google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati

Tuesday, May 28, 2019

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri





Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah, November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan aktivitas sehari-hari sebagai ibu dan karyawati sebuah pabrik. Lagi, aku tenggelam dalam hitungan harga-harga sepatu. Seperti kebanyakan pekerja lainnya, pukul 07.30-17.00 WIB, waktuku habis untuk beraktivitas di kantor. Setelah itu lanjut dengan aktivitas rumah tangga. Walaupun sebenarnya ini tidak boleh dijadikan alasan bagi seorang penulis (terutama penulis pemula sepertiku yang mestinya harus bekerja lebih keras dan menulis lebih banyak) untuk tidak produktif, faktanya aku belum menghasilkan tulisan lagi.

Beruntung, di Sosmed aku berteman dengan banyak penulis. Aku juga bergabung dengan Group Sastra Minggu dan Sastra Koran Majalah. Tiap Minggu aku melihat karya-karya teman yang dimuat di surat kabar. Walaupun aku belum menulis lagi, paling tidak aku masih membaca karya sastra tulisan teman-teman dunia mayaku. Tulisan mereka (baik cerpen maupun puisi) bagus, berkualitas, dan temanya up to date. Bahkan ada beberapa penulis yang hampir tiap minggu cerpen dan puisinya dimuat di koran. Wow, keren! Dalam hati aku bertanya, bisakah aku menulis karya sastra sebaik mereka?

Aku jadi tertantang. Sudah sekian lama, terakhir tahun 2002 tulisanku dimuat di media cetak. Rasa iri mencuat dalam hati. Semakin banyak aku membaca cerpen, puisi, dan resensi teman yang dimuat di koran-koran itu, rasa iri kian menjadi. Maka timbul satu tekad kuat. Aku harus menulis lagi. Aku ingin kembali menjajal kemampuan dan keberuntunganku di media cetak.

Dari dua group itu pula aku menemukan situs lakonhidup.com. Di sini aku lebih banyak membaca cerpen koran. Meneliti dan menganalisa preferensi tema dan gaya tulisan beberapa koran yang rencananya akan kubidik. Sampai aku yakin kalau aku suka tema wanita. Seputar kehidupan rumah tangga, keluarga, juga segala hal yang berkaitan dengan wanita. Kuputuskan menulis sebuah cerpen untuk Tabloid Nova. Kutanamkan keyakinan kuat pada diriku. Kalau teman-teman bisa, kenapa aku tidak?

Aku mencoba menulis lebih detail dengan pemilihan tema yang ketat. Sederhana tapi harus relevan. Kuambil tema keluarga. Hubungan antara seorang ibu dan anak yang mulai renggang karena gadget. Kuharap cerpen ini nanti bisa menjadi kritik halus terhadap dunia digital yang semakin mengikis hubungan interpersonal dalam keluarga. Bahkan hubungan antara seorang ibu dan anak  yang bisa renggang karena kurang komunikasi akibat anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget-nya. Setelah koreksi berkali-kali, jadilah cerpen Kepada Buku Aku Cemburu. Cerpen ini kukirimkan ke Redaksi Tabloid Nova pada 5 Februari 2018. Cerpen sudah terkirim. Tinggal berdoa dan memikirkan ide untuk menulis cerpen berikutnya.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tidak ada kabar. Redaktur memang jarang menyampaikan informasi kepada penulis terkait apakah karyanya lolos publikasi atau tidak. Aku rajin memantau Group Sastra Minggu, berharap-harap cemas. Sampai pada suatu pagi di bulan kelima, aku menge-cek e-banking. Ada transferan masuk dari PT.Samindra Utama. Aku sempat befikir itu salah transfer. Aku bahkan googling mencari alamat dan nomor telepon perusahaan ini bermaksud untuk mengembalikan uang yang kukira salah transfer itu. Tetapi ternyata perusahaan itu adalah Tabloid Nova. Akhirnya aku sadar, itu mungkin honor untuk cerpenku yang dimuat. Benar saja, dari Group Sastra Minggu aku mendapatkan foto cerpenku yang dimuat di Tabloid Nova seminggu sebelumnya yaitu tanggal 30 Juli 2018. Beruntung akhirnya aku menemukan versi digitalnya di https://www.pressreader.com/indonesia/nova/20180730/282076277780746 . Dimuat setelah lima bulan sejak tanggal pengiriman. Waktu tunggu yang cukup lama. Anyway. Aku bahagia akhir nya berhasil kembali nongol di media cetak setelah sekian lama vakum.

Cerpen berikutnya masih tentang wanita. Cerpen inipun kukirimkan ke Tabloid Nova. Judulnya Perempuan dan Gempa. Cerpen ini terinspirasi oleh kejadian Gempa di Lombok yang begitu dahsyat. Kucoba menulis dari sudut perempuan, yang pada saat tertimpa gempa ditinggalkan suaminya. Ia berusaha tegar, bertahan, dan memperbaiki hidupnya setelah Gempa. Untuk ini aku meminta bantuan kepada seorang teman FB untuk beberapa dialog yang ingin kutuliskan dengan bahasa daerah setempat. Cerpen ini selesai pada September 2018 dan meluncur lewat email ke Tabloid Nova. Dua bulan menunggu, aku mendapat informasi bahwa Tabloid Nova tidak lagi menerbitkan cerpen. Sedihnya. Tak patah semangat, cerpen ini kukirimkan lagi ke Media Indonesia. Sayangnya tiga bulan setelah itu belum ada kabar juga. Sekarang cerpen ini terkirim ke redaksi Solo Pos. Aku masih menunggu kabar baiknya.

Di waktu luang, aku masih gooling, aktif membaca cerpen untuk menambah wawasan dan menggali ide. Akhir-akhir ini aku suka mampir ke situs The Jakarta Post dan terpesona pada sebuah cerpen yang berjudul The Secret of The Citrus Tree tulisan Alya Hikmayuda. Aku pelajari baik-baik gaya menulisnya, alur ceritanya. Sepertinya aku juga bisa menulis cerpen seperti ini. Dan aku kembali menatang diri untuk menulis cerpen dalam bahasa Inggris. Targetnya tentu saja The Jakarta Post. Iri juga aku kepada Alya. Kalau cerpennya bisa dimuat, mestinya cerpenku juga bisa. Jadilah cerpen The Story of a Rooster. Kisah tentang seorang anak gadis yang suka menendang ayam karena trauma masa lalunya. Untuk ini aku meminta bantuan pada seorang teman untuk mengoreksi pilihan kata juga grammarnya. (Walaupun aku lulusan Sastra Inggris, aku sudah lama tenggelam dalam dunia lain yaitu dunia excel). Plus, aku cuma sekali nulis cerpen dalam Bahasa Inggris. Itu pun tertumpuk di laci. Dari temanku itu aku mendapatkan nasehat kalau cerpen baiknya ditulis dengan salah satu tense saja. Present atau Past Tense. Jangan di-mixed, nggak nyembung. Then, the editing time teselesaikan. Kirim ke redaktur. Lega. Berdoa lagi semoga rezeki.

Dua bulan setelah itu. Tepat di hari pertama tarawih. Berkah bulan Ramadhan. Tidak seperti redaktur yang lain, redaktur The Jakarta Post mengabari via email. Kira-kira bunyinya seperti ini.
Dear Heni,

Thank you for submitting your story. What a lovely read. We will publish it in our upcoming Monday edition and transfer the honorarium no later than 30 days following the date of publication.

Thanks again and we hope to read more of your work.

Cheers,

Gosh! Betapa aku suka kalimatnya, What a lovely read. Ini pertama kali aku mendapatkan komen dari redaktur seperti ini. Kedengaran berlebihan mungkin. Tapi aku bahagia. This is my first short story after a long time. Dan dimuat oleh The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/news/2019/05/06/the-story-a-rooster.html
Alhamdulillah, ini meningkatkan semangatku berkali-kali lipat. I’m coming. I will try again and again. Aku iri…, iri…, dan iri banget. Aku mau nulis lagi…lagi…dan lagi.

Thursday, April 4, 2019

Bab 3 Novel Passion in Sop Buah


Tiga
Cokelat Buat Hanna

Aku baru saja pulang dari kursus melukis ketika melihat Haris sudah menungguku di beranda rumah. Entah apa tujuannya datang kemari tadi pun kami bertemu di sekolah. Tidak ingin kelamaan menerka-nerka tujuan kedatangannya aku langsung menghampirinya.
“Sudah lama Ris?”
“Lumayan, hampir dua jam sampai pantatku panas duduk di sini. Daripada pulang kejauhan mending aku tunggu saja. Kamu kok nggak bilang kalau hari ini kursus melukis?”
 “Lha kamu nggak tanya. Kalau ada perlu kenapa tidak kamu katakan di sekolah saja tadi?”
“Tadi aku mau bilang sama kamu pas jam istirahat tapi kan kamu lagi dihukum. Habis istirahat aku kelupaan, langsung keluar kelas setelah bel berbunyi. Aku telepon berkali-kali kamu nggak angkat. Jadi aku ke sini saja. Aku mau minta tolong sama kamu Ndre.”
Aku baru teringat ponselku yang kutaruh di jok motor. Memang tadi sebelum jam pelajaran Biologi berakhir aku masuk kelas sebentar untuk mengumpulkan tugas rangkuman pada Pak Didik. Namun setelah itu aku kembali ke Guru BP karena beliau menyuruhku mengerjakan tugas rangkuman dulu baru kembali lagi menghadap beliau. Aku bernasib baik siang tadi. Ibu Nur, guru BP-ku, hanya menasehatiku panjang lebar tentang kewajiban dan hak siswa di sekolah. Beruntung sekali beliau tidak menitipkan surat untuk orangtuaku. Kalau tidak, bisa habis aku dimarahin mama dan papa. Dulu aku pernah melakukan satu kesalahan saat masih SMP. Aku pulang waktu jam istirahat dan tidak kembali lagi ke sekolah. Guru BP mengirimkan surat pada orangtuaku dan aku di-skorsing dua hari. Akibatnya mama dan papa marah besar. Mereka tidak bisa mentolerir kesalahan-kesalahanku yang berhubungan dengan sekolah. Aku sampai dihukum tidak boleh keluar kamar sampai masa skorsing-ku berakhir. Sejak saat itu, aku tidak berani lagi membuat ulah di sekolah. Kejadian di kelas Biologi tadi sama sekali tidak kusengaja. Untunglah guru BP mau mengerti penjelasanku walaupun aku harus mendengarkan nasehat-nasehatnya yang membuatku bosan.
“Tolong apaan Ris, pinjam buku catatan?” tanyaku penasaran.
Yeilah, kan aku nggak absen, ngapain pinjam buku catatanmu? Buku catatanku malah lebih lengkap dari punyamu kali.”
“Iya…ya, masuk yuk,” ajakku.
Aku masuk ke kamar sebentar untuk menyimpan alat-alat lukisku kemudian kembali menemui Haris di ruang tamu. Setoples sus kering dan sepiring kecil risoles beef mayo yang disuguhkan mbak Jum sudah hampir habis. Minuman di gelas Haris juga sudah habis.
“Mbak Jum minta jus dua gelas,” teriakku pada mbak Jum yang sedang merapikan ruang tengah.
“Iya Mas,” sahutnya.
“Kamu sudah makan Ris?” tanyaku.
“Belum lah. Dari tadi kan nungguin kamu. Nggak ditawarin makan lagi sama mbak-mu itu,” jawabnya sambil menepuk perut.
“Salah sendiri kenapa nggak minta,” jawabku seenaknya.
“Gengsi lah, masak keren-keren gini minta makan.”
Aku hanya tertawa mendengar jawaban Haris.
Sepuluh menit kemudian, mbak Jum muncul membawa nampan berisi dua gelas jus melon. Aku langsung mengambilnya karena tenggorokanku memang sudah kering sejak keluar dari tempat kursus tadi.
“Punyaku gulanya sedikit dan nggak pakai susu kan?” tanyaku.
“Iya Mas, Mbak Jum sudah tahu,” jawabnya menegaskan.
“Ya sudah. Terima kasih.”
“Galak benar kamu sama asisten rumah tanggamu Ndre,” kata Haris.
“Kalau nggak digituin lupa melulu. Aku nggak suka banyak gula. Melon sendiri sudah manis, kalau gulanya kebanyakan apalagi ditambah susu rasanya seperti minum es tebu. Eh, makan dulu yuk?”
“Nggak deh makasih. Tadi sudah makan risoles dan sus kering sampai habis.”
“Yakin?”
“Iya Ndre, lagian waktuku nggak banyak. Mamaku pasti sudah tengak-tengok pintu menungguku. Udah hampir jam 3 nih.”
“Mau minta tolong apa tadi?”
“Hanna ulang tahun,” kata Haris pendek.
“Kapan?” tanyaku.
“Besok. Aku baru ingat pas melihat note di ponselku.”
“Terus?”
“Aku ingin memberikan kado buat Hanna.”
“Maksudnya apa hubungannya denganku? Kamu mau minta kutemani membeli kado?”
“Bukan Ndre. Aku mau minta tolong kamu buatkan cokelat buat Hanna.”
What! Yang naksir Hanna siapa, kenapa aku yang disuruh bikin cokelat?” protesku.
“Kan cuma kamu satu-satunya sahabatku yang pintar memasak. Kamu pasti bisa bikin cokelat yang enak dan bagus buat Hanna. Hanna pasti suka cokelat buatanmu. Tolong Ndre, mau ya?”
“Ini sih enak di kamu, nggak enak di aku.”
Please Ndre. Ini kesempatan bagus untuk mendapatkan perhatian Hanna.”
“Ya tapi nggak mendadak begini Ris. Aku kan baru pulang kursus, belum lagi kapan belanjanya. Masaknya di mana? Kan kamu tahu aku nggak boleh masak di rumah.”
Please Ndre. Kali ini saja. Kamu boleh minta apa saja deh sebagai imbalannya. Yang penting besok aku bisa menghadiahi Hanna dengan cokelat yang enak dan cantik. Kalau perlu aku sendiri yang minta izin pada mamamu agar kamu dibolehkan memasak malam ini. Nggak sulit kan bikin cokelat bagimu Ndre?”
“Kenapa nggak beli aja sih Ris?”
“Nggak lah. Aku yakin cokelat buatanmu lebih enak dari cokelat-cokelat yang dijual di bakery di seluruh pelosok kota Sidoarjo ini. Makanya aku minta tolong sama kamu Ndre. Please, mau ya?” nada suara Haris agak memelas.
“Ya ampun Ris sampai segitunya belain cewek.”
“Namanya juga jatuh cinta Ndre. Nanti kalau kamu jatuh cinta kamu pasti merasakan sendiri.”
Aku menyerah. Walaupun badanku pegal-pegal karena belum istirahat sejak berangkat sekolah pagi tadi namun solidaritasku sebagai sahabat Haris terpanggil. Apa salahnya membantu teman. Toh bila Haris senang aku pun ikut senang. Hanya saja aku perlu mencari cara supaya malam ini aku bisa menggunakan dapur mama untuk membuat cokelat.
“Okelah. Demi sahabat yang lagi kasmaran berat aku bersedia membuatkan cokelat untuk pujaan hatimu itu.”
“Beneran Ndre? Kamu memang sohibku yang paling oke sedunia. Aku doakan semoga cita-citamu menjadi chef akan terwujud nanti. Thank you ya Ndre!”
“Sudah gombalnya. Kamu mau cokelat yang bagaimana? Aku nggak punya persediaan cooking chocolate jadi kita harus belanja dulu. Yuk, kita harus sudah sampai di sini lagi sebelum mama pulang.”
“Terserah kamu Ndre. Kamu kan kreatif. Bikin yang cantik yang kira-kira bisa memikat hati Hanna. Anggap saja kamu sedang membuat cokelat untuk pacarmu sendiri.”
“Ngawur kamu Ris. Pacaran saja aku belum pernah, gimana mau bikin cokelat yang romantis. Nggak jamin hasilnya bisa bagus.”
“Sudahlah Chef, aku percaya pada kemampuan Chef Andre,” goda Haris.
 Aku meninju lengannya. Haris meringis kesakitan. Kami bergegas menuju toko bahan kue untuk membeli milk, white, strawberry, dan mint cooking chocolate, kantong plastik segitiga, 1 cetakan big love[1], beberapa cetakan mini love[2], dan satu toples mika berbentuk hati. Mama masih punya persediaan mentega tawar yang bisa kupakai sedikit meskipun tanpa izinnya. Aku berencana membuatkan 1 coklat big love[3] dan kuisi dengan cokelat-cokelat mini love warna-warni berasa stroberi, susu, dan mint. Mudah-mudahan Hanna menyukainya.
Begitu selesai belanja Haris mengantarku ke rumah dan setelah itu langsung pulang. Pucuk dicinta ulam tiba. Mama menelponku dan mengabarkan kalau dia akan pulang telat karena ada acara makan bersama di perayaan ulang tahun salah satu teman kantornya. Papa akan menjemput mama di restoran tempat mama dan teman-temannya makan malam. Maka tanpa membuang-buang waktu, setelah shalat Maghrib aku segera beraksi di dapur. Kepada mbak Jum kuberikan uang dua puluh ribu rupiah agar dia bisa menikmati mie goreng Jawa di taman perumahan. Mie goreng Jawa di dekat taman itu selalu dipadati pembeli. Bisa dipastikan mbak Jum harus antri lama sebelum dilayani. Di sana dia pasti bertemu dengan teman-temannya sesama asisten rumah tangga yang mungkin sedang menemani anak-anak asuhannya bermain di taman. Kuharap mbak Jum baru pulang setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku tidak ingin mbak Jum mengadu pada mama kalau aku baru saja membuat cokelat di dapurnya.
Segera kusiapkan bahan-bahan, kantong plastik, dan cetakan. Aku mencincang milk, white, strawberry, dan mints chocolate hingga menjadi serpihan kecil-kecil lalu kumasukkan potongan cokelat ke dalam kantong plastik segitiga sesuai warnanya dan kutambahkan sedikit mentega tawar agar tidak lengket bila nanti cokelat kukeluarkan dari cetakan. Total ada 4 kantong cokelat berwarna pink rasa stroberi, putih rasa susu, biru muda rasa mint, dan coklat rasa original. Setelah air mendidih, aku men-tim masing-masing kantong cokelat hingga meleleh rata. Setelah kukeringkan dengan serbet aku memotong sedikit ujung plastik segitiga. Yang kucetak terlebih dahulu adalah bagian penutup cetakan big love. Kuisi dengan cokelat rasa stroberi. Kutuang cokelat leleh pelan-pelan mengikuti alur gambar cetakan. Setelah selesai kumasukkan dulu ke dalam freezer. Setelah cokelat storberi mengeras, kuhiasi pinggir-pinggirnya dengan white chocolate, masih mengikuti alur gambar cetakan. Kurapikan bagian-bagian yang berlepotan dengan stick cokelat. Setelah itu aku memasukkannya kembali ke dalam freezer. Aku beralih ke cetakan big love bagian wadah. Pelan-pelan, aku menuangkan lelehan milk chocolate ke dalamnya. Setelah itu aku memasukkannya ke dalam freezer. Kukira 20 menit cukup untuk membuat cokelat big love mengeras. Aku sampai harus mengeluarkan daging dan ayam yang disimpan mbak Jum dari dalam freezer karena tak cukup tempat. Selanjutnya aku mulai mengerjakan cokelat mini love. Satu per satu kutuangkan lelehan cokelat berwarna pink, putih, coklat, dan biru muda ke dalam cetakan mini love lalu memasukkannya ke dalam freezer. Sambil menunggu cokelat-cokelatku mengeras aku mencuci wadah-wadah, panci, dan alat-alat yang baru kupakai. Lalu aku merapikan dapur. Setelah cokelat big love dan mini love mengeras, aku mengeluarkannya dari cetakan. Aku memasukkan cokelat-cokelat mini love ke dalam cokelat big love. Perfect! Cokelat Big Love yang cantik. Aku merasa senang karena telah berhasil membuat cokelat yang cantik buat Hanna. Kuambil satu mini love rasa stroberi dan menggigitnya pelan. Hemm…lembut dan enak, tak kalah dengan cokelat buatan bakery.
Aku tersenyum-senyum sendiri. Lucu, Hanna bukan pacarku. Aku pun tidak jatuh cinta padanya tapi aku sepenuh hati membuatkan coklat ini untuknya. Mungkin karena aku ingin membantu Haris. Hanna memang pantas mendapatkan cokelat ini. Gadis yang cantik dan cerdas. Kukira hanya cowok tolol atau cowok yang belum mau berurusan dengan cinta saja yang tidak jatuh hati padanya, seperti aku. Kalau suatu hari nanti aku punya pacar atau jatuh cinta pada seorang cewek, mungkinkah aku akan melakukan hal yang sama? Mungkin malah lebih gila dari ini. Aku pasti akan mencoba banyak resep baru untuk mempersembahkan cokelat atau kue-kue lezat pada pacarku. Tapi kan aku tidak mau pacarku gemuk. Ha…ha…aku segera meralat fikiranku sendiri. Kumasukkan cokelat Big Love untuk Hanna dalam toples mika berbentuk hati. Besok pagi sebelum berangkat sekolah aku tinggal menghiasinya dengan pita berwarna pink dan bandul putih berbentuk huruf H, insial namanya. Kuharap Hanna menyukainya hadiah yang akan diberikan oleh Haris ini.
Melewati ruang makan, kudengar telepon rumah berbunyi. Mama menelepon.
“Assalamu alaikum Ma.”
“Waalaikum salam. Andre sedang apa, sudah belajar?”
“Mama…tanya yang lain kek. Masak belajar terus yang ditanyakan. Andre kan sudah besar Ma. Nggak usah disuruh belajar Andre juga belajar sendiri.”
“Andre sudah makan Nak?”
“Belum Ma.”
“Kok belum. Mbak Jum nggak masak?”
“Mbak Jum lagi ke taman beli mie goreng.”
“Lo kok malah ke taman. Mestinya kamu suruh Mbak Jum masak dulu buat makan malam kamu Andre.”
“Malas Ma. Masakan Mbak Jum nggak enak. Enakan juga masak sendiri,” jawabku.
“Tuh kan itu lagi yang dibahas. Ya sudah. Kamu mau dibawakan apa?”
“Sapo tahu seafood Ma.”
“Oke. Sebentar lagi Mama dan Papa pulang.”
“Iya Ma, hati-hati.”
“Assalamu alaikum,” jawab Mama menutup telepon.
“Waalaikum salam.”
Kudengar deritan suara pagar dibuka. Mbak Jum sudah pulang. Aku segera masuk kamar.
“Mas Andre ini mie gorengnya.”
“Makan saja Mbak Jum,” teriakku dari dalam kamar.
“Lho…Mbak Jum sudah makan di sana Mas.”
“Makan lagi Mbak.”
“Lho…Mas Andre ini kok menyuruh Mbak Jum makan lagi. Nanti kalau Mbak Jum gendut gimana?” protes Mbak Jum sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
“Emang gue pikirin,” jawabku seenaknya.
 “Mbak Jum siapkan di meja makan ya Mas. Mas Andre makan dulu. Nanti Ibu marah kalau Mas Andre belum makan.”
“Nggak mau. Pokoknya mie goreng itu jatahnya Mbak Jum.”
“Mas Andre ini gimana sih? Tadi menyuruh Mbak Jum beli sekarang tidak mau makan.”
Mbak Jum mengomel sebelum berlalu dari depan pintu kamarku. Aku ketawa cekikikan, senang karena sudah berhasil mengerjai Mbak Jum dan mama. Aku telah menggunakan dapurnya tanpa jejak sedikit pun. Aku hanya menjalankan nasehat mama. Mama pernah bilang kalau membantu teman adalah perbuatan yang terpuji. Jadi maaf kalau aku menggunakan dapur mama untuk membantu Haris. Begitulah kira-kira alasan yang kusiapkan kalau-kalau mama mencium sisa-sisa aroma cokelat di dapur.


*****






Note : Boleh di share dengan mencantumkan nama penulisnya




[1] Cetakan berbentuk hati yang besar
[2] Cetakan berbentuk hati kecil-kecil
[3] Resep diambil di: de-phiet-coklutz.blogspot.co.id/2013/05/big-love-coklut.html
[4] Sebentar dong
[5] Salah satu toko brownies yang terkenal
[6] Mandi cepat-cepat

Sunday, March 24, 2019

Bab 2 Novel Passion in Sop Buah


Dua
Andai Aku Menjadi Kontestan MasterChef Indonesia




Kami sarapan dalam diam. Mama menyantap sarapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sesekali dia mengaduk-aduk tehnya. Sementara aku tidak terlalu berselera menyantap makananku. Soup bola-bola daging dan perkedel yang dimasakkan mama tidak berhasil menggungah nafsu makanku. Sesekali kalau tidak sedang lelah,  mama memang memasak dan menyiapkan sendiri sarapan buat kami. Mbak Jum membantunya sesuai instruksi mama. Bukan karena soup mama tidak menarik tetapi hatiku masih dongkol dengan sikapnya yang belum juga mau mengalah padaku. Hal seperti ini biasa terjadi sejak kami sering berantem karena keinginanku pindah ke SMK jurusan boga. Setelah berantem biasanya kami malas menyapa. Baik aku maupun mama enggan bicara lebih dulu. Namun kondisi ini pasti tidak berlangsung lama. Mama tidak pernah absen menelponku sepulang sekolah dan menyuruhku langsung pulang bila tidak ada jadwal kursus melukis atau kegiatan ekstra kurikuler. Walaupun aku beberapa kali tidak mematuhi perintahnya, terutama sejak uang jajanku dipangkas, mama masih belum bosan mengomeliku di telepon. Bukan salahku bila aku lebih memilih nongkrong di rumah Roni, sahabatku sejak di sekolah TK itu, daripada pulang cepat dan tidak ada yang menarik untuk kulakukan di rumah. Salah mama juga sih, kenapa dia melarangku belajar memasak di dapurnya.
“Mama dan Andre ini kenapa, berantem lagi?” tanya Papa memecah kebisuan di antara kami.
Mama melengos sebentar kemudian kembali asyik dengan sendok garpunya.
“Tanya saja sama anak kesayangan Papa itu,” jawab mama sebelum memasukkan potongan perkedel ke mulutnya.
“Kenapa lagi Ndre?”
Aku tidak menyahut. Papa geleng-geleng kepala, meletakkan garpunya, dan mengambil cangkir tehnya.
“Soal sekolah lagi?”
“Iya Pa. Mama sih, tidak mau mengerti keinginan Andre,” jawabku.
“Lha kamu punya keinginan kok aneh-aneh. Mbok ya difikir masak-masak. Apa bagusnya cita-cita menjadi chef? Apa nggak ada cita-cita lain yang lebih keren?” sahut mama yang bikin telingaku merah.
“Kenapa sih Pa, mama begitu menginginkan Andre jadi arsitek?” tanyaku pada Papa tanpa memedulikan omongan mama.
“Kok tanya Papa. Tanya sendiri sama orangnya. Mungkin mantan pacar Mama dulu seorang arsitek,” jawab papa bercanda.
“Papa ini asal saja kalau bicara. Anak Papa itu sok dewasa, seolah-olah berhak menentukan masa depannya sendiri. Padahal masak juga belum bisa.”
“Makanya itu Andre ingin pindah ke sekolah jurusan boga Ma, supaya Andre bisa belajar memasak lebih banyak,” sahutku nggak mau kalah.
“Sudah-sudah. Pagi-pagi ibu dan anak sudah ribut. Seperti Tom and Jerry saja,” goda papa.
“Idih Papa. Nggak lucu ah!” jawab mama lalu meneruskan suap demi suap sarapannya.
Aku menghabiskan sendok terakhir sarapanku, menutup sarapanku dengan seiris puding susu, dan kemudian beranjak ke kamar mengambil tas. Tidak ada gunanya melanjutkan pertengkaran dengan mama. Meskipun papa bersikap sedikit lebih demokratis terhadap masalah ini, aku tidak bisa mengandalkan dukungannya. Papa juga belum sepenuhnya menyetujui keinginanku pindah ke SMK jurusan boga.
“Andre berangkat Pa,” pamitku.
“Hati-hati, jangan ngebut. Masih cukup waktu untuk ke sekolah,” pesan Papa.
Jarak antara rumah dan sekolahku tidak begitu jauh, kurang lebih lima belas menit ditempuh dengan sepeda motor.
“Ma Andre berangkat.”
“Ya, belajar baik-baik!” jawab mama garing.
Aku berangkat paling awal. Mama berangkat ke kantor bareng papa jam tujuh lebih nanti. Papa mengantar mama dulu baru berangkat ke kantornya di daerah Jenggolo.  Pulangnya mama dijemput tukang ojek langganan karena papa sering pulang telat.
Matahari mulai memancarkan sinar hangatnya. Jalanan sudah ramai meskipun belum terlalu padat. Semakin lama lalu lintas di kota Sidoarjo semakin padat saja. Beberapa Polantas memarkir sepeda motor mereka di pinggir jalan lalu mengambil posisi agak ke tengah jalan. Mereka bersiap-siap mengatur lalu lintas untuk mencegah kemacetan di jam-jam sibuk sebentar lagi. Aku memacu gas sepeda motorku sedikit lebih kencang. Motorku melaju, meliuk-liuk di antara kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalan raya pagi ini.  
Sepuluh menit kemudian, aku tiba di depan pintu gerbang sekolah. Kulihat Haris dan Nanang, teman sekelasku, baru saja memarkir motor. Mereka menungguku dan kami berjalan beriringan menuju kelas.
“Ndre hari ini nggak ulangan Matematika kan?” tanya Haris begitu aku mendekat.
“Nggak ada pemberitahuan. Mudah-mudahan pak Sholihin tidak mengadakan ulangan harian mendadak.”
“Iya nih. Soalnya semalam aku nggak belajar, ngantar mamaku ke dokter sampai malam. Pulang dari dokter sudah ngantuk berat.”
“Sakit apa mamamu Ris?” tanyaku prihatin.
“Demam, batuk, pilek, sudah 3 hari ini.”
“Coba makan soup ayam yang agak panas-panas. Soup ayam bisa jadi obat flu yang alami loh,” saranku.
“Mantap…kawanku yang satu ini memang tidak pernah jauh dari makanan,” seloroh Nanang.
“Serius. Menurut penelitian, senyawa yang ada dalam soup ayam, yaitu carnosine, mampu membantu sistem kekebalan tubuh untuk melawan flu tahap awal. Sebagian ahli THT juga menyatakan bahwa cairan panas membantu meningkatkan pergerakan lendir hidung yang selanjutnya membersihkan saluran udara dan mengurangi kemacetan. Itu menurut artikel-artikel yang kubaca di internet lo.”
“Sudah kok Ndre. Tadi pagi mama masak soup ayam, dokternya juga menyarankan begitu.”
“Siplah kalau begitu. Mudah-mudahan mamamu cepat sembuh.”
“Amiin, thanks Ndre.”
Beberapa teman masih bergerombol di depan kelas. Pelajaran baru dimulai sepuluh menit lagi. Aku langsung menghampiri Iyan yang sedang meraut pensilnya.
“Halo Ron,” sapaku.
“Hai Ndre,” balasnya dengan senyum lebar.
Suasana kelas menjadi riuh ketika Kiki, Nabila, Erni, dan Lilis, teman-teman perempuanku yang periang, masuk kelas. Sebagian teman lain masih ada yang sibuk mengutak-atik gadgetnya. Aku segera mengeluarkan buku diktat dan catatanku. Minggu sebelumnya Pak Sholihin menyampaikan bahwa beliau akan melanjutkan pembahasan tentang bilangan berpangkat di jam pertama pagi ini. Masih ada waktu untuk membuka-buka bab ini lagi sebelum guruku yang terkenal super tegas itu datang. Pangkat bulat positif, pangkat bulat negatif, dan pangkat nol, belum kumengerti sepenuhnya. Seperti Haris, semalam aku juga tidak belajar karena suasana hati yang tidak enak. Kususuri deretan angka berpangkat dan kucoba memahami lagi konsepnya satu per satu.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Selamat pagi, Anak-anak,” sapa Pak Sholihin begitu masuk ke kelas lima menit kemudian.
“Waalaikum salam. Selamat pagi, Pak,” jawab kami.
Setelah Nanang memimpin doa, pak Sholihin memulai pelajaran.
“Hari ini kita mengulas kembali bilangan berpangkat, latihan soal-soal, dan melanjutkan pembahasan ke bilangan akar. Ada yang masih ingat konsep-konsep bilangan berpangkat yang dibahas minggu lalu?”
Aku tidak berani menjawab karena tidak begitu yakin dengan ingatanku tentang bahasan minggu lalu. Hanna mengangkat tangan. Dia hampir tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan guru. Selain cerdas, Hanna juga rajin berlatih mengerjakan soal-soal Matematika. Di tangannya selalu ada buku-buku bank soal, baik Matematika, Fisika, Kimia atau kadang-kadang bahasa Inggris. Dia berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain. Cantik, tidak banyak bicara, juga tidak banyak tingkah. Beberapa temanku tergila-gila padanya, termasuk Haris walaupun Hanna menanggapinya biasa-biasa saja.
“Konsep-konsep perkalian bilangan berpangkat sebagai berikut. Dalam operasi perkalian, jika bilangan pokoknya sama, maka pangkat dijumlahkan. Dalam operasi pembagian jika bilangan pokoknya sama, maka pangkatnya dikurangkan dan semua bilangan jika dipangkatkan nol maka hasilnya adalah satu.”
“Ya betul sekali Hanna. Yang lain sudah siap mengerjakan latihan soal?” Tanya Pak Sholihin tiba-tiba.
“Tidak Pak...!” jawab kami serempak.
“Siswa jaman sekarang, baru mendengar kata latihan soal saja sudah ketakutan. Jangan dibiasakan seperti ini anak-anak. Setiap hari kalian harus siap menghadapi soal. Ini Matematika. Tidak ada jalan lain untuk menguasai Matematika selain latihan mengerjakan soal. Mengerti?”
“Mengerti Pak!”
Pak Sholihin yang tiap kali mengajar selalu memakai kopyah itu membagi papan tulis menjadi dua bagian. Bagian kiri diisi tiga soal operasi perkalian dan bagian kanan tiga soal operasi pembagian bilangan berpangkat. Beberapa siswa ditunjuk maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal itu. Tiga siswa laki-laki termasuk aku dan tiga perempuan maju bergantian. Untung aku menyimak jawaban Hanna tadi sehingga satu soal Pak Sholihin bisa kukerjakan.
Setelah jam pelajaran Matematika usai, Pak Didik, guru Biologi kami masuk. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang keanekaragaman hayati. Lima belas menit pertama aku masih menyimak penjelasannya dengan baik. Namun lima belas menit berikutnya ketika memasuki bahasan tentang keanekaragaman gen tumbuhan dan hewan, aku mulai bosan. Rasa malas perlahan-lahan menyerangku. Aku berharap bel istirahat segera berbunyi. Aku bukan tidak suka mata pelajaran Biologi, tetapi bahasan tentang keanekaragaman hayati tidak menarik bagiku. Bahasan yang paling kusukai dalam Biologi adalah rantai makanan dan sistem pencernaan makanan. Tentu saja karena keduanya berhubungan dengan makanan. Seorang calon Chef harus memahami sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia. Chef tidak boleh hanya pintar memasak saja, dia juga harus mengerti bagaimana makanan yang dimasaknya dicerna tubuh. Selain malas, kantuk juga menyergapku. Aku menguap tanpa sengaja dan cepat-cepat menutup mulutku.
Tiba-tiba anganku melayang pada acara MasterChef Indonesia yang tidak pernah kulewatkan tayangannya. Kubayangkan diriku menjadi salah satu kontestan dalam ajang pencarian bakat memasak itu. Alangkah bangganya bila aku memakai apron[1] berlogo MasterChef dan memasak di galeri MasterChef bersama kontestan-kontestan lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Akankah aku mampu menyelesaikan tantangan demi tantangan yang diberikan oleh para Chef Master? Berapa kali pressure test harus kujalani jika aku melakukan kesalahan? Aku tersenyum-senyum sendiri. Kurasa aku telah meninggalkan ruangan kelasku. Suara Pak Didik yang menjelaskan gen dan spesies tumbuhan sambil menunjuk-nunjuk gambar di papan tulis tidak kudengar lagi. Tak kudengar pula suara teman-temanku yang sesekali mengajukan pertanyaan pada Pak Didik. Anganku benar-benar telah pindah ke galeri MasterChef Indonesia, tempat para kontestan bersaing untuk menyelesaikan tantangan mereka. Di sana tiga chef master sedang berdiri di depan para kontestan MasterChef Indonesia season...season berapa ya? Aku menghitung. Sekarang usiaku 16 tahun. Peserta MasterChef Indonesia minimal usianya 18 tahun. Berarti dua tahun lagi aku baru bisa mendaftar. Mungkin MasterChef Indonesia season 5 atau 6. Aku tidak peduli, season berapa pun yang penting aku menjadi kontestan yang memasak dan ditonton oleh jutaan orang Indonesia.  Hei, para Chef Master-nya masih sama, Chef Degan, Chef Marinka, dan Chef Arnold.
Chef Marinka sedang menjelaskan bahwa untuk tantangan kali ini kami diharuskan memasak bahan utama yang ada dalam mistery box di depan kami. Aku dan dua puluh sembilan kontestan lainnya penasaran terhadap isi mistery box itu. Rupanya aku lolos seleksi dan berhasil masuk ke deretan top thirty calon MasterChef Indonesia berikutnya. Chef Marinka membuka mistery box itu. Wow, organ-organ dalam sapi, otak, limpa, dan paru. Aku bergidik, kurang suka dengan jerohon sapi. Aku belum pernah masak jerohan sapi sebelumnya. Kalaupun memasak sapi, aku lebih suka memilih daging has dalam yang kujadikan rendang, dendeng, atau daging bumbu lapis. Namun aku harus tetap semangat. Chef tidak boleh memilih-milih bahan makanan. Chef harus bisa memasak bahan makanan apa saja. Akhirnya Chef Degan membagi tiga jenis jerohan sapi itu pada kontestan. Sepuluh kontestan mendapat otak, termasuk aku, sepuluh lainnya mendapatkan limpa, dan sepuluh kontestan terakhir mendapatkan paru. Otakku masih blank sampai Chef Arnold menyebutkan hitungan terakhir waktu kami. Mau dimasak apa otak sapi bagianku ini? Satu-satunya masakan otak yang kutahu adalah gulai otak yang biasa dijual di depot-depot masakan Padang. Akhirnya kuputuskan untuk memasak gulai saja daripada menghabiskan banyak waktu untuk berfikir. Aku menyalakan kompor dan mulai menyiapkan bumbu-bumbu gulai. Lima buah cabe merah keriting, 5 siung bawang merah, 2 cm kunyit, 1 cm jahe, 1 cm lengkuas, 1 batang serai, 1 lembar daun kunyit, sepotong asam kandis, 1 lembar daun jeruk purut, dan 375 ml santan kukira cukup untuk memasak 200 gram otak sapi ini. Jantungku mulai berdebar ketika memasukkan otak ke dalam panci. Sejenak aku bimbang, berapa lama akan kurebus otak itu? Naluriku mengatakan agar aku tidak terlalu lama merebusnya supaya otaknya tidak lembek. Sebentar saja, sekedar untuk membersihkan kulit ari dan urat-urat darahnya. Chef Arnold mendekatiku.
“Andre, kamu kebagian otak. Mau kamu masak apa?”
“Gulai otak ala Padang Chef,” jawabku percaya diri.
“Oke. Hati-hati mengambil otaknya dari panci.”
“Baik Chef!”
Aku mengangkat otak dari panci dan meniriskannya. Ketika aku sedang asyik mengupas bawang, kudengar suara langkah mendekat.
“Andre!”
Suara yang memanggilku itu membuyarkan konsentrasi memasakku. Suara laki-laki tapi bukan suara Chef Arnold atau Chef Degan. Bukan pula suara salah satu kontestan di gallery memasak. Astaga! Aku ingat suara itu. Itu suara Pak Didik, guru biologiku yang berkumis tebal. Dan sekarang ia sudah berada di dekatku. Oh, My God! Aku seperti terlempar kembali ke kelasku.
“Dari tadi kamu tidak menyimak penjelasan Bapak. Apa yang kamu lamunkan?” tanya Pak Didik.
“A...a...anu, Pak...” jawabku gugup.
Tidak marah saja Pak Didik sudah terlihat sangar karena posturnya yang tinggi besar dan kumisnya yang tebal, apalagi kalau sedang marah seperti ini. Aku pasti tidak akan lolos dari hukuman.
“Jadi kalau merasa sudah pintar tidak mau mendengarkan penjelasan Bapak?” tanyanya lagi.
“Bu...bu...kan begitu Pak,” jawabku masih gugup.
Mata pak Didik terus memandangiku. Aku menundukkan muka.
“Kalau memang tidak suka dengan pelajaran Bapak, lebih baik kamu keluar saja! Tidak usah masuk kelas daripada mengganggu yang lain.”
Aku diam saja. Pak Didik kembali ke depan, menuju meja guru. Dia mengambil selembar surat pengantar yang ada di meja dan menuliskan sesuatu.
“Kemari kamu!” perintahnya.
Aku beranjak mendekati mejanya.
“Temui guru BP lalu ke perpustakaan buat rangkuman tentang keanekaragaman hayati. Buat beberapa soal dan jawab sendiri. Ingat kamu tidak boleh istirahat hari ini. Kerjakan sebelum jam pelajaran Bapak selesai. Mengerti kamu?”
“Baa...ik, Pak.”
Aku menerima surat pengantar yang diberikan Pak Didik lalu melangkah gontai menuju kantor guru untuk menemui guru BP. Pak Didik tidak hanya merampas waktu istirahatku dengan memberikan tugas merangkum ini tetapi beliau juga mengacaukan lamunan indahku sebagai kontestan MasterChef Indonesia. Semoga guru BP tidak menitipkan surat untuk kedua orangtuaku karena mama dan papa pasti marah kalau sampai mendapatkan surat dari sekolah karena kesalahanku ini.


*****

Note: Boleh di-share dengan mencantumkan nama penulisnya

[1] Celemek

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...