google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati: Bab 3 Novel Passion in Sop Buah

Thursday, April 4, 2019

Bab 3 Novel Passion in Sop Buah


Tiga
Cokelat Buat Hanna

Aku baru saja pulang dari kursus melukis ketika melihat Haris sudah menungguku di beranda rumah. Entah apa tujuannya datang kemari tadi pun kami bertemu di sekolah. Tidak ingin kelamaan menerka-nerka tujuan kedatangannya aku langsung menghampirinya.
“Sudah lama Ris?”
“Lumayan, hampir dua jam sampai pantatku panas duduk di sini. Daripada pulang kejauhan mending aku tunggu saja. Kamu kok nggak bilang kalau hari ini kursus melukis?”
 “Lha kamu nggak tanya. Kalau ada perlu kenapa tidak kamu katakan di sekolah saja tadi?”
“Tadi aku mau bilang sama kamu pas jam istirahat tapi kan kamu lagi dihukum. Habis istirahat aku kelupaan, langsung keluar kelas setelah bel berbunyi. Aku telepon berkali-kali kamu nggak angkat. Jadi aku ke sini saja. Aku mau minta tolong sama kamu Ndre.”
Aku baru teringat ponselku yang kutaruh di jok motor. Memang tadi sebelum jam pelajaran Biologi berakhir aku masuk kelas sebentar untuk mengumpulkan tugas rangkuman pada Pak Didik. Namun setelah itu aku kembali ke Guru BP karena beliau menyuruhku mengerjakan tugas rangkuman dulu baru kembali lagi menghadap beliau. Aku bernasib baik siang tadi. Ibu Nur, guru BP-ku, hanya menasehatiku panjang lebar tentang kewajiban dan hak siswa di sekolah. Beruntung sekali beliau tidak menitipkan surat untuk orangtuaku. Kalau tidak, bisa habis aku dimarahin mama dan papa. Dulu aku pernah melakukan satu kesalahan saat masih SMP. Aku pulang waktu jam istirahat dan tidak kembali lagi ke sekolah. Guru BP mengirimkan surat pada orangtuaku dan aku di-skorsing dua hari. Akibatnya mama dan papa marah besar. Mereka tidak bisa mentolerir kesalahan-kesalahanku yang berhubungan dengan sekolah. Aku sampai dihukum tidak boleh keluar kamar sampai masa skorsing-ku berakhir. Sejak saat itu, aku tidak berani lagi membuat ulah di sekolah. Kejadian di kelas Biologi tadi sama sekali tidak kusengaja. Untunglah guru BP mau mengerti penjelasanku walaupun aku harus mendengarkan nasehat-nasehatnya yang membuatku bosan.
“Tolong apaan Ris, pinjam buku catatan?” tanyaku penasaran.
Yeilah, kan aku nggak absen, ngapain pinjam buku catatanmu? Buku catatanku malah lebih lengkap dari punyamu kali.”
“Iya…ya, masuk yuk,” ajakku.
Aku masuk ke kamar sebentar untuk menyimpan alat-alat lukisku kemudian kembali menemui Haris di ruang tamu. Setoples sus kering dan sepiring kecil risoles beef mayo yang disuguhkan mbak Jum sudah hampir habis. Minuman di gelas Haris juga sudah habis.
“Mbak Jum minta jus dua gelas,” teriakku pada mbak Jum yang sedang merapikan ruang tengah.
“Iya Mas,” sahutnya.
“Kamu sudah makan Ris?” tanyaku.
“Belum lah. Dari tadi kan nungguin kamu. Nggak ditawarin makan lagi sama mbak-mu itu,” jawabnya sambil menepuk perut.
“Salah sendiri kenapa nggak minta,” jawabku seenaknya.
“Gengsi lah, masak keren-keren gini minta makan.”
Aku hanya tertawa mendengar jawaban Haris.
Sepuluh menit kemudian, mbak Jum muncul membawa nampan berisi dua gelas jus melon. Aku langsung mengambilnya karena tenggorokanku memang sudah kering sejak keluar dari tempat kursus tadi.
“Punyaku gulanya sedikit dan nggak pakai susu kan?” tanyaku.
“Iya Mas, Mbak Jum sudah tahu,” jawabnya menegaskan.
“Ya sudah. Terima kasih.”
“Galak benar kamu sama asisten rumah tanggamu Ndre,” kata Haris.
“Kalau nggak digituin lupa melulu. Aku nggak suka banyak gula. Melon sendiri sudah manis, kalau gulanya kebanyakan apalagi ditambah susu rasanya seperti minum es tebu. Eh, makan dulu yuk?”
“Nggak deh makasih. Tadi sudah makan risoles dan sus kering sampai habis.”
“Yakin?”
“Iya Ndre, lagian waktuku nggak banyak. Mamaku pasti sudah tengak-tengok pintu menungguku. Udah hampir jam 3 nih.”
“Mau minta tolong apa tadi?”
“Hanna ulang tahun,” kata Haris pendek.
“Kapan?” tanyaku.
“Besok. Aku baru ingat pas melihat note di ponselku.”
“Terus?”
“Aku ingin memberikan kado buat Hanna.”
“Maksudnya apa hubungannya denganku? Kamu mau minta kutemani membeli kado?”
“Bukan Ndre. Aku mau minta tolong kamu buatkan cokelat buat Hanna.”
What! Yang naksir Hanna siapa, kenapa aku yang disuruh bikin cokelat?” protesku.
“Kan cuma kamu satu-satunya sahabatku yang pintar memasak. Kamu pasti bisa bikin cokelat yang enak dan bagus buat Hanna. Hanna pasti suka cokelat buatanmu. Tolong Ndre, mau ya?”
“Ini sih enak di kamu, nggak enak di aku.”
Please Ndre. Ini kesempatan bagus untuk mendapatkan perhatian Hanna.”
“Ya tapi nggak mendadak begini Ris. Aku kan baru pulang kursus, belum lagi kapan belanjanya. Masaknya di mana? Kan kamu tahu aku nggak boleh masak di rumah.”
Please Ndre. Kali ini saja. Kamu boleh minta apa saja deh sebagai imbalannya. Yang penting besok aku bisa menghadiahi Hanna dengan cokelat yang enak dan cantik. Kalau perlu aku sendiri yang minta izin pada mamamu agar kamu dibolehkan memasak malam ini. Nggak sulit kan bikin cokelat bagimu Ndre?”
“Kenapa nggak beli aja sih Ris?”
“Nggak lah. Aku yakin cokelat buatanmu lebih enak dari cokelat-cokelat yang dijual di bakery di seluruh pelosok kota Sidoarjo ini. Makanya aku minta tolong sama kamu Ndre. Please, mau ya?” nada suara Haris agak memelas.
“Ya ampun Ris sampai segitunya belain cewek.”
“Namanya juga jatuh cinta Ndre. Nanti kalau kamu jatuh cinta kamu pasti merasakan sendiri.”
Aku menyerah. Walaupun badanku pegal-pegal karena belum istirahat sejak berangkat sekolah pagi tadi namun solidaritasku sebagai sahabat Haris terpanggil. Apa salahnya membantu teman. Toh bila Haris senang aku pun ikut senang. Hanya saja aku perlu mencari cara supaya malam ini aku bisa menggunakan dapur mama untuk membuat cokelat.
“Okelah. Demi sahabat yang lagi kasmaran berat aku bersedia membuatkan cokelat untuk pujaan hatimu itu.”
“Beneran Ndre? Kamu memang sohibku yang paling oke sedunia. Aku doakan semoga cita-citamu menjadi chef akan terwujud nanti. Thank you ya Ndre!”
“Sudah gombalnya. Kamu mau cokelat yang bagaimana? Aku nggak punya persediaan cooking chocolate jadi kita harus belanja dulu. Yuk, kita harus sudah sampai di sini lagi sebelum mama pulang.”
“Terserah kamu Ndre. Kamu kan kreatif. Bikin yang cantik yang kira-kira bisa memikat hati Hanna. Anggap saja kamu sedang membuat cokelat untuk pacarmu sendiri.”
“Ngawur kamu Ris. Pacaran saja aku belum pernah, gimana mau bikin cokelat yang romantis. Nggak jamin hasilnya bisa bagus.”
“Sudahlah Chef, aku percaya pada kemampuan Chef Andre,” goda Haris.
 Aku meninju lengannya. Haris meringis kesakitan. Kami bergegas menuju toko bahan kue untuk membeli milk, white, strawberry, dan mint cooking chocolate, kantong plastik segitiga, 1 cetakan big love[1], beberapa cetakan mini love[2], dan satu toples mika berbentuk hati. Mama masih punya persediaan mentega tawar yang bisa kupakai sedikit meskipun tanpa izinnya. Aku berencana membuatkan 1 coklat big love[3] dan kuisi dengan cokelat-cokelat mini love warna-warni berasa stroberi, susu, dan mint. Mudah-mudahan Hanna menyukainya.
Begitu selesai belanja Haris mengantarku ke rumah dan setelah itu langsung pulang. Pucuk dicinta ulam tiba. Mama menelponku dan mengabarkan kalau dia akan pulang telat karena ada acara makan bersama di perayaan ulang tahun salah satu teman kantornya. Papa akan menjemput mama di restoran tempat mama dan teman-temannya makan malam. Maka tanpa membuang-buang waktu, setelah shalat Maghrib aku segera beraksi di dapur. Kepada mbak Jum kuberikan uang dua puluh ribu rupiah agar dia bisa menikmati mie goreng Jawa di taman perumahan. Mie goreng Jawa di dekat taman itu selalu dipadati pembeli. Bisa dipastikan mbak Jum harus antri lama sebelum dilayani. Di sana dia pasti bertemu dengan teman-temannya sesama asisten rumah tangga yang mungkin sedang menemani anak-anak asuhannya bermain di taman. Kuharap mbak Jum baru pulang setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku tidak ingin mbak Jum mengadu pada mama kalau aku baru saja membuat cokelat di dapurnya.
Segera kusiapkan bahan-bahan, kantong plastik, dan cetakan. Aku mencincang milk, white, strawberry, dan mints chocolate hingga menjadi serpihan kecil-kecil lalu kumasukkan potongan cokelat ke dalam kantong plastik segitiga sesuai warnanya dan kutambahkan sedikit mentega tawar agar tidak lengket bila nanti cokelat kukeluarkan dari cetakan. Total ada 4 kantong cokelat berwarna pink rasa stroberi, putih rasa susu, biru muda rasa mint, dan coklat rasa original. Setelah air mendidih, aku men-tim masing-masing kantong cokelat hingga meleleh rata. Setelah kukeringkan dengan serbet aku memotong sedikit ujung plastik segitiga. Yang kucetak terlebih dahulu adalah bagian penutup cetakan big love. Kuisi dengan cokelat rasa stroberi. Kutuang cokelat leleh pelan-pelan mengikuti alur gambar cetakan. Setelah selesai kumasukkan dulu ke dalam freezer. Setelah cokelat storberi mengeras, kuhiasi pinggir-pinggirnya dengan white chocolate, masih mengikuti alur gambar cetakan. Kurapikan bagian-bagian yang berlepotan dengan stick cokelat. Setelah itu aku memasukkannya kembali ke dalam freezer. Aku beralih ke cetakan big love bagian wadah. Pelan-pelan, aku menuangkan lelehan milk chocolate ke dalamnya. Setelah itu aku memasukkannya ke dalam freezer. Kukira 20 menit cukup untuk membuat cokelat big love mengeras. Aku sampai harus mengeluarkan daging dan ayam yang disimpan mbak Jum dari dalam freezer karena tak cukup tempat. Selanjutnya aku mulai mengerjakan cokelat mini love. Satu per satu kutuangkan lelehan cokelat berwarna pink, putih, coklat, dan biru muda ke dalam cetakan mini love lalu memasukkannya ke dalam freezer. Sambil menunggu cokelat-cokelatku mengeras aku mencuci wadah-wadah, panci, dan alat-alat yang baru kupakai. Lalu aku merapikan dapur. Setelah cokelat big love dan mini love mengeras, aku mengeluarkannya dari cetakan. Aku memasukkan cokelat-cokelat mini love ke dalam cokelat big love. Perfect! Cokelat Big Love yang cantik. Aku merasa senang karena telah berhasil membuat cokelat yang cantik buat Hanna. Kuambil satu mini love rasa stroberi dan menggigitnya pelan. Hemm…lembut dan enak, tak kalah dengan cokelat buatan bakery.
Aku tersenyum-senyum sendiri. Lucu, Hanna bukan pacarku. Aku pun tidak jatuh cinta padanya tapi aku sepenuh hati membuatkan coklat ini untuknya. Mungkin karena aku ingin membantu Haris. Hanna memang pantas mendapatkan cokelat ini. Gadis yang cantik dan cerdas. Kukira hanya cowok tolol atau cowok yang belum mau berurusan dengan cinta saja yang tidak jatuh hati padanya, seperti aku. Kalau suatu hari nanti aku punya pacar atau jatuh cinta pada seorang cewek, mungkinkah aku akan melakukan hal yang sama? Mungkin malah lebih gila dari ini. Aku pasti akan mencoba banyak resep baru untuk mempersembahkan cokelat atau kue-kue lezat pada pacarku. Tapi kan aku tidak mau pacarku gemuk. Ha…ha…aku segera meralat fikiranku sendiri. Kumasukkan cokelat Big Love untuk Hanna dalam toples mika berbentuk hati. Besok pagi sebelum berangkat sekolah aku tinggal menghiasinya dengan pita berwarna pink dan bandul putih berbentuk huruf H, insial namanya. Kuharap Hanna menyukainya hadiah yang akan diberikan oleh Haris ini.
Melewati ruang makan, kudengar telepon rumah berbunyi. Mama menelepon.
“Assalamu alaikum Ma.”
“Waalaikum salam. Andre sedang apa, sudah belajar?”
“Mama…tanya yang lain kek. Masak belajar terus yang ditanyakan. Andre kan sudah besar Ma. Nggak usah disuruh belajar Andre juga belajar sendiri.”
“Andre sudah makan Nak?”
“Belum Ma.”
“Kok belum. Mbak Jum nggak masak?”
“Mbak Jum lagi ke taman beli mie goreng.”
“Lo kok malah ke taman. Mestinya kamu suruh Mbak Jum masak dulu buat makan malam kamu Andre.”
“Malas Ma. Masakan Mbak Jum nggak enak. Enakan juga masak sendiri,” jawabku.
“Tuh kan itu lagi yang dibahas. Ya sudah. Kamu mau dibawakan apa?”
“Sapo tahu seafood Ma.”
“Oke. Sebentar lagi Mama dan Papa pulang.”
“Iya Ma, hati-hati.”
“Assalamu alaikum,” jawab Mama menutup telepon.
“Waalaikum salam.”
Kudengar deritan suara pagar dibuka. Mbak Jum sudah pulang. Aku segera masuk kamar.
“Mas Andre ini mie gorengnya.”
“Makan saja Mbak Jum,” teriakku dari dalam kamar.
“Lho…Mbak Jum sudah makan di sana Mas.”
“Makan lagi Mbak.”
“Lho…Mas Andre ini kok menyuruh Mbak Jum makan lagi. Nanti kalau Mbak Jum gendut gimana?” protes Mbak Jum sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
“Emang gue pikirin,” jawabku seenaknya.
 “Mbak Jum siapkan di meja makan ya Mas. Mas Andre makan dulu. Nanti Ibu marah kalau Mas Andre belum makan.”
“Nggak mau. Pokoknya mie goreng itu jatahnya Mbak Jum.”
“Mas Andre ini gimana sih? Tadi menyuruh Mbak Jum beli sekarang tidak mau makan.”
Mbak Jum mengomel sebelum berlalu dari depan pintu kamarku. Aku ketawa cekikikan, senang karena sudah berhasil mengerjai Mbak Jum dan mama. Aku telah menggunakan dapurnya tanpa jejak sedikit pun. Aku hanya menjalankan nasehat mama. Mama pernah bilang kalau membantu teman adalah perbuatan yang terpuji. Jadi maaf kalau aku menggunakan dapur mama untuk membantu Haris. Begitulah kira-kira alasan yang kusiapkan kalau-kalau mama mencium sisa-sisa aroma cokelat di dapur.


*****






Note : Boleh di share dengan mencantumkan nama penulisnya




[1] Cetakan berbentuk hati yang besar
[2] Cetakan berbentuk hati kecil-kecil
[3] Resep diambil di: de-phiet-coklutz.blogspot.co.id/2013/05/big-love-coklut.html
[4] Sebentar dong
[5] Salah satu toko brownies yang terkenal
[6] Mandi cepat-cepat

No comments:

Post a Comment

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...