Tiga
Cokelat Buat Hanna
Aku baru saja pulang dari kursus melukis ketika melihat Haris sudah
menungguku di beranda rumah. Entah apa tujuannya datang kemari tadi pun kami
bertemu di sekolah. Tidak ingin kelamaan menerka-nerka tujuan kedatangannya aku
langsung menghampirinya.
“Sudah lama Ris?”
“Lumayan, hampir dua jam sampai pantatku panas duduk di sini. Daripada
pulang kejauhan mending aku tunggu saja. Kamu kok nggak bilang kalau hari ini kursus
melukis?”
“Lha kamu nggak tanya. Kalau ada
perlu kenapa tidak kamu katakan di sekolah saja tadi?”
“Tadi aku mau bilang sama kamu pas jam istirahat tapi kan kamu lagi
dihukum. Habis istirahat aku kelupaan, langsung keluar kelas setelah bel
berbunyi. Aku telepon berkali-kali kamu nggak angkat. Jadi aku ke sini saja. Aku
mau minta tolong sama kamu Ndre.”
Aku baru teringat ponselku yang kutaruh di jok motor. Memang tadi sebelum
jam pelajaran Biologi berakhir aku masuk kelas sebentar untuk mengumpulkan tugas
rangkuman pada Pak Didik. Namun setelah itu aku kembali ke Guru BP karena
beliau menyuruhku mengerjakan tugas rangkuman dulu baru kembali lagi menghadap
beliau. Aku bernasib baik siang tadi. Ibu Nur, guru BP-ku, hanya menasehatiku
panjang lebar tentang kewajiban dan hak siswa di sekolah. Beruntung sekali
beliau tidak menitipkan surat untuk orangtuaku. Kalau tidak, bisa habis aku dimarahin
mama dan papa. Dulu aku pernah melakukan satu kesalahan saat masih SMP. Aku
pulang waktu jam istirahat dan tidak kembali lagi ke sekolah. Guru BP
mengirimkan surat pada orangtuaku dan aku di-skorsing dua hari. Akibatnya mama dan papa marah besar. Mereka
tidak bisa mentolerir kesalahan-kesalahanku yang berhubungan dengan sekolah. Aku
sampai dihukum tidak boleh keluar kamar sampai masa skorsing-ku berakhir. Sejak saat itu, aku tidak berani lagi membuat
ulah di sekolah. Kejadian di kelas Biologi tadi sama sekali tidak kusengaja. Untunglah
guru BP mau mengerti penjelasanku walaupun aku harus mendengarkan
nasehat-nasehatnya yang membuatku bosan.
“Tolong apaan Ris, pinjam buku catatan?” tanyaku penasaran.
“Yeilah, kan aku nggak absen,
ngapain pinjam buku catatanmu? Buku catatanku malah lebih lengkap dari punyamu
kali.”
“Iya…ya, masuk yuk,” ajakku.
Aku masuk ke kamar sebentar untuk menyimpan alat-alat lukisku kemudian
kembali menemui Haris di ruang tamu. Setoples sus kering dan
sepiring kecil risoles beef mayo yang disuguhkan mbak Jum sudah hampir
habis. Minuman di gelas Haris juga sudah habis.
“Mbak Jum minta jus dua
gelas,” teriakku pada mbak Jum yang sedang merapikan ruang tengah.
“Iya Mas,” sahutnya.
“Kamu sudah makan Ris?”
tanyaku.
“Belum lah. Dari tadi kan
nungguin kamu. Nggak ditawarin makan lagi sama mbak-mu itu,” jawabnya sambil
menepuk perut.
“Salah sendiri kenapa
nggak minta,” jawabku seenaknya.
“Gengsi lah, masak
keren-keren gini minta makan.”
Aku hanya tertawa
mendengar jawaban Haris.
Sepuluh menit kemudian, mbak
Jum muncul membawa nampan berisi dua gelas jus melon. Aku langsung mengambilnya
karena tenggorokanku memang sudah kering sejak keluar dari tempat kursus tadi.
“Punyaku gulanya sedikit
dan nggak pakai susu kan?” tanyaku.
“Iya Mas, Mbak Jum sudah
tahu,” jawabnya menegaskan.
“Ya sudah. Terima kasih.”
“Galak benar kamu sama asisten rumah tanggamu Ndre,” kata Haris.
“Kalau nggak digituin lupa melulu. Aku nggak suka banyak
gula. Melon sendiri sudah manis, kalau gulanya kebanyakan apalagi ditambah susu
rasanya seperti minum es tebu. Eh, makan dulu yuk?”
“Nggak deh makasih. Tadi
sudah makan risoles dan sus kering sampai habis.”
“Yakin?”
“Iya Ndre, lagian waktuku
nggak banyak. Mamaku pasti sudah
tengak-tengok pintu menungguku. Udah hampir jam 3 nih.”
“Mau minta tolong apa tadi?”
“Hanna ulang tahun,” kata Haris pendek.
“Kapan?” tanyaku.
“Besok. Aku baru ingat pas melihat note
di ponselku.”
“Terus?”
“Aku ingin memberikan
kado buat Hanna.”
“Maksudnya apa
hubungannya denganku? Kamu mau minta kutemani membeli kado?”
“Bukan Ndre. Aku mau
minta tolong kamu buatkan cokelat buat Hanna.”
“What! Yang naksir Hanna siapa, kenapa aku yang disuruh bikin cokelat?”
protesku.
“Kan cuma kamu satu-satunya sahabatku yang pintar memasak. Kamu
pasti bisa bikin cokelat yang enak dan bagus buat Hanna. Hanna pasti suka cokelat
buatanmu. Tolong Ndre, mau ya?”
“Ini sih enak di kamu,
nggak enak di aku.”
“Please Ndre. Ini kesempatan bagus untuk mendapatkan perhatian
Hanna.”
“Ya tapi nggak mendadak
begini Ris. Aku kan baru pulang kursus, belum lagi kapan belanjanya. Masaknya
di mana? Kan kamu tahu aku nggak boleh masak di rumah.”
“Please Ndre. Kali ini saja. Kamu boleh minta apa saja deh sebagai
imbalannya. Yang penting besok aku bisa menghadiahi Hanna dengan cokelat yang
enak dan cantik. Kalau perlu aku sendiri yang minta izin pada mamamu agar kamu
dibolehkan memasak malam ini. Nggak sulit kan bikin cokelat bagimu Ndre?”
“Kenapa nggak beli aja
sih Ris?”
“Nggak lah. Aku yakin cokelat
buatanmu lebih enak dari cokelat-cokelat yang dijual di bakery di seluruh pelosok kota Sidoarjo ini. Makanya aku minta
tolong sama kamu Ndre. Please, mau
ya?” nada suara Haris agak memelas.
“Ya ampun Ris sampai
segitunya belain cewek.”
“Namanya juga jatuh cinta Ndre. Nanti kalau kamu jatuh cinta kamu pasti
merasakan sendiri.”
Aku menyerah. Walaupun badanku pegal-pegal karena belum istirahat sejak
berangkat sekolah pagi tadi namun solidaritasku sebagai sahabat Haris terpanggil.
Apa salahnya membantu teman. Toh bila Haris senang aku
pun ikut senang. Hanya saja aku perlu mencari cara supaya malam ini aku bisa menggunakan
dapur mama untuk membuat cokelat.
“Okelah. Demi sahabat yang lagi kasmaran berat aku bersedia membuatkan cokelat
untuk pujaan hatimu itu.”
“Beneran Ndre? Kamu
memang sohibku yang paling oke sedunia. Aku doakan semoga cita-citamu menjadi chef akan terwujud nanti. Thank you ya Ndre!”
“Sudah gombalnya. Kamu
mau cokelat yang bagaimana? Aku nggak punya persediaan cooking chocolate jadi
kita harus belanja dulu. Yuk, kita harus sudah sampai di sini lagi sebelum mama
pulang.”
“Terserah kamu Ndre. Kamu
kan kreatif. Bikin yang cantik yang kira-kira bisa memikat hati Hanna. Anggap
saja kamu sedang membuat cokelat untuk pacarmu sendiri.”
“Ngawur kamu Ris. Pacaran
saja aku belum pernah, gimana mau bikin cokelat yang romantis. Nggak jamin
hasilnya bisa bagus.”
“Sudahlah Chef, aku percaya pada kemampuan Chef Andre,” goda Haris.
Aku meninju lengannya. Haris meringis
kesakitan. Kami bergegas menuju toko bahan kue untuk membeli milk, white, strawberry, dan mint cooking chocolate, kantong plastik segitiga, 1 cetakan big love[1],
beberapa cetakan mini love[2],
dan satu toples mika berbentuk hati. Mama masih punya persediaan mentega tawar yang bisa kupakai sedikit
meskipun tanpa izinnya. Aku berencana membuatkan 1 coklat big love[3] dan kuisi dengan cokelat-cokelat mini love warna-warni berasa stroberi, susu, dan mint. Mudah-mudahan
Hanna menyukainya.
Begitu selesai belanja Haris
mengantarku ke rumah dan setelah itu langsung pulang. Pucuk dicinta ulam tiba. Mama
menelponku dan mengabarkan kalau dia akan pulang telat karena ada acara makan
bersama di perayaan ulang tahun salah satu teman kantornya. Papa akan menjemput mama di restoran tempat mama dan
teman-temannya makan malam. Maka tanpa membuang-buang waktu, setelah shalat
Maghrib aku segera beraksi di dapur. Kepada mbak Jum kuberikan uang dua puluh
ribu rupiah agar dia bisa menikmati mie goreng Jawa di taman perumahan. Mie
goreng Jawa di dekat taman itu selalu dipadati pembeli. Bisa dipastikan mbak
Jum harus antri lama sebelum dilayani. Di sana dia pasti bertemu dengan
teman-temannya sesama asisten rumah tangga yang mungkin sedang menemani
anak-anak asuhannya bermain di taman. Kuharap mbak Jum baru pulang setelah aku
menyelesaikan pekerjaanku. Aku tidak ingin mbak Jum mengadu pada mama kalau aku
baru saja membuat cokelat di dapurnya.
Segera kusiapkan bahan-bahan, kantong plastik, dan cetakan. Aku mencincang milk, white, strawberry, dan mints chocolate hingga menjadi serpihan
kecil-kecil lalu kumasukkan potongan cokelat ke dalam kantong plastik segitiga sesuai
warnanya dan kutambahkan sedikit mentega tawar agar tidak lengket bila nanti
cokelat kukeluarkan dari cetakan. Total ada 4 kantong cokelat berwarna pink rasa stroberi, putih rasa susu,
biru muda rasa mint, dan coklat rasa original. Setelah air
mendidih, aku men-tim masing-masing
kantong cokelat hingga meleleh rata. Setelah kukeringkan dengan serbet aku
memotong sedikit ujung plastik segitiga. Yang kucetak terlebih dahulu adalah
bagian penutup cetakan big love.
Kuisi dengan cokelat rasa stroberi. Kutuang cokelat leleh pelan-pelan mengikuti
alur gambar cetakan. Setelah selesai kumasukkan dulu ke dalam freezer. Setelah cokelat storberi
mengeras, kuhiasi pinggir-pinggirnya dengan white chocolate, masih mengikuti alur gambar cetakan. Kurapikan
bagian-bagian yang berlepotan dengan stick
cokelat. Setelah itu aku memasukkannya kembali ke dalam freezer. Aku beralih ke cetakan big
love bagian wadah. Pelan-pelan, aku menuangkan lelehan milk
chocolate ke dalamnya. Setelah itu aku memasukkannya ke dalam freezer. Kukira 20 menit cukup untuk
membuat cokelat big love mengeras. Aku
sampai harus mengeluarkan daging dan ayam yang disimpan mbak Jum dari dalam freezer karena tak cukup tempat. Selanjutnya
aku mulai mengerjakan cokelat mini love. Satu per satu kutuangkan lelehan
cokelat berwarna pink, putih, coklat,
dan biru muda ke dalam cetakan mini love
lalu memasukkannya ke dalam freezer.
Sambil menunggu cokelat-cokelatku mengeras aku mencuci wadah-wadah, panci, dan
alat-alat yang baru kupakai. Lalu aku merapikan dapur. Setelah cokelat big love dan mini love mengeras, aku mengeluarkannya dari cetakan. Aku
memasukkan cokelat-cokelat mini love
ke dalam cokelat big love. Perfect! Cokelat Big Love yang cantik. Aku merasa senang karena telah berhasil
membuat cokelat yang cantik buat Hanna. Kuambil satu mini love rasa stroberi dan menggigitnya pelan. Hemm…lembut dan
enak, tak kalah dengan cokelat buatan bakery.
Aku tersenyum-senyum sendiri. Lucu, Hanna
bukan pacarku. Aku pun tidak jatuh cinta padanya tapi aku sepenuh hati
membuatkan coklat ini untuknya. Mungkin karena aku ingin membantu Haris. Hanna
memang pantas mendapatkan cokelat ini. Gadis yang cantik dan cerdas. Kukira
hanya cowok tolol atau cowok yang belum mau berurusan dengan cinta saja yang
tidak jatuh hati padanya, seperti aku. Kalau suatu hari nanti aku punya pacar
atau jatuh cinta pada seorang cewek, mungkinkah aku akan melakukan hal yang
sama? Mungkin malah lebih gila dari ini. Aku pasti akan mencoba banyak resep
baru untuk mempersembahkan cokelat atau kue-kue lezat pada pacarku. Tapi kan aku tidak mau pacarku gemuk. Ha…ha…aku segera
meralat fikiranku sendiri. Kumasukkan cokelat Big Love untuk Hanna dalam toples mika
berbentuk hati. Besok pagi sebelum berangkat sekolah aku tinggal menghiasinya
dengan pita berwarna pink dan bandul
putih berbentuk huruf H, insial namanya. Kuharap Hanna menyukainya hadiah yang
akan diberikan oleh Haris ini.
Melewati ruang makan, kudengar telepon
rumah berbunyi. Mama menelepon.
“Assalamu alaikum Ma.”
“Waalaikum salam. Andre sedang apa,
sudah belajar?”
“Mama…tanya yang lain kek. Masak
belajar terus yang ditanyakan. Andre kan sudah besar Ma. Nggak usah
disuruh belajar Andre juga belajar sendiri.”
“Andre sudah makan Nak?”
“Belum Ma.”
“Kok belum. Mbak Jum nggak masak?”
“Mbak Jum lagi ke taman beli mie
goreng.”
“Lo kok malah ke taman. Mestinya kamu
suruh Mbak Jum masak dulu buat makan malam kamu Andre.”
“Malas Ma. Masakan Mbak Jum nggak enak.
Enakan juga masak sendiri,” jawabku.
“Tuh kan itu lagi yang dibahas. Ya sudah. Kamu
mau dibawakan apa?”
“Sapo tahu seafood Ma.”
“Oke. Sebentar lagi Mama dan Papa pulang.”
“Iya Ma, hati-hati.”
“Assalamu alaikum,” jawab Mama menutup
telepon.
“Waalaikum salam.”
Kudengar deritan suara pagar dibuka. Mbak
Jum sudah pulang. Aku segera masuk kamar.
“Mas Andre ini mie gorengnya.”
“Makan saja Mbak Jum,” teriakku dari
dalam kamar.
“Lho…Mbak Jum sudah makan di sana
Mas.”
“Makan lagi Mbak.”
“Lho…Mas Andre ini kok menyuruh Mbak
Jum makan lagi. Nanti kalau Mbak Jum gendut gimana?” protes Mbak Jum sambil
mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
“Emang gue pikirin,” jawabku
seenaknya.
“Mbak Jum siapkan di meja makan ya Mas. Mas Andre makan
dulu. Nanti Ibu marah kalau Mas Andre belum makan.”
“Nggak mau. Pokoknya mie goreng itu
jatahnya Mbak Jum.”
“Mas Andre ini gimana sih? Tadi menyuruh
Mbak Jum beli sekarang tidak mau makan.”
Mbak Jum mengomel sebelum berlalu dari
depan pintu kamarku. Aku ketawa cekikikan, senang karena sudah berhasil
mengerjai Mbak Jum dan mama. Aku telah menggunakan dapurnya tanpa jejak sedikit
pun. Aku hanya menjalankan nasehat mama.
Mama pernah bilang kalau membantu teman adalah perbuatan yang terpuji. Jadi
maaf kalau aku menggunakan dapur mama untuk membantu Haris. Begitulah kira-kira
alasan yang kusiapkan kalau-kalau mama mencium sisa-sisa aroma cokelat di dapur.
*****
Note : Boleh di share dengan mencantumkan nama penulisnya
[1] Cetakan
berbentuk hati yang besar
[2] Cetakan
berbentuk hati kecil-kecil
[3] Resep diambil di:
de-phiet-coklutz.blogspot.co.id/2013/05/big-love-coklut.html
[4] Sebentar
dong
[5] Salah satu toko
brownies yang terkenal
[6] Mandi
cepat-cepat
No comments:
Post a Comment