dengan Kaifa Publishing, terbitlah novel ini pada November 2018. Alhamdulillah meluncur ke Togamas Margonda Depok, Supratman, dan Buah Batu Bandung. 


Nah, akan kubagikan 3 bab pertama novel Passion in Sop Buah supaya pembaca bisa mencicipi segarnya sop buah dalam novel ini. Boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya ya. Enjoy reading...

Tuesday, March 12, 2019

Tak Pandai Berpuisi

Aku sama sekali tidak pandai berpuisi. Zaman kuliah dulu, mata kuliah ini termasuk salah satu mata kuliah yang sulit buatku selain Syntax, Phonetix, dan Pronunciation. Bagiku lebih mudah menulis prosa berlembar-lembar daripada dua bait puisi. Mungkin karena aslinya aku ini orang yang tidak suka basa-basi. Lebih nyaman dengan style straight to the point. Kalau A bilang A, kalau B jarang sekali menjadi C. Istilah lainnya sedikit kaku atau kurang fleksibel (kata sebagian orang). Padahal aslinya aku suka puisi loh. Aku mulai terpesona dengan puisi sejak bapak dosen memperkenalkanku dengan salah satu puisi Emily Dickinson, There is no Frigate like a Book. Juga salah satu puisi Robert Frost yang kuingat betul judulnya, Stopping by Woods on a Snowy Evening. Ada lagi puisi yang diajarkan dosen yang kalau gak salah baris terakhirnya Charlotta da gocha. Wow, siapa sih yang tidak suka bait-bait berisi diksi yang indah-indah itu? Siapa pula yang tidak senang kalau bisa menyampaikan pesan dan kadang (sindiran) lewat kalimat-kalimat majas dalam puisi? Apalagi puisi dalam bahasa Inggris. Keren habis deh. 

Adalah di tahun 2012 ketika aku mendapatkan info tentang Lomba Menulis Puisi. Kalau tidak salah Lomba Cipta Puisi Padang https://padangdalampuisi.blogspot.com/2011/08/lomba-cipta-puisi-2011-berhadiah-wisata.html. Melihat hadiahnya yang keren-keren (walau hampir pasti tidak menang he...he...) aku memaksakan diri menulis sebuah puisi untuk lomba itu. Mulailah bergerilya mencari info. Mumet, mau nulis apa soal padang. Browsing sana-sini. Mikir, ngelamun, mengulik-ulik ide, dan sebagainya. Akhirnya teringat nikahan saudara yang istrinya orang padang. Setelah draf dan berkali-kali edit. Jadi juga puisi ini yang alhamdulillah masuk dalam 75 puisi yang terpilih untuk dibukukan. Alhamdulillah, puisi pertamaku masuk dalam buku antologi Epitaf Arau bersama Kurnia Hadinata (sang pemenang, dkk) https://www.tokopedia.com/embunbening/antologi-puisi-epitaf-arau-hut-kota-padang?m_id=7943025. Benar-benar rezeki karena memang aku masih nol putul dalam bidang per-puisi-an. 

Pengantin Padang

Aku terpaku di tengah kerumunan
Mata tak berkedip ingin terus memandang
Sepasang pengantin berjalan beriringan
Disambut muda-mudi dengan tarian Persembahan

Baju kurung panjang bersulam benang keemasan
Bertingkat-tingkat sunting dimahkotakan
Tujuh untai melati dalam rangkaian hiasan
Semburai wanginya merebak tajam
Mengantar hingga ke pelaminan

Raja dan ratu sehari disanjung-sanjung
Gelar adat diagungkan
Nasehat dijunjung tinggi
Bahtera hidup siap diarungi

Elok nian pengantin Padang
Amboi, aku tersihir pesonanya
Indah rupa, indah perangainya

Dan ketika aku memiliki kesempatan untuk berkunjung ke kota Padang, aku mendapatkan bukunya berkat informasi dari seorang teman dunia maya. Alhamdulillah lagi. 

Sekarang aku lagi niat banget belajar Puisi. Alhamdulillah lagi, aku diizinkan join dengan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Di kelas ini, setiap minggu aku harus setor satu puisi. Jiah, sulit tapi memaksa diri harus bisa. Kubilang pada diriku sendiri. Semangat...!!!



Note: boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya


Sunday, March 3, 2019

Bab 3 Novel Menggapai Impian, Merengkuh Cinta (MIMC)


3
Pertemuan di In Blue Café


Hari ini adalah hari terakhir Naila bekerja di Ichiban Japanese Restaurant. Kemarin Naila sudah menghadap Ibu Ririn dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Tidak seperti perusahaan-perusahaan besar yang mengharuskan pengunduran diri pegawai diajukan sebulan sebelumnya, pengunduran diri Naila langsung efektif keesokan harinya. Selain karena sedang tidak ada reservasi, jika kekurangan pelayan untuk sementara waktu pemilik restoran bisa mempekerjakan siswa-siswa program Diploma dari sekolah perhotelan atau pariwisata. Ibu Ririn terkejut saat Naila mengajukan surat pengunduran diri dan dengan berat hati menyetujuinya. Naila adalah pegawai yang memiliki dedikasi tinggi. Ia tidak pernah absen kecuali sedang sakit atau ada keperluan mendadak, tidak pernah terlambat, dan selalu menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya dengan baik. Naila tidak akan pulang sebelum memastikan bahwa teman-temannya sudah siap menggantikan tugasnya di awal pergantian shift meskipun ia sedang diburu waktu untuk kuliah. Naila pun merasa berat meninggalkan teman-temannya di sini. Dua tahun lebih hubungan kekerabatan mereka terbina. Naila, teman-temannya sesama pelayan, para koki, satpam, hingga pegawai kebersihan, sudah seperti saudara. Kebanyakan pegawai di restoran ini bukan asli orang Surabaya. Ada yang dari Mojokerto, Malang, Kediri, Sidoarjo, Kertosono, Tulungagung, dan Nganjuk. Mungkin karena sama-sama jauh dari keluarga, mereka jadi sangat akrab dan menyayangi satu sama lain. Jika maag Naila kambuh, ada saja temannya yang mengantarkan bubur, roti, atau puding ke rumah kosnya sehingga Naila tidak perlu keluar mencari makanan. Teman-temannya juga cerewet mengingatkan Naila untuk tidak melewatkan sarapan paginya meskipun ia sering tidak menghiraukannya. Tetapi Naila menginginkan perubahan dalam hidupnya. Ia harus berusaha untuk selangkah lebih maju mendekati impian-impiannya. Toh ia masih bisa datang ke restoran ini atau mengunjungi asrama, tempat mereka tinggal.
Restoran sedang sepi pengunjung. Hanya dua meja yang terisi, meja 8 dan 13. Tidak biasanya teman-teman Naila berkumpul di lantai 2, termasuk Ibu Ririn. Hanya ada Lisil di meja kasir dan Naila yang stand by di ruang utama restoran. Satu jam lagi jam kerja Naila berakhir. Ia melayani keperluan tamu-tamunya sepenuh hati. Naila tesenyum ramah saat seorang tamu memintanya mengambilkan sepiring fillet daging sapi dan daun gingseng dari display Shabu-shabu dan Yakiniku. Satu per satu teman-temannya yang bekerja untuk shift 2 datang. Mereka datang lebih awal dari biasanya. Naila tidak begitu memikirkannya. Ia mengedarkan pandang ke seluruh ruang restoran seolah berusaha merekam setiap detil kenangannya di tempat ini dalam memorinya. Dua tahun lalu ia datang ke restoran ini sebagai gadis desa yang masih lugu dengan pakaian hitam putih dan rambut dikuncir ekor kuda. Pegawai-pegawai restoran ini menyambutnya hangat. Lalu dengan sabar pelayan yang lebih senior mengajarinya memegang sumpit, melipat napkin, menset-up meja, hingga mengenalkannya pada nama sayur-sayuran dan menu display. Sekarang ia lebih berpengetahuan dan moderen. Apalagi setelah kuliah, cakrawala pengetahuannya bertambah luas. Naila tersenyum mengingat semua itu hingga tak menyadari kehadiran Maria di dekatnya.
“Naila, dipanggil Bu Ririn di atas.”
“Aku? Ada apa?”
“Sudah, naik aja.”
Gadis hitam manis berambut keriting itu hanya mengerlingkan mata dan memberi isyarat agar Naila naik ke lantai 2.
Di ruang makan karyawan lantai 2, teman-temannya sudah berkumpul menunggu Naila. Mereka mengelilingi sebuah meja panjang yang dipenuhi masakan dan jajanan tradisional. Rupanya dari tadi mereka menyiapkan acara perpisahan untuk Naila sehingga ia dibiarkan berdua saja dengan Lisil di lantai bawah. Naila terharu atas perhatian yang diberikan teman-temannya.
“Nah, Naila, kami di sini hanya bisa mendoakan yang terbaik buatmu. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik di tempat kerjamu yang baru dan tercapai semua keinginan dan cita-citamu,” kata Ibu Ririn dalam sambutan singkatnya.
“Kami semua juga minta maaf kalau selama ini ada kesalahan yang tanpa sengaja kami lakukan pada kamu, La” Pak Mulyono menimpali.
Naila menyalami mereka satu per satu. Di akhir acara, teman-temannya menyerahkan bingkisan sebagai kenang-kenangan berisi foto mereka bersama dalam sebuah bingkai yang indah. Kemudian acara ditutup dengan doa dan makan bersama. Satu jam terakhir Naila di restoran ini terasa sangat mengesankan.

*****

Yuli dan pacarnya, Adi, yang juga teman sekelas Naila di kampus, sedang duduk-duduk di beranda rumah kosnya ketika Naila datang. Mereka baru tiba dari mencari rumah kos baru untuk Naila dan Yuli di daerah sekitar kampus. Naila bergabung dengan mereka dan mengeluarkan bungkusan kue yang ia bawa dari restoran.

“Dapat rumah kosnya, Yul?” tanya Naila. 
“Dapat, aku sudah pegang kuncinya,” jawab Yuli sambil mencomot satu nagasari[1].
“Oh, ya, di mana?”
“Pumpungan IV/18, lumayan tempatnya. Aku ambil dua kamar jadi bisa agak lapang, kita nggak perlu senggol-senggolan lagi kalau tidur.”
Naila hanya tersenyum.
“Kamar kita sebelahan, dua kamar paling pojok di lantai 2. Lantai 2 ada 3 kamar, lantai 1 ada 7 kamar. Tapi kamar mandinya di bawah, ada dapurnya juga kalau kita mau masak. Suka, nggak?”
“Aku sih terserah kamu saja, Yul. Yang penting nggak terlalu banyak orang supaya bisa tenang belajar.”
“Iya, makanya aku langsung ambil. Pas banget di atas cuma 3 kamar, jadi nggak begitu ramai.”
“Besok, biar aku dan Yuli yang ngurus pindahan. Kebetulan besok aku libur, kamu terima beres saja,” kata Adi.
“Eh, jangan, Di. Pindahnya Minggu saja, biar aku dan Yuli. Nggak enak ngrepotin kamu.”
“Belagak kamu, La. Masa aku biarkan bidadari-bidadari cantik ini pindahan sendiri? Di mana harga diriku sebagai lelaki?”
“Ha…ha…ha, iso ae[2] kamu, Di. Pindahan saja pakai harga diri segala.”
“Nggak apa-apa, La, lagian besok juga dibantu sopir Pick-up yang kita sewa kok,” Yuli menimpali. 
“Bener, nggak merepotkan nih?”
“Nggak, kok, La. Aku senang bisa bantu kalian.”
Thanks ya.”
“Eh, makan Yuk! Lapar, nih, dari jam 3 tadi muter-muter[3] belum makan,” ajak Adi.
“Kalian saja deh yang makan. Aku barusan makan di restoran.”
“Ceile, yang punya restoran!”
For the last time, Friend, dinikmati mumpung masih bisa makan di restoran,” jawab Naila sambil tertawa.

Lima menit kemudian sepeda motor Adi di-starter. Naila menutup pagar dan membalas lambaian tangan Yuli. Yuli gadis yang baik. Tutur katanya lembut, santun, dan suka menolong. Ia tidak pernah berfikir dua kali untuk membantu teman yang sedang membutuhkan pertolongannya. Sifat tulus tanpa pamrih inilah yang disukai Naila dari gadis berparas ayu ini. Mereka pertama kali bertemu di salah satu agenda OSPEK[4], saat sedang sama-sama diplonco sebagai mahasiswi baru di Unitomo. Saat itu mereka diperintahkan untuk meminta tanda tangan Kajur Sastra Inggris. Di depan ruang Kajur, tanpa sengaja Naila menginjak kaki kiri Yuli. Meskipun sedikit kesakitan, Yuli tersenyum dan memaafkan ketidaksengajaan Naila. Sejak itulah persahabatan mereka dimulai. Yuli, yang saat itu belum mendapatkan rumah kos, menerima tawaran Naila untuk menjadi teman sekamarnya di rumah kos Naila di daerah Gubeng, dekat dengan restoran tempatnya bekerja. Ia pun ikut masuk ke kelas sore bersama Naila walaupun Yuli tidak bekerja pagi harinya.
Belakangan baru Naila tahu kalau Yuli adalah seorang penulis lepas yang biasa mengirimkan cerpen-cerpennya ke majalah anak. Ia sempat membaca beberapa cerpen Yuli yang dimuat di majalah Mentari, majalah anak yang cukup populer di Surabaya. Kepada Naila, Yuli mengatakan kalau selain ingin menjadi pegawai negeri sipil seperti ayah dan ibunya di Madiun, suatu hari ia ingin menjadi penulis. Ia ingin menulis buku cerita untuk anak, yang berisi pengetahuan dan pelajaran moral, supaya anak-anak Indonesia memiliki bacaan yang mendidik. Ia prihatin dengan komik-komik asing yang beredar di negara kita sekarang ini, yang umumnya tidak bagus untuk perkembangan moral dan pendidikan anak. Untuk itulah ia masuk ke jurusan Sastra. Naila kagum pada pribadi dan kepeduliannya terhadap masa depan anak-anak di masa mendatang, di tengah gempuran arus teknologi yang menimbulkan banyak pengaruh negatif pada generasi muda bangsa ini. Selanjutnya, Naila banyak belajar tentang pola kalimat, pemilihan kata, sinonim, dan kaidah gramatikal bahasa Indonesia yang benar pada Yuli. Teknik merangkai kata menjadi kalimat yang secara gramatikal benar, mudah dipahami, dan enak dibaca belum sepenuhnya ia kuasai. Yuli juga mengajarkan kapan pemilihan kosa kata formal dan kosa kata yang santai tapi mengalir serta mudah dipahami lebih tepat digunakan dalam tulisan atau naskah terjemahan, sesuai dengan konteksnya.
Naila beruntung bisa sekamar kos dengan seorang penulis yang cerdas, kreatif, dan berhati lembut seperti Yuli. Mereka saling mengisi dan melengkapi, memberi dan menerima. Jika seorang mengalami kesulitan, yang lain akan langsung membantu tanpa diminta, baik untuk urusan kuliah maupun kehidupan sehari-hari. Naila merasakan arti persahabatan yang sesungguhnya bersama Yuli. Sekarang saat ia akan pindah kos di dekat kampus dan tempat kerjanya yang baru, Yuli juga ikut serta dan dengan senang hati mengurus kepindahan mereka. Pacarnya pun ikut membantu. Naila bersyukur. Walaupun ia tidak punya saudara di kota ini, ia hidup di antara sahabat-sahabat yang baik dan peduli padanya.
Naila menengadahkan wajahnya, sekilas memandang bulan yang menyembul malu-malu di antara ribuan kerlip bintang di langit Gubeng malam ini. Ia menikmati cahayanya sebentar sebelum bergegas masuk untuk mengemasi barang-barangnya.

*****

Kamis pagi, 1 November, hari kerja pertama Naila di The House of Languages. Erick memperkenalkan Naila pada seluruh penghuni kantor, pada Mas Udin yang sebenarnya sudah ia kenal di kampus, Fatma, Rifki, Mas Anang, dan Indra Anugerah, pegawai baru Mitra Bersama Computer. Naila dan Indra disambut hangat di kantor ini, seperti dua orang anggota baru dalam sebuah keluarga. Naila terkesan dengan cara mereka berinteraksi yang lebih seperti teman akrab, mitra kerja yang saling membutuhkan, dan sama sekali tidak menunjukkan kesan hubungan antara bawahan dengan atasan. Erick bahkan menekankan agar ia hanya memanggil namanya saja, tanpa embel-embel “Pak”, “Bapak”, “Bang”, “Kak”, atau “Mas.” Ini sulit dilakukan Naila. Terasa riskan memanggil atasan hanya dengan namanya saja. Bagi orang Jawa seperti dirinya, menghormati orang yang lebih tua merupakan suatu keharusan, meskipun hanya ditunjukkan dengan panggilan Mas, Mbak, Bapak, atau Ibu. Namun demikian, Naila menghargai usaha Erick untuk menghidupkan suasana kerja yang santai, nyaman, tapi serius di kantor ini tanpa harus terpaku pada formalitas perusahaan yang kaku.
Naila duduk di sebelah Mas Udin. Ia hanya berdua saja dengan Mas Udin di lantai 3 ini. Lima menit lalu Erick baru saja keluar untuk menemui seorang klien. Dari Mas Udin, Naila tahu kalau Erick sering keluar kantor untuk presentasi dan memasarkan jasa terjemahan mereka. Erick baru kembali ke kantor setelah makan siang. Kadang-kadang ia kembali jam 3 sore. Di lantai 2, Rifki sedang mengajar kursus privat bahasa Inggris untuk beberapa siswa SMA. Di lantai 1 Mas Anang dan Indra sibuk membongkar pasang komputer dan melayani penjualan sparepart. Suasana kantor yang sibuk dan padat aktivitas. Di samping Naila ada sebuah rak buku dari rotan berisi beraneka macam kamus, mulai dari kamus akuntansi, manajemen, teknik, seni rupa, hukum, psikologi, sinonim-antonim, kamus slang Amerika, bahkan kamus kedokteran. Ada juga kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia karangan John M. Echols dan Hassan Shadily terbitan Gramedia. Tak ketinggalan, kamus tebal English-English, Oxford Advanced Learner’s Dictionary seperti miliknya juga ia lihat di rak itu. Ia juga menemukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan buku Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Naila ingat, saat menjelaskan job description kepadanya Erick mengatakan bahwa jasa terjemahan yang diberikan perusahaan ini tidak menggunakan software apa pun, termasuk Transtool dan Trados. Benar-benar murni pekerjaan penerjemahnya. Erick juga mengatakan kalau kualitas dan pemenuhan deadline harus dijadikan prioritas utama. Tidak heran jika Erick menyediakan kamus-kamus ini sebagai alat bantu bagi penerjemah-penerjemahnya.
Naila menyalakan komputer, lalu memasukkan user name dan password yang diberikan Erick sebelum ia berangkat tadi. Naskah pertama yang harus diterjemahkan Naila dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris adalah company profile sebuah perusahaan rokok. Naskah ini menguraikan sejarah berdirinya perusahaan dan gedung perkantoran bersejarah di Jalan Darmo Surabaya.
“Naila, file terjemahannya nanti selain disimpan di Local Disc (C:) komputermu, kamu copy juga ke server Translation (D:), folder Erick/Indonesia-Inggris. Nanti sebelum dicetak akan diperiksa dulu sama Erick. Setelah ditandatangani Erick, baru dikirim ke klien,” kata Mas Udin.
“Baik, Mas.”
“Perhatikan juga penamaan file-nya, lihat contoh-contoh yang sudah ada di folder itu.”
“Oke.”
“Oh, ya, satu lagi. Erick orangnya sangat teliti. Dia sama sekali tidak mentolerir kesalahan ketik. Lebih baik dibaca lagi dan usahakan terjemahan yang kita setorkan sudah sebaik mungkin dan bebas kesalahan ketik maupun EYD agar tidak memberatkan kerja Erick.”
“Ya, Mas.”
Sebentar kemudian, Naila sudah asyik dengan pekerjaannya. Matanya bergantian melihat naskah terjemahan dan kalimat-kalimat yang telah ia ketik di monitor HP Compaq LE1711 komputernya. Sesekali tangannya mengklik aplikasi kamus yang sudah di-install di hard disc atau membuka kamus teknik yang ada di mejanya. Bila menemukan kata-kata sulit yang tidak ia temukan artinya di kamus, tanpa ragu Naila bertanya pada Mas Udin. Dengan senang hati kakak tingkatnya itu memberitahukannya pada Naila. Naila sudah pernah bertemu dengan Mas Udin beberapa kali di forum bedah buku yang diadakan oleh UKM[5] Sahabat Pustaka di kampus. Rupanya selain aktif dalam kegiatan di Sahabat Pustaka, teater, dan fotografi, Mas Udin juga seorang penerjemah. Di dekat Mas Udin yang pintar dan aktif, Naila jadi sadar kalau banyak yang belum ia bisa. Masih banyak yang harus ia pelajari dan lakukan. Naila menyukai pekerjaan barunya ini. Menerjemah tidak semata-mata bekerja, tetapi juga belajar. Dengan naskah yang ia terjemahkan, berarti ia juga membaca ilmu pengetahuan, memperoleh informasi, dan memperkaya kosa kata bahasa Inggrisnya.
Naila masih merasa seperti bermimpi. Dalam hati kecilnya, ia belum juga percaya kalau sekarang ia sudah menjadi orang kantoran yang sedang menerjemahkan naskah bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Ia mengetik dengan komputer, tidak lagi memegang lap piring, tidak pula sedang melipat napkin atau melayani keperluan tamu-tamu di restoran. Dalam hatinya, Naila berjanji akan mengerjakan pekerjaannya sebaik-baiknya.

*****

Bapak Slamet Hidayat, dosen mata kuliah Integrated English I, sedang menyampaikan pengantar reading tentang Keluarga McCartney. Pada jam pelajaran pertama ini, Naila dan teman-temannya belajar tentang describing people with phrases and clauses, mendeskripsikan orang dari ciri-ciri fisiknya dengan menggunakan frasa dan anak kalimat. Naila duduk di kursi paling depan di samping Yuli. Adi duduk di deretan belakang karena ia datang terlambat. Rata-rata mahasiswa kelas sore adalah karyawan perusahaan sehingga datang terlambat sudah menjadi pemandangan umum setiap hari. Dosen memaklumi kondisi ini. Asalkan jumlah kehadiran tidak kurang dari 75 persen, mahasiswa diperbolehkan mengikuti ujian meskipun mereka sering terlambat masuk kelas.
Pak Slamet menginstruksikan mahasiswa untuk membentuk kelompok kecil dan mendiskusikan deskripsi masing-masing anggota keluarga McCartney. Naila segera menggeser tempat duduknya, membentuk lingkaran dengan Yuli, Jannah, Ari, dan Agung. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 mahasiswa. Selesai diskusi satu mahasiswa akan ditunjuk sebagai perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Dilihatnya Adi, Taufik, dan Pram, bergabung dengan Titin dan Kikib. Anggota kelompok yang tidak pernah berubah komposisinya di setiap forum diskusi kelas. Mereka menjadi rival utama Naila dan kelompoknya setiap ada presentasi karena Adi dan gangnya selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menjatuhkan kubu Naila. Selalu ada saja pertanyaan yang membuat dahi Naila dan teman-temannya berkerut jika mereka tidak mempersiapkan materi dengan baik. Meskipun mereka berteman baik, di kelas setiap mahasiswa adalah saingan. Masing-masing berlomba untuk menjadi yang terbaik. Inilah yang disukai Naila dari mahasiswa kelas sore. Semua mahasiswa belajar lebih serius karena mereka sudah bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri. Bisa dipastikan bahwa kelas selalu hidup dan aktif. Naila punya akal. Ia menunjuk Yuli untuk maju ke depan mewakili kelompoknya, supaya Adi tidak mengerjai mereka dengan pertanyaan-pertanyaan jahilnya.
Yuli maju ke depan kelas membawa gambar keluarga McCartney di buku diktat Integrated English I. 
Good evening, Friends. On this occasion, I would like to describe a member of the McCartneys, Linda McCartney. She is a beautiful young lady who is wearing beautiful red gown in the picture. Linda McCartney who has a long nose and blonde hair is the wife of Paul McCartney.
Can I ask you a question?” Taufik menginterupsi.
Yes, sure,” jawab Yuli.
Oh, My God! Naila sudah tahu apa yang akan diprotes Taufik. Yuli salah menyebutkan istilah hidung mancung dengan long nose, bukan pointed nose. Kesalahan Yuli ini bisa dipastikan akan menjadi senjata bagi Taufik untuk mengejeknya habis-habisan di depan kelas.
Is Linda McCartney a Pinochio who has a long nose?”
Muka Yuli merah. Kelas menjadi sangat ramai dengan perdebatan dan diskusi mahasiwa yang diselingi tawa mengejek dari anggota kelompok lawan.
Yuli segera meralat deskripsinya.
Sorry, Linda McCartney who has a pointed nose and blonde hair is the wife of Paul McCartney.”
Dari ujung matanya, Naila melirik Adi yang hanya diam. Mungkin ia tak sampai hati melihat pacarnya dikerjai Taufik. Coba kalau Naila yang maju, Adi pasti habis-habisan mengerjainya.
Pada jam pelajaran ke-2, dosen MKDU[6] Ilmu Sosial Dasar tidak datang. Seorang asisten dosen memberikan tugas untuk membuat makalah tentang isu sosial di Surabaya yang harus dikumpulkan minggu depan. Naila melangkahkan kaki ke gedung perpustakaan, mencari referensi untuk mengerjakan tugas itu. Yuli, Adi, dan beberapa teman masih mengobrol di depan kelas. Naila melirik arlojinya, belum genap jam delapan malam. Ia bergegas mengembalikan buku Common Errors in English yang dipinjamnya seminggu lalu dan mencari referensinya di rak Ilmu-ilmu Sosial. Setelah menemukan yang ia cari, Naila kembali ke petugas dan bergegas keluar dari perpustakaan. Badannya terasa lelah, mungkin karena semalam ia tidur terlambat karena mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa Yuli pindah rumah kos pagi tadi. Naila ingin segera sampai ke rumah kos barunya dan merebahkan badan. Tetapi perutnya terasa lapar. Naila ingat tadi sore ia belum sempat makan, pulang kerja langsung sholat dan masuk kelas.
Naila melihat-lihat deretan warung makan di sepanjang Jalan Semolowaru. Bermacam-macam makanan dijual di warung-warung kaki lima itu, ayam, bebek, dan lele penyet, soto ayam Lamongan, pecel Kediri, mie/nasi goreng, dan lain-lain. Naila sama sekali tak berminat. Perutnya lapar tapi ia sedang tidak tertarik dengan makanan yang berat-berat. Roti bakar atau kentang goreng saja cukup untuknya. Ia menyeberang jalan dan masuk ke In Blue café, kafe kecil di sebelah kanan kampus STIE Perbanas. Naila sering lewat di depan kafe ini, tetapi belum pernah makan di sini. Meski lebih tepat disebut kedai daripada kafe, tempat makan yang dindingnya didominasi warna biru ini menarik perhatian pengunjung. Tempatnya nyaman. Lampu penerangan sengaja dibuat redup sehingga terkesan romantis. Musik yang diputar tidak hanya lagu-lagu baru yang masuk dalam deretan Top Forty, tetapi juga lagu-lagu pop lama yang lembut dan romantis. Menu-menunya ringan tapi nikmat. Harganya pun terjangkau oleh kocek mahasiswa. Kafe ini menjadi pilihan mahasiswa yang ingin menuntaskan rasa lapar atau hanya sekedar hang-out bersama teman-teman satu gang. Duduk di kursi kayu, merasakan semilirnya angin malam dari ruangan yang terbuka sambil melihat-lihat karya fotografi yang ditempel di dinding-dinding kafe, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung kafe ini. Rupanya In Blue Cafe dikelola bersama-sama oleh beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unitomo yang hobi fotografi. Karena itulah kafe ini juga difungsikan sebagai ruang pamer hasil karya mereka.
Naila sedang mencari tempat duduk kosong ketika pandangannya beradu dengan pandangan dari sepasang mata yang sepertinya ia kenal. Pemilik sepasang mata di bawah dua garis alis yang hampir bertaut itu spontan melambaikan tangan ke arahnya.
“Naila, gabung yuk!”
Naila terdiam sesaat. Di meja tak jauh dari tempatnya berdiri, Erick dan tiga orang temannya sedang bersantai menikmati sisa minuman mereka. Dan sekarang ia berjalan mendekatinya.
“Sendiriankah?”
Naila mengangguk.
“Yuk, gabung sama teman-teman aku saja.”
Erick menggandeng tangannya dan membawanya ke mejanya. Naila gelagapan, tidak menyangka kalau Erick, bos barunya di kantor, memperlakukannya sangat akrab seolah mereka telah lama kenal.
“Kenalkan, ini Naila, teman aku di kantor.”
Dalam hati Naila bertanya, Erick menganggapnya teman, bukan pegawainya?
“Halo Mbak, Teddy,” seorang pria hitam manis berpostur tinggi mengulurkan tangannya.
“Naila.”
“Ini Arief dan ini Fathur. Semuanya teman kos aku.”
“Hai,” Naila tersenyum pada mereka.
Erick memundurkan satu kursi yang masih kosong di sampingnya dan mempersilahkan Naila duduk.
“Mau pesan apa?”
“Emmm,...boleh kentang goreng saja sama jus melon.”
Erick memanggil pelayan kafe.
“Minta kentang goreng satu, jus melon satu, dan tahu isi daging satu.”
Sepuluh menit kemudian pesanan makanan datang. Teman-teman Erick berdiri, hendak meninggalkan mereka.
Bro[7], kita duluan ya,” kata Teddy pada Erick.
“Loh, kok pada pergi?”
“Iya, nggak enak ganggu” sahut Arief sambil mengerling ke arah Erick.
“Nggak kok, Mbak. Kita sudah kenyang, sudah dari tadi di sini,” Fathur menjelaskan.
Naila kikuk karena ditinggalkan berdua saja dengan Erick. Ia tak ingin salah tingkah di dekat Erick. Ia memainkan sedotan di gelas jus melonnya yang tinggal setengah. Naila berusaha mengusir debaran-debaran halus namun indah yang mulai bergemuruh di dadanya. 
“Naila rumah kosnya di mana?”
“Dekat sini, Pak, Pumpungan IV nomor 18.”
“Hei, panggil apa tadi? Kan sudah dibilang panggil nama saja.”
“Eh, iya, Pak, …eh Kak, aduh maaf nggak terbiasa.”
“Panggil Erick saja. Aku juga kos di Pumpungan IV, nomor 44B. Rumah kos kamu masih lurus sikit[8], dekat masjid. Tapi kok tak pernah jumpa kamu ya?”
“Oh, aku baru malam ini kos di situ. Sebelumnya di Gubeng.”
“Kapan pindahnya? Tadi pagi kan kerja?”
“Teman yang ngurus pindahannya, Kak. Aku tinggal masuk.”
“E…Rick,” kata Erick pura-pura marah.
“Maaf, Erick,” jawab Naila malu-malu.
Sebentar kemudian mereka terlibat dalam perbincangan hangat, berusaha saling mengenal satu sama lain. Pembicaraan mengalir begitu saja. Kini mereka sudah tidak segan lagi ber “Aku-Kamu”. Dalam pemikiran Naila, Erick, yang sejak pertama ia lihat sudah membuat hatinya bergetar, adalah pribadi yang menyenangkan. Ia ramah dan mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya, jauh dari kesan cuek atau angkuh. Erick mengambil sepotong kecil tahu dengan garpunya dan mengarahkannya ke mulut Naila.
“Cobain ini, enak bener rasanya.”
Sekali lagi Naila terkejut karena Erick memperlakukannya seperti itu. Ia baru dua kali bertemu dengannya. Pertama saat wawancara kerja, kedua saat ia masuk kantor tadi pagi. Namun sikap Erick sudah sok dekat dengan Naila. Naila tidak bisa lagi membedakan perasaan riskan dan senang karena diperlakukan Erick seperti itu. Sebelum ia berfikir lebih panjang, hati kecilnya berbisik dan menyuruhnya menerima sepotong tahu yang disuapkan Erick. Naila pun tidak menolak saat Erick mengantarnya pulang. Bukan karena rumah kos mereka satu arah tetapi berdekatan dengan Erick membuat hatinya berbunga-bunga.

*****






[1] Kue tradisional dari tepung beras yang di tengahnya diisi pisang, dibungkus daun pisang, dan dikukus.

[2] Bisa saja

[3] Keliling-keliling

[4]                               Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

[5]               Unit Kegiatan Mahasiswa

[6]               Mata Kuliah Dasar Keahlian Umum

[7]               Singkatan dari Brother

[8]               Sedikit


Note: Boleh di-share dengan menyertakan nama penulisnya. 

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...