google-site-verification=bWr7Me5lyyLJP0BTe_GRMQ4EM9YDyrulVwPkuRHzlPU Tulisan Heni Kurniawati: Bab 3 Novel Menggapai Impian, Merengkuh Cinta (MIMC)

Sunday, March 3, 2019

Bab 3 Novel Menggapai Impian, Merengkuh Cinta (MIMC)


3
Pertemuan di In Blue Café


Hari ini adalah hari terakhir Naila bekerja di Ichiban Japanese Restaurant. Kemarin Naila sudah menghadap Ibu Ririn dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Tidak seperti perusahaan-perusahaan besar yang mengharuskan pengunduran diri pegawai diajukan sebulan sebelumnya, pengunduran diri Naila langsung efektif keesokan harinya. Selain karena sedang tidak ada reservasi, jika kekurangan pelayan untuk sementara waktu pemilik restoran bisa mempekerjakan siswa-siswa program Diploma dari sekolah perhotelan atau pariwisata. Ibu Ririn terkejut saat Naila mengajukan surat pengunduran diri dan dengan berat hati menyetujuinya. Naila adalah pegawai yang memiliki dedikasi tinggi. Ia tidak pernah absen kecuali sedang sakit atau ada keperluan mendadak, tidak pernah terlambat, dan selalu menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya dengan baik. Naila tidak akan pulang sebelum memastikan bahwa teman-temannya sudah siap menggantikan tugasnya di awal pergantian shift meskipun ia sedang diburu waktu untuk kuliah. Naila pun merasa berat meninggalkan teman-temannya di sini. Dua tahun lebih hubungan kekerabatan mereka terbina. Naila, teman-temannya sesama pelayan, para koki, satpam, hingga pegawai kebersihan, sudah seperti saudara. Kebanyakan pegawai di restoran ini bukan asli orang Surabaya. Ada yang dari Mojokerto, Malang, Kediri, Sidoarjo, Kertosono, Tulungagung, dan Nganjuk. Mungkin karena sama-sama jauh dari keluarga, mereka jadi sangat akrab dan menyayangi satu sama lain. Jika maag Naila kambuh, ada saja temannya yang mengantarkan bubur, roti, atau puding ke rumah kosnya sehingga Naila tidak perlu keluar mencari makanan. Teman-temannya juga cerewet mengingatkan Naila untuk tidak melewatkan sarapan paginya meskipun ia sering tidak menghiraukannya. Tetapi Naila menginginkan perubahan dalam hidupnya. Ia harus berusaha untuk selangkah lebih maju mendekati impian-impiannya. Toh ia masih bisa datang ke restoran ini atau mengunjungi asrama, tempat mereka tinggal.
Restoran sedang sepi pengunjung. Hanya dua meja yang terisi, meja 8 dan 13. Tidak biasanya teman-teman Naila berkumpul di lantai 2, termasuk Ibu Ririn. Hanya ada Lisil di meja kasir dan Naila yang stand by di ruang utama restoran. Satu jam lagi jam kerja Naila berakhir. Ia melayani keperluan tamu-tamunya sepenuh hati. Naila tesenyum ramah saat seorang tamu memintanya mengambilkan sepiring fillet daging sapi dan daun gingseng dari display Shabu-shabu dan Yakiniku. Satu per satu teman-temannya yang bekerja untuk shift 2 datang. Mereka datang lebih awal dari biasanya. Naila tidak begitu memikirkannya. Ia mengedarkan pandang ke seluruh ruang restoran seolah berusaha merekam setiap detil kenangannya di tempat ini dalam memorinya. Dua tahun lalu ia datang ke restoran ini sebagai gadis desa yang masih lugu dengan pakaian hitam putih dan rambut dikuncir ekor kuda. Pegawai-pegawai restoran ini menyambutnya hangat. Lalu dengan sabar pelayan yang lebih senior mengajarinya memegang sumpit, melipat napkin, menset-up meja, hingga mengenalkannya pada nama sayur-sayuran dan menu display. Sekarang ia lebih berpengetahuan dan moderen. Apalagi setelah kuliah, cakrawala pengetahuannya bertambah luas. Naila tersenyum mengingat semua itu hingga tak menyadari kehadiran Maria di dekatnya.
“Naila, dipanggil Bu Ririn di atas.”
“Aku? Ada apa?”
“Sudah, naik aja.”
Gadis hitam manis berambut keriting itu hanya mengerlingkan mata dan memberi isyarat agar Naila naik ke lantai 2.
Di ruang makan karyawan lantai 2, teman-temannya sudah berkumpul menunggu Naila. Mereka mengelilingi sebuah meja panjang yang dipenuhi masakan dan jajanan tradisional. Rupanya dari tadi mereka menyiapkan acara perpisahan untuk Naila sehingga ia dibiarkan berdua saja dengan Lisil di lantai bawah. Naila terharu atas perhatian yang diberikan teman-temannya.
“Nah, Naila, kami di sini hanya bisa mendoakan yang terbaik buatmu. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik di tempat kerjamu yang baru dan tercapai semua keinginan dan cita-citamu,” kata Ibu Ririn dalam sambutan singkatnya.
“Kami semua juga minta maaf kalau selama ini ada kesalahan yang tanpa sengaja kami lakukan pada kamu, La” Pak Mulyono menimpali.
Naila menyalami mereka satu per satu. Di akhir acara, teman-temannya menyerahkan bingkisan sebagai kenang-kenangan berisi foto mereka bersama dalam sebuah bingkai yang indah. Kemudian acara ditutup dengan doa dan makan bersama. Satu jam terakhir Naila di restoran ini terasa sangat mengesankan.

*****

Yuli dan pacarnya, Adi, yang juga teman sekelas Naila di kampus, sedang duduk-duduk di beranda rumah kosnya ketika Naila datang. Mereka baru tiba dari mencari rumah kos baru untuk Naila dan Yuli di daerah sekitar kampus. Naila bergabung dengan mereka dan mengeluarkan bungkusan kue yang ia bawa dari restoran.

“Dapat rumah kosnya, Yul?” tanya Naila. 
“Dapat, aku sudah pegang kuncinya,” jawab Yuli sambil mencomot satu nagasari[1].
“Oh, ya, di mana?”
“Pumpungan IV/18, lumayan tempatnya. Aku ambil dua kamar jadi bisa agak lapang, kita nggak perlu senggol-senggolan lagi kalau tidur.”
Naila hanya tersenyum.
“Kamar kita sebelahan, dua kamar paling pojok di lantai 2. Lantai 2 ada 3 kamar, lantai 1 ada 7 kamar. Tapi kamar mandinya di bawah, ada dapurnya juga kalau kita mau masak. Suka, nggak?”
“Aku sih terserah kamu saja, Yul. Yang penting nggak terlalu banyak orang supaya bisa tenang belajar.”
“Iya, makanya aku langsung ambil. Pas banget di atas cuma 3 kamar, jadi nggak begitu ramai.”
“Besok, biar aku dan Yuli yang ngurus pindahan. Kebetulan besok aku libur, kamu terima beres saja,” kata Adi.
“Eh, jangan, Di. Pindahnya Minggu saja, biar aku dan Yuli. Nggak enak ngrepotin kamu.”
“Belagak kamu, La. Masa aku biarkan bidadari-bidadari cantik ini pindahan sendiri? Di mana harga diriku sebagai lelaki?”
“Ha…ha…ha, iso ae[2] kamu, Di. Pindahan saja pakai harga diri segala.”
“Nggak apa-apa, La, lagian besok juga dibantu sopir Pick-up yang kita sewa kok,” Yuli menimpali. 
“Bener, nggak merepotkan nih?”
“Nggak, kok, La. Aku senang bisa bantu kalian.”
Thanks ya.”
“Eh, makan Yuk! Lapar, nih, dari jam 3 tadi muter-muter[3] belum makan,” ajak Adi.
“Kalian saja deh yang makan. Aku barusan makan di restoran.”
“Ceile, yang punya restoran!”
For the last time, Friend, dinikmati mumpung masih bisa makan di restoran,” jawab Naila sambil tertawa.

Lima menit kemudian sepeda motor Adi di-starter. Naila menutup pagar dan membalas lambaian tangan Yuli. Yuli gadis yang baik. Tutur katanya lembut, santun, dan suka menolong. Ia tidak pernah berfikir dua kali untuk membantu teman yang sedang membutuhkan pertolongannya. Sifat tulus tanpa pamrih inilah yang disukai Naila dari gadis berparas ayu ini. Mereka pertama kali bertemu di salah satu agenda OSPEK[4], saat sedang sama-sama diplonco sebagai mahasiswi baru di Unitomo. Saat itu mereka diperintahkan untuk meminta tanda tangan Kajur Sastra Inggris. Di depan ruang Kajur, tanpa sengaja Naila menginjak kaki kiri Yuli. Meskipun sedikit kesakitan, Yuli tersenyum dan memaafkan ketidaksengajaan Naila. Sejak itulah persahabatan mereka dimulai. Yuli, yang saat itu belum mendapatkan rumah kos, menerima tawaran Naila untuk menjadi teman sekamarnya di rumah kos Naila di daerah Gubeng, dekat dengan restoran tempatnya bekerja. Ia pun ikut masuk ke kelas sore bersama Naila walaupun Yuli tidak bekerja pagi harinya.
Belakangan baru Naila tahu kalau Yuli adalah seorang penulis lepas yang biasa mengirimkan cerpen-cerpennya ke majalah anak. Ia sempat membaca beberapa cerpen Yuli yang dimuat di majalah Mentari, majalah anak yang cukup populer di Surabaya. Kepada Naila, Yuli mengatakan kalau selain ingin menjadi pegawai negeri sipil seperti ayah dan ibunya di Madiun, suatu hari ia ingin menjadi penulis. Ia ingin menulis buku cerita untuk anak, yang berisi pengetahuan dan pelajaran moral, supaya anak-anak Indonesia memiliki bacaan yang mendidik. Ia prihatin dengan komik-komik asing yang beredar di negara kita sekarang ini, yang umumnya tidak bagus untuk perkembangan moral dan pendidikan anak. Untuk itulah ia masuk ke jurusan Sastra. Naila kagum pada pribadi dan kepeduliannya terhadap masa depan anak-anak di masa mendatang, di tengah gempuran arus teknologi yang menimbulkan banyak pengaruh negatif pada generasi muda bangsa ini. Selanjutnya, Naila banyak belajar tentang pola kalimat, pemilihan kata, sinonim, dan kaidah gramatikal bahasa Indonesia yang benar pada Yuli. Teknik merangkai kata menjadi kalimat yang secara gramatikal benar, mudah dipahami, dan enak dibaca belum sepenuhnya ia kuasai. Yuli juga mengajarkan kapan pemilihan kosa kata formal dan kosa kata yang santai tapi mengalir serta mudah dipahami lebih tepat digunakan dalam tulisan atau naskah terjemahan, sesuai dengan konteksnya.
Naila beruntung bisa sekamar kos dengan seorang penulis yang cerdas, kreatif, dan berhati lembut seperti Yuli. Mereka saling mengisi dan melengkapi, memberi dan menerima. Jika seorang mengalami kesulitan, yang lain akan langsung membantu tanpa diminta, baik untuk urusan kuliah maupun kehidupan sehari-hari. Naila merasakan arti persahabatan yang sesungguhnya bersama Yuli. Sekarang saat ia akan pindah kos di dekat kampus dan tempat kerjanya yang baru, Yuli juga ikut serta dan dengan senang hati mengurus kepindahan mereka. Pacarnya pun ikut membantu. Naila bersyukur. Walaupun ia tidak punya saudara di kota ini, ia hidup di antara sahabat-sahabat yang baik dan peduli padanya.
Naila menengadahkan wajahnya, sekilas memandang bulan yang menyembul malu-malu di antara ribuan kerlip bintang di langit Gubeng malam ini. Ia menikmati cahayanya sebentar sebelum bergegas masuk untuk mengemasi barang-barangnya.

*****

Kamis pagi, 1 November, hari kerja pertama Naila di The House of Languages. Erick memperkenalkan Naila pada seluruh penghuni kantor, pada Mas Udin yang sebenarnya sudah ia kenal di kampus, Fatma, Rifki, Mas Anang, dan Indra Anugerah, pegawai baru Mitra Bersama Computer. Naila dan Indra disambut hangat di kantor ini, seperti dua orang anggota baru dalam sebuah keluarga. Naila terkesan dengan cara mereka berinteraksi yang lebih seperti teman akrab, mitra kerja yang saling membutuhkan, dan sama sekali tidak menunjukkan kesan hubungan antara bawahan dengan atasan. Erick bahkan menekankan agar ia hanya memanggil namanya saja, tanpa embel-embel “Pak”, “Bapak”, “Bang”, “Kak”, atau “Mas.” Ini sulit dilakukan Naila. Terasa riskan memanggil atasan hanya dengan namanya saja. Bagi orang Jawa seperti dirinya, menghormati orang yang lebih tua merupakan suatu keharusan, meskipun hanya ditunjukkan dengan panggilan Mas, Mbak, Bapak, atau Ibu. Namun demikian, Naila menghargai usaha Erick untuk menghidupkan suasana kerja yang santai, nyaman, tapi serius di kantor ini tanpa harus terpaku pada formalitas perusahaan yang kaku.
Naila duduk di sebelah Mas Udin. Ia hanya berdua saja dengan Mas Udin di lantai 3 ini. Lima menit lalu Erick baru saja keluar untuk menemui seorang klien. Dari Mas Udin, Naila tahu kalau Erick sering keluar kantor untuk presentasi dan memasarkan jasa terjemahan mereka. Erick baru kembali ke kantor setelah makan siang. Kadang-kadang ia kembali jam 3 sore. Di lantai 2, Rifki sedang mengajar kursus privat bahasa Inggris untuk beberapa siswa SMA. Di lantai 1 Mas Anang dan Indra sibuk membongkar pasang komputer dan melayani penjualan sparepart. Suasana kantor yang sibuk dan padat aktivitas. Di samping Naila ada sebuah rak buku dari rotan berisi beraneka macam kamus, mulai dari kamus akuntansi, manajemen, teknik, seni rupa, hukum, psikologi, sinonim-antonim, kamus slang Amerika, bahkan kamus kedokteran. Ada juga kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia karangan John M. Echols dan Hassan Shadily terbitan Gramedia. Tak ketinggalan, kamus tebal English-English, Oxford Advanced Learner’s Dictionary seperti miliknya juga ia lihat di rak itu. Ia juga menemukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan buku Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Naila ingat, saat menjelaskan job description kepadanya Erick mengatakan bahwa jasa terjemahan yang diberikan perusahaan ini tidak menggunakan software apa pun, termasuk Transtool dan Trados. Benar-benar murni pekerjaan penerjemahnya. Erick juga mengatakan kalau kualitas dan pemenuhan deadline harus dijadikan prioritas utama. Tidak heran jika Erick menyediakan kamus-kamus ini sebagai alat bantu bagi penerjemah-penerjemahnya.
Naila menyalakan komputer, lalu memasukkan user name dan password yang diberikan Erick sebelum ia berangkat tadi. Naskah pertama yang harus diterjemahkan Naila dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris adalah company profile sebuah perusahaan rokok. Naskah ini menguraikan sejarah berdirinya perusahaan dan gedung perkantoran bersejarah di Jalan Darmo Surabaya.
“Naila, file terjemahannya nanti selain disimpan di Local Disc (C:) komputermu, kamu copy juga ke server Translation (D:), folder Erick/Indonesia-Inggris. Nanti sebelum dicetak akan diperiksa dulu sama Erick. Setelah ditandatangani Erick, baru dikirim ke klien,” kata Mas Udin.
“Baik, Mas.”
“Perhatikan juga penamaan file-nya, lihat contoh-contoh yang sudah ada di folder itu.”
“Oke.”
“Oh, ya, satu lagi. Erick orangnya sangat teliti. Dia sama sekali tidak mentolerir kesalahan ketik. Lebih baik dibaca lagi dan usahakan terjemahan yang kita setorkan sudah sebaik mungkin dan bebas kesalahan ketik maupun EYD agar tidak memberatkan kerja Erick.”
“Ya, Mas.”
Sebentar kemudian, Naila sudah asyik dengan pekerjaannya. Matanya bergantian melihat naskah terjemahan dan kalimat-kalimat yang telah ia ketik di monitor HP Compaq LE1711 komputernya. Sesekali tangannya mengklik aplikasi kamus yang sudah di-install di hard disc atau membuka kamus teknik yang ada di mejanya. Bila menemukan kata-kata sulit yang tidak ia temukan artinya di kamus, tanpa ragu Naila bertanya pada Mas Udin. Dengan senang hati kakak tingkatnya itu memberitahukannya pada Naila. Naila sudah pernah bertemu dengan Mas Udin beberapa kali di forum bedah buku yang diadakan oleh UKM[5] Sahabat Pustaka di kampus. Rupanya selain aktif dalam kegiatan di Sahabat Pustaka, teater, dan fotografi, Mas Udin juga seorang penerjemah. Di dekat Mas Udin yang pintar dan aktif, Naila jadi sadar kalau banyak yang belum ia bisa. Masih banyak yang harus ia pelajari dan lakukan. Naila menyukai pekerjaan barunya ini. Menerjemah tidak semata-mata bekerja, tetapi juga belajar. Dengan naskah yang ia terjemahkan, berarti ia juga membaca ilmu pengetahuan, memperoleh informasi, dan memperkaya kosa kata bahasa Inggrisnya.
Naila masih merasa seperti bermimpi. Dalam hati kecilnya, ia belum juga percaya kalau sekarang ia sudah menjadi orang kantoran yang sedang menerjemahkan naskah bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Ia mengetik dengan komputer, tidak lagi memegang lap piring, tidak pula sedang melipat napkin atau melayani keperluan tamu-tamu di restoran. Dalam hatinya, Naila berjanji akan mengerjakan pekerjaannya sebaik-baiknya.

*****

Bapak Slamet Hidayat, dosen mata kuliah Integrated English I, sedang menyampaikan pengantar reading tentang Keluarga McCartney. Pada jam pelajaran pertama ini, Naila dan teman-temannya belajar tentang describing people with phrases and clauses, mendeskripsikan orang dari ciri-ciri fisiknya dengan menggunakan frasa dan anak kalimat. Naila duduk di kursi paling depan di samping Yuli. Adi duduk di deretan belakang karena ia datang terlambat. Rata-rata mahasiswa kelas sore adalah karyawan perusahaan sehingga datang terlambat sudah menjadi pemandangan umum setiap hari. Dosen memaklumi kondisi ini. Asalkan jumlah kehadiran tidak kurang dari 75 persen, mahasiswa diperbolehkan mengikuti ujian meskipun mereka sering terlambat masuk kelas.
Pak Slamet menginstruksikan mahasiswa untuk membentuk kelompok kecil dan mendiskusikan deskripsi masing-masing anggota keluarga McCartney. Naila segera menggeser tempat duduknya, membentuk lingkaran dengan Yuli, Jannah, Ari, dan Agung. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 mahasiswa. Selesai diskusi satu mahasiswa akan ditunjuk sebagai perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Dilihatnya Adi, Taufik, dan Pram, bergabung dengan Titin dan Kikib. Anggota kelompok yang tidak pernah berubah komposisinya di setiap forum diskusi kelas. Mereka menjadi rival utama Naila dan kelompoknya setiap ada presentasi karena Adi dan gangnya selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menjatuhkan kubu Naila. Selalu ada saja pertanyaan yang membuat dahi Naila dan teman-temannya berkerut jika mereka tidak mempersiapkan materi dengan baik. Meskipun mereka berteman baik, di kelas setiap mahasiswa adalah saingan. Masing-masing berlomba untuk menjadi yang terbaik. Inilah yang disukai Naila dari mahasiswa kelas sore. Semua mahasiswa belajar lebih serius karena mereka sudah bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri. Bisa dipastikan bahwa kelas selalu hidup dan aktif. Naila punya akal. Ia menunjuk Yuli untuk maju ke depan mewakili kelompoknya, supaya Adi tidak mengerjai mereka dengan pertanyaan-pertanyaan jahilnya.
Yuli maju ke depan kelas membawa gambar keluarga McCartney di buku diktat Integrated English I. 
Good evening, Friends. On this occasion, I would like to describe a member of the McCartneys, Linda McCartney. She is a beautiful young lady who is wearing beautiful red gown in the picture. Linda McCartney who has a long nose and blonde hair is the wife of Paul McCartney.
Can I ask you a question?” Taufik menginterupsi.
Yes, sure,” jawab Yuli.
Oh, My God! Naila sudah tahu apa yang akan diprotes Taufik. Yuli salah menyebutkan istilah hidung mancung dengan long nose, bukan pointed nose. Kesalahan Yuli ini bisa dipastikan akan menjadi senjata bagi Taufik untuk mengejeknya habis-habisan di depan kelas.
Is Linda McCartney a Pinochio who has a long nose?”
Muka Yuli merah. Kelas menjadi sangat ramai dengan perdebatan dan diskusi mahasiwa yang diselingi tawa mengejek dari anggota kelompok lawan.
Yuli segera meralat deskripsinya.
Sorry, Linda McCartney who has a pointed nose and blonde hair is the wife of Paul McCartney.”
Dari ujung matanya, Naila melirik Adi yang hanya diam. Mungkin ia tak sampai hati melihat pacarnya dikerjai Taufik. Coba kalau Naila yang maju, Adi pasti habis-habisan mengerjainya.
Pada jam pelajaran ke-2, dosen MKDU[6] Ilmu Sosial Dasar tidak datang. Seorang asisten dosen memberikan tugas untuk membuat makalah tentang isu sosial di Surabaya yang harus dikumpulkan minggu depan. Naila melangkahkan kaki ke gedung perpustakaan, mencari referensi untuk mengerjakan tugas itu. Yuli, Adi, dan beberapa teman masih mengobrol di depan kelas. Naila melirik arlojinya, belum genap jam delapan malam. Ia bergegas mengembalikan buku Common Errors in English yang dipinjamnya seminggu lalu dan mencari referensinya di rak Ilmu-ilmu Sosial. Setelah menemukan yang ia cari, Naila kembali ke petugas dan bergegas keluar dari perpustakaan. Badannya terasa lelah, mungkin karena semalam ia tidur terlambat karena mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa Yuli pindah rumah kos pagi tadi. Naila ingin segera sampai ke rumah kos barunya dan merebahkan badan. Tetapi perutnya terasa lapar. Naila ingat tadi sore ia belum sempat makan, pulang kerja langsung sholat dan masuk kelas.
Naila melihat-lihat deretan warung makan di sepanjang Jalan Semolowaru. Bermacam-macam makanan dijual di warung-warung kaki lima itu, ayam, bebek, dan lele penyet, soto ayam Lamongan, pecel Kediri, mie/nasi goreng, dan lain-lain. Naila sama sekali tak berminat. Perutnya lapar tapi ia sedang tidak tertarik dengan makanan yang berat-berat. Roti bakar atau kentang goreng saja cukup untuknya. Ia menyeberang jalan dan masuk ke In Blue café, kafe kecil di sebelah kanan kampus STIE Perbanas. Naila sering lewat di depan kafe ini, tetapi belum pernah makan di sini. Meski lebih tepat disebut kedai daripada kafe, tempat makan yang dindingnya didominasi warna biru ini menarik perhatian pengunjung. Tempatnya nyaman. Lampu penerangan sengaja dibuat redup sehingga terkesan romantis. Musik yang diputar tidak hanya lagu-lagu baru yang masuk dalam deretan Top Forty, tetapi juga lagu-lagu pop lama yang lembut dan romantis. Menu-menunya ringan tapi nikmat. Harganya pun terjangkau oleh kocek mahasiswa. Kafe ini menjadi pilihan mahasiswa yang ingin menuntaskan rasa lapar atau hanya sekedar hang-out bersama teman-teman satu gang. Duduk di kursi kayu, merasakan semilirnya angin malam dari ruangan yang terbuka sambil melihat-lihat karya fotografi yang ditempel di dinding-dinding kafe, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung kafe ini. Rupanya In Blue Cafe dikelola bersama-sama oleh beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unitomo yang hobi fotografi. Karena itulah kafe ini juga difungsikan sebagai ruang pamer hasil karya mereka.
Naila sedang mencari tempat duduk kosong ketika pandangannya beradu dengan pandangan dari sepasang mata yang sepertinya ia kenal. Pemilik sepasang mata di bawah dua garis alis yang hampir bertaut itu spontan melambaikan tangan ke arahnya.
“Naila, gabung yuk!”
Naila terdiam sesaat. Di meja tak jauh dari tempatnya berdiri, Erick dan tiga orang temannya sedang bersantai menikmati sisa minuman mereka. Dan sekarang ia berjalan mendekatinya.
“Sendiriankah?”
Naila mengangguk.
“Yuk, gabung sama teman-teman aku saja.”
Erick menggandeng tangannya dan membawanya ke mejanya. Naila gelagapan, tidak menyangka kalau Erick, bos barunya di kantor, memperlakukannya sangat akrab seolah mereka telah lama kenal.
“Kenalkan, ini Naila, teman aku di kantor.”
Dalam hati Naila bertanya, Erick menganggapnya teman, bukan pegawainya?
“Halo Mbak, Teddy,” seorang pria hitam manis berpostur tinggi mengulurkan tangannya.
“Naila.”
“Ini Arief dan ini Fathur. Semuanya teman kos aku.”
“Hai,” Naila tersenyum pada mereka.
Erick memundurkan satu kursi yang masih kosong di sampingnya dan mempersilahkan Naila duduk.
“Mau pesan apa?”
“Emmm,...boleh kentang goreng saja sama jus melon.”
Erick memanggil pelayan kafe.
“Minta kentang goreng satu, jus melon satu, dan tahu isi daging satu.”
Sepuluh menit kemudian pesanan makanan datang. Teman-teman Erick berdiri, hendak meninggalkan mereka.
Bro[7], kita duluan ya,” kata Teddy pada Erick.
“Loh, kok pada pergi?”
“Iya, nggak enak ganggu” sahut Arief sambil mengerling ke arah Erick.
“Nggak kok, Mbak. Kita sudah kenyang, sudah dari tadi di sini,” Fathur menjelaskan.
Naila kikuk karena ditinggalkan berdua saja dengan Erick. Ia tak ingin salah tingkah di dekat Erick. Ia memainkan sedotan di gelas jus melonnya yang tinggal setengah. Naila berusaha mengusir debaran-debaran halus namun indah yang mulai bergemuruh di dadanya. 
“Naila rumah kosnya di mana?”
“Dekat sini, Pak, Pumpungan IV nomor 18.”
“Hei, panggil apa tadi? Kan sudah dibilang panggil nama saja.”
“Eh, iya, Pak, …eh Kak, aduh maaf nggak terbiasa.”
“Panggil Erick saja. Aku juga kos di Pumpungan IV, nomor 44B. Rumah kos kamu masih lurus sikit[8], dekat masjid. Tapi kok tak pernah jumpa kamu ya?”
“Oh, aku baru malam ini kos di situ. Sebelumnya di Gubeng.”
“Kapan pindahnya? Tadi pagi kan kerja?”
“Teman yang ngurus pindahannya, Kak. Aku tinggal masuk.”
“E…Rick,” kata Erick pura-pura marah.
“Maaf, Erick,” jawab Naila malu-malu.
Sebentar kemudian mereka terlibat dalam perbincangan hangat, berusaha saling mengenal satu sama lain. Pembicaraan mengalir begitu saja. Kini mereka sudah tidak segan lagi ber “Aku-Kamu”. Dalam pemikiran Naila, Erick, yang sejak pertama ia lihat sudah membuat hatinya bergetar, adalah pribadi yang menyenangkan. Ia ramah dan mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya, jauh dari kesan cuek atau angkuh. Erick mengambil sepotong kecil tahu dengan garpunya dan mengarahkannya ke mulut Naila.
“Cobain ini, enak bener rasanya.”
Sekali lagi Naila terkejut karena Erick memperlakukannya seperti itu. Ia baru dua kali bertemu dengannya. Pertama saat wawancara kerja, kedua saat ia masuk kantor tadi pagi. Namun sikap Erick sudah sok dekat dengan Naila. Naila tidak bisa lagi membedakan perasaan riskan dan senang karena diperlakukan Erick seperti itu. Sebelum ia berfikir lebih panjang, hati kecilnya berbisik dan menyuruhnya menerima sepotong tahu yang disuapkan Erick. Naila pun tidak menolak saat Erick mengantarnya pulang. Bukan karena rumah kos mereka satu arah tetapi berdekatan dengan Erick membuat hatinya berbunga-bunga.

*****






[1] Kue tradisional dari tepung beras yang di tengahnya diisi pisang, dibungkus daun pisang, dan dikukus.

[2] Bisa saja

[3] Keliling-keliling

[4]                               Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

[5]               Unit Kegiatan Mahasiswa

[6]               Mata Kuliah Dasar Keahlian Umum

[7]               Singkatan dari Brother

[8]               Sedikit


Note: Boleh di-share dengan menyertakan nama penulisnya. 

No comments:

Post a Comment

Sungguh, Aku Ini Orang Yang Suka Iri

Setelah menerbitkan novel keduaku, Passion in Sop Buah , November 2017 lalu, aku jarang menulis. Kembali ditelan kesibukan akti...