google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati: Bab 2 Novel Passion in Sop Buah

Sunday, March 24, 2019

Bab 2 Novel Passion in Sop Buah


Dua
Andai Aku Menjadi Kontestan MasterChef Indonesia




Kami sarapan dalam diam. Mama menyantap sarapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sesekali dia mengaduk-aduk tehnya. Sementara aku tidak terlalu berselera menyantap makananku. Soup bola-bola daging dan perkedel yang dimasakkan mama tidak berhasil menggungah nafsu makanku. Sesekali kalau tidak sedang lelah,  mama memang memasak dan menyiapkan sendiri sarapan buat kami. Mbak Jum membantunya sesuai instruksi mama. Bukan karena soup mama tidak menarik tetapi hatiku masih dongkol dengan sikapnya yang belum juga mau mengalah padaku. Hal seperti ini biasa terjadi sejak kami sering berantem karena keinginanku pindah ke SMK jurusan boga. Setelah berantem biasanya kami malas menyapa. Baik aku maupun mama enggan bicara lebih dulu. Namun kondisi ini pasti tidak berlangsung lama. Mama tidak pernah absen menelponku sepulang sekolah dan menyuruhku langsung pulang bila tidak ada jadwal kursus melukis atau kegiatan ekstra kurikuler. Walaupun aku beberapa kali tidak mematuhi perintahnya, terutama sejak uang jajanku dipangkas, mama masih belum bosan mengomeliku di telepon. Bukan salahku bila aku lebih memilih nongkrong di rumah Roni, sahabatku sejak di sekolah TK itu, daripada pulang cepat dan tidak ada yang menarik untuk kulakukan di rumah. Salah mama juga sih, kenapa dia melarangku belajar memasak di dapurnya.
“Mama dan Andre ini kenapa, berantem lagi?” tanya Papa memecah kebisuan di antara kami.
Mama melengos sebentar kemudian kembali asyik dengan sendok garpunya.
“Tanya saja sama anak kesayangan Papa itu,” jawab mama sebelum memasukkan potongan perkedel ke mulutnya.
“Kenapa lagi Ndre?”
Aku tidak menyahut. Papa geleng-geleng kepala, meletakkan garpunya, dan mengambil cangkir tehnya.
“Soal sekolah lagi?”
“Iya Pa. Mama sih, tidak mau mengerti keinginan Andre,” jawabku.
“Lha kamu punya keinginan kok aneh-aneh. Mbok ya difikir masak-masak. Apa bagusnya cita-cita menjadi chef? Apa nggak ada cita-cita lain yang lebih keren?” sahut mama yang bikin telingaku merah.
“Kenapa sih Pa, mama begitu menginginkan Andre jadi arsitek?” tanyaku pada Papa tanpa memedulikan omongan mama.
“Kok tanya Papa. Tanya sendiri sama orangnya. Mungkin mantan pacar Mama dulu seorang arsitek,” jawab papa bercanda.
“Papa ini asal saja kalau bicara. Anak Papa itu sok dewasa, seolah-olah berhak menentukan masa depannya sendiri. Padahal masak juga belum bisa.”
“Makanya itu Andre ingin pindah ke sekolah jurusan boga Ma, supaya Andre bisa belajar memasak lebih banyak,” sahutku nggak mau kalah.
“Sudah-sudah. Pagi-pagi ibu dan anak sudah ribut. Seperti Tom and Jerry saja,” goda papa.
“Idih Papa. Nggak lucu ah!” jawab mama lalu meneruskan suap demi suap sarapannya.
Aku menghabiskan sendok terakhir sarapanku, menutup sarapanku dengan seiris puding susu, dan kemudian beranjak ke kamar mengambil tas. Tidak ada gunanya melanjutkan pertengkaran dengan mama. Meskipun papa bersikap sedikit lebih demokratis terhadap masalah ini, aku tidak bisa mengandalkan dukungannya. Papa juga belum sepenuhnya menyetujui keinginanku pindah ke SMK jurusan boga.
“Andre berangkat Pa,” pamitku.
“Hati-hati, jangan ngebut. Masih cukup waktu untuk ke sekolah,” pesan Papa.
Jarak antara rumah dan sekolahku tidak begitu jauh, kurang lebih lima belas menit ditempuh dengan sepeda motor.
“Ma Andre berangkat.”
“Ya, belajar baik-baik!” jawab mama garing.
Aku berangkat paling awal. Mama berangkat ke kantor bareng papa jam tujuh lebih nanti. Papa mengantar mama dulu baru berangkat ke kantornya di daerah Jenggolo.  Pulangnya mama dijemput tukang ojek langganan karena papa sering pulang telat.
Matahari mulai memancarkan sinar hangatnya. Jalanan sudah ramai meskipun belum terlalu padat. Semakin lama lalu lintas di kota Sidoarjo semakin padat saja. Beberapa Polantas memarkir sepeda motor mereka di pinggir jalan lalu mengambil posisi agak ke tengah jalan. Mereka bersiap-siap mengatur lalu lintas untuk mencegah kemacetan di jam-jam sibuk sebentar lagi. Aku memacu gas sepeda motorku sedikit lebih kencang. Motorku melaju, meliuk-liuk di antara kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalan raya pagi ini.  
Sepuluh menit kemudian, aku tiba di depan pintu gerbang sekolah. Kulihat Haris dan Nanang, teman sekelasku, baru saja memarkir motor. Mereka menungguku dan kami berjalan beriringan menuju kelas.
“Ndre hari ini nggak ulangan Matematika kan?” tanya Haris begitu aku mendekat.
“Nggak ada pemberitahuan. Mudah-mudahan pak Sholihin tidak mengadakan ulangan harian mendadak.”
“Iya nih. Soalnya semalam aku nggak belajar, ngantar mamaku ke dokter sampai malam. Pulang dari dokter sudah ngantuk berat.”
“Sakit apa mamamu Ris?” tanyaku prihatin.
“Demam, batuk, pilek, sudah 3 hari ini.”
“Coba makan soup ayam yang agak panas-panas. Soup ayam bisa jadi obat flu yang alami loh,” saranku.
“Mantap…kawanku yang satu ini memang tidak pernah jauh dari makanan,” seloroh Nanang.
“Serius. Menurut penelitian, senyawa yang ada dalam soup ayam, yaitu carnosine, mampu membantu sistem kekebalan tubuh untuk melawan flu tahap awal. Sebagian ahli THT juga menyatakan bahwa cairan panas membantu meningkatkan pergerakan lendir hidung yang selanjutnya membersihkan saluran udara dan mengurangi kemacetan. Itu menurut artikel-artikel yang kubaca di internet lo.”
“Sudah kok Ndre. Tadi pagi mama masak soup ayam, dokternya juga menyarankan begitu.”
“Siplah kalau begitu. Mudah-mudahan mamamu cepat sembuh.”
“Amiin, thanks Ndre.”
Beberapa teman masih bergerombol di depan kelas. Pelajaran baru dimulai sepuluh menit lagi. Aku langsung menghampiri Iyan yang sedang meraut pensilnya.
“Halo Ron,” sapaku.
“Hai Ndre,” balasnya dengan senyum lebar.
Suasana kelas menjadi riuh ketika Kiki, Nabila, Erni, dan Lilis, teman-teman perempuanku yang periang, masuk kelas. Sebagian teman lain masih ada yang sibuk mengutak-atik gadgetnya. Aku segera mengeluarkan buku diktat dan catatanku. Minggu sebelumnya Pak Sholihin menyampaikan bahwa beliau akan melanjutkan pembahasan tentang bilangan berpangkat di jam pertama pagi ini. Masih ada waktu untuk membuka-buka bab ini lagi sebelum guruku yang terkenal super tegas itu datang. Pangkat bulat positif, pangkat bulat negatif, dan pangkat nol, belum kumengerti sepenuhnya. Seperti Haris, semalam aku juga tidak belajar karena suasana hati yang tidak enak. Kususuri deretan angka berpangkat dan kucoba memahami lagi konsepnya satu per satu.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Selamat pagi, Anak-anak,” sapa Pak Sholihin begitu masuk ke kelas lima menit kemudian.
“Waalaikum salam. Selamat pagi, Pak,” jawab kami.
Setelah Nanang memimpin doa, pak Sholihin memulai pelajaran.
“Hari ini kita mengulas kembali bilangan berpangkat, latihan soal-soal, dan melanjutkan pembahasan ke bilangan akar. Ada yang masih ingat konsep-konsep bilangan berpangkat yang dibahas minggu lalu?”
Aku tidak berani menjawab karena tidak begitu yakin dengan ingatanku tentang bahasan minggu lalu. Hanna mengangkat tangan. Dia hampir tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan guru. Selain cerdas, Hanna juga rajin berlatih mengerjakan soal-soal Matematika. Di tangannya selalu ada buku-buku bank soal, baik Matematika, Fisika, Kimia atau kadang-kadang bahasa Inggris. Dia berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain. Cantik, tidak banyak bicara, juga tidak banyak tingkah. Beberapa temanku tergila-gila padanya, termasuk Haris walaupun Hanna menanggapinya biasa-biasa saja.
“Konsep-konsep perkalian bilangan berpangkat sebagai berikut. Dalam operasi perkalian, jika bilangan pokoknya sama, maka pangkat dijumlahkan. Dalam operasi pembagian jika bilangan pokoknya sama, maka pangkatnya dikurangkan dan semua bilangan jika dipangkatkan nol maka hasilnya adalah satu.”
“Ya betul sekali Hanna. Yang lain sudah siap mengerjakan latihan soal?” Tanya Pak Sholihin tiba-tiba.
“Tidak Pak...!” jawab kami serempak.
“Siswa jaman sekarang, baru mendengar kata latihan soal saja sudah ketakutan. Jangan dibiasakan seperti ini anak-anak. Setiap hari kalian harus siap menghadapi soal. Ini Matematika. Tidak ada jalan lain untuk menguasai Matematika selain latihan mengerjakan soal. Mengerti?”
“Mengerti Pak!”
Pak Sholihin yang tiap kali mengajar selalu memakai kopyah itu membagi papan tulis menjadi dua bagian. Bagian kiri diisi tiga soal operasi perkalian dan bagian kanan tiga soal operasi pembagian bilangan berpangkat. Beberapa siswa ditunjuk maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal itu. Tiga siswa laki-laki termasuk aku dan tiga perempuan maju bergantian. Untung aku menyimak jawaban Hanna tadi sehingga satu soal Pak Sholihin bisa kukerjakan.
Setelah jam pelajaran Matematika usai, Pak Didik, guru Biologi kami masuk. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang keanekaragaman hayati. Lima belas menit pertama aku masih menyimak penjelasannya dengan baik. Namun lima belas menit berikutnya ketika memasuki bahasan tentang keanekaragaman gen tumbuhan dan hewan, aku mulai bosan. Rasa malas perlahan-lahan menyerangku. Aku berharap bel istirahat segera berbunyi. Aku bukan tidak suka mata pelajaran Biologi, tetapi bahasan tentang keanekaragaman hayati tidak menarik bagiku. Bahasan yang paling kusukai dalam Biologi adalah rantai makanan dan sistem pencernaan makanan. Tentu saja karena keduanya berhubungan dengan makanan. Seorang calon Chef harus memahami sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia. Chef tidak boleh hanya pintar memasak saja, dia juga harus mengerti bagaimana makanan yang dimasaknya dicerna tubuh. Selain malas, kantuk juga menyergapku. Aku menguap tanpa sengaja dan cepat-cepat menutup mulutku.
Tiba-tiba anganku melayang pada acara MasterChef Indonesia yang tidak pernah kulewatkan tayangannya. Kubayangkan diriku menjadi salah satu kontestan dalam ajang pencarian bakat memasak itu. Alangkah bangganya bila aku memakai apron[1] berlogo MasterChef dan memasak di galeri MasterChef bersama kontestan-kontestan lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Akankah aku mampu menyelesaikan tantangan demi tantangan yang diberikan oleh para Chef Master? Berapa kali pressure test harus kujalani jika aku melakukan kesalahan? Aku tersenyum-senyum sendiri. Kurasa aku telah meninggalkan ruangan kelasku. Suara Pak Didik yang menjelaskan gen dan spesies tumbuhan sambil menunjuk-nunjuk gambar di papan tulis tidak kudengar lagi. Tak kudengar pula suara teman-temanku yang sesekali mengajukan pertanyaan pada Pak Didik. Anganku benar-benar telah pindah ke galeri MasterChef Indonesia, tempat para kontestan bersaing untuk menyelesaikan tantangan mereka. Di sana tiga chef master sedang berdiri di depan para kontestan MasterChef Indonesia season...season berapa ya? Aku menghitung. Sekarang usiaku 16 tahun. Peserta MasterChef Indonesia minimal usianya 18 tahun. Berarti dua tahun lagi aku baru bisa mendaftar. Mungkin MasterChef Indonesia season 5 atau 6. Aku tidak peduli, season berapa pun yang penting aku menjadi kontestan yang memasak dan ditonton oleh jutaan orang Indonesia.  Hei, para Chef Master-nya masih sama, Chef Degan, Chef Marinka, dan Chef Arnold.
Chef Marinka sedang menjelaskan bahwa untuk tantangan kali ini kami diharuskan memasak bahan utama yang ada dalam mistery box di depan kami. Aku dan dua puluh sembilan kontestan lainnya penasaran terhadap isi mistery box itu. Rupanya aku lolos seleksi dan berhasil masuk ke deretan top thirty calon MasterChef Indonesia berikutnya. Chef Marinka membuka mistery box itu. Wow, organ-organ dalam sapi, otak, limpa, dan paru. Aku bergidik, kurang suka dengan jerohon sapi. Aku belum pernah masak jerohan sapi sebelumnya. Kalaupun memasak sapi, aku lebih suka memilih daging has dalam yang kujadikan rendang, dendeng, atau daging bumbu lapis. Namun aku harus tetap semangat. Chef tidak boleh memilih-milih bahan makanan. Chef harus bisa memasak bahan makanan apa saja. Akhirnya Chef Degan membagi tiga jenis jerohan sapi itu pada kontestan. Sepuluh kontestan mendapat otak, termasuk aku, sepuluh lainnya mendapatkan limpa, dan sepuluh kontestan terakhir mendapatkan paru. Otakku masih blank sampai Chef Arnold menyebutkan hitungan terakhir waktu kami. Mau dimasak apa otak sapi bagianku ini? Satu-satunya masakan otak yang kutahu adalah gulai otak yang biasa dijual di depot-depot masakan Padang. Akhirnya kuputuskan untuk memasak gulai saja daripada menghabiskan banyak waktu untuk berfikir. Aku menyalakan kompor dan mulai menyiapkan bumbu-bumbu gulai. Lima buah cabe merah keriting, 5 siung bawang merah, 2 cm kunyit, 1 cm jahe, 1 cm lengkuas, 1 batang serai, 1 lembar daun kunyit, sepotong asam kandis, 1 lembar daun jeruk purut, dan 375 ml santan kukira cukup untuk memasak 200 gram otak sapi ini. Jantungku mulai berdebar ketika memasukkan otak ke dalam panci. Sejenak aku bimbang, berapa lama akan kurebus otak itu? Naluriku mengatakan agar aku tidak terlalu lama merebusnya supaya otaknya tidak lembek. Sebentar saja, sekedar untuk membersihkan kulit ari dan urat-urat darahnya. Chef Arnold mendekatiku.
“Andre, kamu kebagian otak. Mau kamu masak apa?”
“Gulai otak ala Padang Chef,” jawabku percaya diri.
“Oke. Hati-hati mengambil otaknya dari panci.”
“Baik Chef!”
Aku mengangkat otak dari panci dan meniriskannya. Ketika aku sedang asyik mengupas bawang, kudengar suara langkah mendekat.
“Andre!”
Suara yang memanggilku itu membuyarkan konsentrasi memasakku. Suara laki-laki tapi bukan suara Chef Arnold atau Chef Degan. Bukan pula suara salah satu kontestan di gallery memasak. Astaga! Aku ingat suara itu. Itu suara Pak Didik, guru biologiku yang berkumis tebal. Dan sekarang ia sudah berada di dekatku. Oh, My God! Aku seperti terlempar kembali ke kelasku.
“Dari tadi kamu tidak menyimak penjelasan Bapak. Apa yang kamu lamunkan?” tanya Pak Didik.
“A...a...anu, Pak...” jawabku gugup.
Tidak marah saja Pak Didik sudah terlihat sangar karena posturnya yang tinggi besar dan kumisnya yang tebal, apalagi kalau sedang marah seperti ini. Aku pasti tidak akan lolos dari hukuman.
“Jadi kalau merasa sudah pintar tidak mau mendengarkan penjelasan Bapak?” tanyanya lagi.
“Bu...bu...kan begitu Pak,” jawabku masih gugup.
Mata pak Didik terus memandangiku. Aku menundukkan muka.
“Kalau memang tidak suka dengan pelajaran Bapak, lebih baik kamu keluar saja! Tidak usah masuk kelas daripada mengganggu yang lain.”
Aku diam saja. Pak Didik kembali ke depan, menuju meja guru. Dia mengambil selembar surat pengantar yang ada di meja dan menuliskan sesuatu.
“Kemari kamu!” perintahnya.
Aku beranjak mendekati mejanya.
“Temui guru BP lalu ke perpustakaan buat rangkuman tentang keanekaragaman hayati. Buat beberapa soal dan jawab sendiri. Ingat kamu tidak boleh istirahat hari ini. Kerjakan sebelum jam pelajaran Bapak selesai. Mengerti kamu?”
“Baa...ik, Pak.”
Aku menerima surat pengantar yang diberikan Pak Didik lalu melangkah gontai menuju kantor guru untuk menemui guru BP. Pak Didik tidak hanya merampas waktu istirahatku dengan memberikan tugas merangkum ini tetapi beliau juga mengacaukan lamunan indahku sebagai kontestan MasterChef Indonesia. Semoga guru BP tidak menitipkan surat untuk kedua orangtuaku karena mama dan papa pasti marah kalau sampai mendapatkan surat dari sekolah karena kesalahanku ini.


*****

Note: Boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya

[1] Celemek

No comments:

Post a Comment

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...